Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Iswekke

Membaca dengan bertualang untuk belajar mencintai Indonesia...

Doraemon: Komik yang Menginspirasi

REP | 25 October 2012 | 23:39 Dibaca: 7479   Komentar: 0   0

13511831092075593498

Doraemon

Ketika saya masih di sekolah menengah atas (Sekolah kami menggunakan seistem asrama. ) ada seorang adik kelas yang gendut dan pendek. Suka membeli komik Doraemon. Akhirnya saya panggil dia Doraemon sekaligus saya selalu pinjam komik Doraemon yang terbaru setelah dia usai membaca. Akhirnya saya termasuk salah satu penyuka komik. Walaupun gratisan, hanya pinjam komik sang adik kelas.

Setelah bisa membeli sendiri setammat dari sma, saya mulai membaca komik Doraemon yang saya beli sendiri. Beberapa edisi yang awal, saya cari di penjual komik bekas. Kebiasaan meminjam komik kepada adik kelas tersebut membuat saya menyukai komik-komik Jepang. tetapi hanya Doaremon yang saya koleksi. Beberapa hal yang membuat saya suka Doraemon antara lain, pertama bernilai pesan-pesan pendidikan. Tokoh utama komik tersebut Doraemon dan Nobita. Sifat asli Nobita selalu ingin jalan pintas dengan meminta bantuan Doraemon. Kucing yang justru takut pada tikus, Doraemon selalu saja berhasil dikelabui Nobita. Walaupun kadang-kadang Doraemon harus mengalami kesusahan akibat ulah Nobita. Pelajaran dari sini adalah bahwa tidak ada eberhasilan yang bisa didapatkan dalam waktu singkat. Apalagi di dunia ini tidak ada pintu kemana saja seperti yang dimiliki Doraemon untuk memenuhi hasrat bepergian Nobita. Demikian pula kantong Doraemon yang bisa mengeluarkan benda apa saja yang ajaib dan bisa menyelesaikan masalah.

Awalnya Doraemon ini adalah robot ajaib. Tetapi karena produksi yang gagal, maka dijual ke keluarga miskin. Suatu hari, telinga Doraemon digigit tikus. Kemudian dia salah mengambil cairan penumbuh. Tidak saja mengakibatkan tidak tumbuhnya telinga tersebut kembali, tetapi juga membuat warna Doraemon menjadi biru yang sebelumnya berwarna kuning. Sekaligus ini menjadi alasan ketakutan Doraemon kepada tikus. Walaupun Doraemon ini robot canggih tetapi memiliki kasih sayang dan perasaan. Dua sifat inilah yang sering dimanfaatkan Nobita. Ketika Nobita merengek dan menangis maka biasanya Doaremon akan terpedaya dengan mengeluarkan benda-benda ajaib dari kantongnya. Seringkali Nobita kemudian pamer dan menyalahgunakan benda-benda tersebut. Atapun juga sering dirampas oleh Giant.

13511831561849346261

Doraemon dan Nobita

Tokoh Nobita inilah yang menjadi pusat cerita. Kehadiran Doraemon juga tidak lepas dari kisah Nobita yang memerlukan penjaga. Di saat Doraemon harus menjalani perbaikan di masa depan, maka ada Dorami yang siap menggantikan tugasnya menjaga Nobita. Sosok Nobita ini adalah tidak punya cita-cita tetap. Selau berganti-ganti. Bahkan cendeurng malas jika dibandingkan dengan Shizuka, teman kelasnya. Selain tidak bisa berolahraga, kadang Nobita punya hobbi yang aneh, seperti memelihara binatang walaupun tanpa seizin ibunya. Antara lain hewan yang pernah dipelihara Nobita seperti anjing, gajah Afrika, dan kucing. Seringkali sifat teledor yang membuat Nobita harus mengalami kesulitan.

Ayah Nobita, Nobisuke dan ibunya Tamako adalah pasangan yang sennatiasa perhatian terhadap anaknya. Termasuk juga kepada Doraemon. Ayah Nobita bekerja sebagai pegawai kantoran dan selalu membelikan Nobita ensiklopdei. Walaupun pada akhirnya tidak juga dibaca Nobita. Pelajaran lain dari komik ini yang saya selalu ingat adalah keharmonisan rumah tangga. Sekeras apapun perjalan hidup tetapi kalau sudah kembali ke rumah, maka dengan bertemu keluarga akan selalu saja masalah itu menjadi ada kerabat buat berbagi. Ini yang menjadi gambaran ideal keluarga. Walaupun komik-komik Jepang lebih banyak yang fiksi atau mungkin semuanya fiksi tetapi ada saja pelajaran yang bisa diambil. Ketika saya mengunjungi Jepang, saya lihat orang dewasapun selalu membaca komik. Sebelum naik kereta mereka membeli komik lalu setelah selesai dibuang ke tempat sampah. Seperti membaca koran saja.

Komik Jepang sudah menjadi industri tersendiri. Bukan saja di Jepang tetapi diterjemahkan ke berbagai bahasa. Bahkan Doraemon juga sudah difilemkan. Sebelumnya juga ada serial acara TV yang berjudul sama dengan komiknya. Waktu itu tayang di RCTI. Tetapi secara pribadi saya lebih suka membaca komiknya. Bukan menonton acara TV atau filmya. Dengan membaca justru imaninasi akan lebih “liar”.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 11 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 15 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 16 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 19 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: