Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Glazecha

Saya Buruh Migrant tidak neko neko

Dunia Malam Sulastri

REP | 08 December 2012 | 00:08 Dibaca: 2793   Komentar: 0   1

Di kampung yang tidak terlalu sepi di sebuah pemukiman kaum terhormat. Di sebuah gang nampak rumah mungil yang jauh mewah dari rumah sekitarnya. Rumah itu di huni oleh 5 orang terdiri dari 3 anak perempuan yang cantik dan rupawan serta 2 orang adalh orangtua gadis tersebut. Sekilas wajah mereka bukan bukan wajah pasaran, anak dan ibu sama sama cantiknya. setiap siang mereka selalu bersantai di depan rumah mungil mereka, mereka belanja kebutuhan sehari hari juga tidak kalah dengan tetangga sekitarnya yang belakangan ku ketahui sebagi saudara saudara kandungnya. Sulastri  dirumah di perlakukan bak ratu oleh suaminya dan ketiga anak gadisnya. untuk urusan masak dan cuci baju serta pekerjaan lainnya dikerjakan oleh suaminya.

Misteri cinta selalu menyimpan kerumitan, namun cinta menjadikan pelakunya berbunga bunga, menjadikan seseorang rela berkorban demi insan yng dicintainya, bahkan untuk bunuh diri atau menjual kehormatan bukanlah syarat yang berat. Namun jika cinta itu telah bersatu dalam ikatan yang suci alangkah sahdunya jika suka duka itu dijalani bersama hingga batas kemampuan masing masing. Senantiasa menjaga kehormatan pasangan, mencintai menyayangi sepenuh hati, yakinkan pada diri sendiri jika dia hanya “MILIKKU” begitu juga sebaliknya. Aku untukkmu dan engkau untukku sekalipun dalam agama tertentu poligami di bolehkan alangkah baiknya menghindari “serakah”.

Kehidupan Sulastri memiliki warna yang unik, greget, unlogik, dan menguras air mata. Bagaimana mungkin seorang suami yang tega menjual istrinya di pangkalan ojek ataupun tempat pelacuran jika malam tiba?. Bagaimana mungkin bisa 3 orang anak kandung yang tega menikmati jerih payah ibunya dari menjual diri sementara mereka sudah layak mencari pekerjaan untuk biaya hidup?. tidakkh mereka tahu melahirkan anak di dunia ini bersemayam sejuta harapan untuk masa depan yang bahagia. Apakah hati mereka tak merasa iba dan malu atas profesi ibunya, padahal konon di usia tua Sulastri sudah sulit untuk mendapatkan duit banyak.

Saya sedih¬† ternyata masih banyak orang yang belum bisa mencintai IBUnya. Saya sedih Masih banyak orang yang mencintai gaya hidup “NGANGGUR”. Saya sedih banyak orang yang takut melangkah mengembangkan diri di dunia luar. Saya sedih masih banyak orang muda muda perkasa bergantung pada orang tuanya untuk sesuap nasi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: