Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Glazecha

Saya Buruh Migrant tidak neko neko

Dunia Malam Sulastri

REP | 08 December 2012 | 00:08 Dibaca: 2804   Komentar: 0   1

Di kampung yang tidak terlalu sepi di sebuah pemukiman kaum terhormat. Di sebuah gang nampak rumah mungil yang jauh mewah dari rumah sekitarnya. Rumah itu di huni oleh 5 orang terdiri dari 3 anak perempuan yang cantik dan rupawan serta 2 orang adalh orangtua gadis tersebut. Sekilas wajah mereka bukan bukan wajah pasaran, anak dan ibu sama sama cantiknya. setiap siang mereka selalu bersantai di depan rumah mungil mereka, mereka belanja kebutuhan sehari hari juga tidak kalah dengan tetangga sekitarnya yang belakangan ku ketahui sebagi saudara saudara kandungnya. Sulastri  dirumah di perlakukan bak ratu oleh suaminya dan ketiga anak gadisnya. untuk urusan masak dan cuci baju serta pekerjaan lainnya dikerjakan oleh suaminya.

Misteri cinta selalu menyimpan kerumitan, namun cinta menjadikan pelakunya berbunga bunga, menjadikan seseorang rela berkorban demi insan yng dicintainya, bahkan untuk bunuh diri atau menjual kehormatan bukanlah syarat yang berat. Namun jika cinta itu telah bersatu dalam ikatan yang suci alangkah sahdunya jika suka duka itu dijalani bersama hingga batas kemampuan masing masing. Senantiasa menjaga kehormatan pasangan, mencintai menyayangi sepenuh hati, yakinkan pada diri sendiri jika dia hanya “MILIKKU” begitu juga sebaliknya. Aku untukkmu dan engkau untukku sekalipun dalam agama tertentu poligami di bolehkan alangkah baiknya menghindari “serakah”.

Kehidupan Sulastri memiliki warna yang unik, greget, unlogik, dan menguras air mata. Bagaimana mungkin seorang suami yang tega menjual istrinya di pangkalan ojek ataupun tempat pelacuran jika malam tiba?. Bagaimana mungkin bisa 3 orang anak kandung yang tega menikmati jerih payah ibunya dari menjual diri sementara mereka sudah layak mencari pekerjaan untuk biaya hidup?. tidakkh mereka tahu melahirkan anak di dunia ini bersemayam sejuta harapan untuk masa depan yang bahagia. Apakah hati mereka tak merasa iba dan malu atas profesi ibunya, padahal konon di usia tua Sulastri sudah sulit untuk mendapatkan duit banyak.

Saya sedih  ternyata masih banyak orang yang belum bisa mencintai IBUnya. Saya sedih Masih banyak orang yang mencintai gaya hidup “NGANGGUR”. Saya sedih banyak orang yang takut melangkah mengembangkan diri di dunia luar. Saya sedih masih banyak orang muda muda perkasa bergantung pada orang tuanya untuk sesuap nasi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Inilah 3 Pemenang Blog Movement “Aksi …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 10:12


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 11 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 19 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 21 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


Subscribe and Follow Kompasiana: