Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Sigit Priyadi

Padang rumput hijau, sepi, bersih, sapi merumput, segar, windmill, tubuh basah oleh keringat.

Gambar-gambar Hasil Imajinasi Anak-anak

REP | 18 August 2011 | 07:01 Dibaca: 5305   Komentar: 3   2

1313649238759662804

Anak-anak berkonsentrasi mewarnai.

Warna-warna yang dicoretkan oleh anak-anak terlihat menyala menghiasi gambar-gambar polos yang tersaji di hadapannya. Anak-anak yang termasuk dalam kategori PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan Taman Kanak-kanak tampak mencoret-coret gambar dengan gerakan kasar penuh tenaga. Gambar ikan ‘Kerapu’ yang tengah berenang itu akhirnya tersisi oleh coretan warna-warna primer: Merah, Kuning, dan Biru dengan garis-garis spontan, memotong  garis bentuk ‘obyek gambar’, menciptakan kesan dinamis pada sosok ikan yang memberikan kesan seolah-olah sedang berenang di dasar lautan  yang paling dalam.

Untuk tingkatan Sekolah Dasar kelas 1 sampai dengan kelas 3, mulai tampak kecenderungan mengolah beberapa warna menjadi sebuah ‘gradasi warna’ yang memberikan kesan bentuk ‘massa tiga dimensi’ atau ‘bayangan efek cahaya’. Anak saya yang berumur 8 tahun terlihat mulai mempraktekkan pemberian warna dengan cara ‘gradasi’.

Meskipun semakin ‘pandai’, namun keberanian untuk mengisi ruang-ruang kosong dengan bentuk hasil kreasi sendiri masih belum terlihat. Mungkin alasannya karena ketentuan dalam mewarnai hanya dibolehkan untuk mengisi ruang-ruang kosong yang dibatasi garis. Bahkan Ica, anak saya, sempat mewanti-wanti saya yang mendapat tugas menyiapkan gambar-gambar untuk lomba, agar:

  1. Obyek  yang digambar, garis gambarnya tidak tidak terputus.
  2. Obyek yang digambar, garis gambarnya hanya satu garis yang jelas. Tidak berupa garis-garis yang bertumpuk.
1313649388208400116

Ekspresi Anak.

Saya bisa memaklumi atas wanti-wanti yang disampaikan anak saya tersebut. Masalah yang dihadapi anak-anak dengan ‘garis terputus’ dan ‘garis bertumpuk’, adalah: bingung untuk memilih ‘batas garis yang jelas’ dan ‘untuk menentuan batas area bidang yang akan diberi warna’.

Untuk tingkatan anak-anak kelas 4 sampai dengan kelas 6, para peserta lomba yang sebagian besar berkelamin laki-laki, suasananya terlihat santai. Mereka lebih hati-hati dalam memberi warna. Kesan dinamis pada obyek gambar yang saya buat seperti gambar komik yang dilengkapi dengan tanda symbol ‘obyek bergerak’  seakan-akan tidak bisa dipahami maksudnya. Warna-warna yang diterapkan tidak diolah dengan teknik gradasi seperti yang dilakukan oleh adik-adiknya yang kelas 1, 2, dan 3 (yang mayoritas berkelamin perempuan).

Begitulah kesan yang saya peroleh dari hasil mengamati karya-karya anak-anak dalam lomba mewarnai gambar di wilayah permukiman saya, dalam rangka merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, hari Minggu yang lalu.

Apapun hasilnya, semua karya anak-anak tersebut tidak dapat dinilai bagus atau buruk berdasarkan tampilan visual menurut penilaian juri yang terdiri dari orang-orang tua. Anak-anak memiliki imajinasi dan cara pandang tersendiri yang selayaknya harus kita hormati sepenuhnya. Biarkan mereka bebas menyalurkan ‘aktivitas seninya’, berikan mereka kesempatan untuk mengekspresikan keinginan dan harapannya. Orang tua wajib menyalurkan keinginan anak-anak tersebut dengan menyediakan sarana dan kesempatan waktu untuk mewujudkannya.

1313649530117520253

Warna ikan Kerapu dalam imajinasi salah satu peserta TK.

13136497101548334969

Pangeran Diponegara dimata anak kelas 1 s/d 3 SD.

1313650261156694221

Kera putih Hanuman dalam imajinasi anak kelas 4 s/d 6 SD.

Namun diantara kebahagiaan dalam acara tersebut, saya juga melihat ketidakberuntungan beberapa anak yang tidak ikut serta dalam lomba. Anak-anak dari wilayah RT tetangga, yang tidak diperbolehkan ikut serta dalam lomba di wilayah RT tempat saya berada, terlihat hanya menonton saja. Mungkin dalam perasaannya mereka menggugat: “Kenapa saya tidak bisa ikut terlibat dalam  acara lomba ini?”. “Mengapa para orang tua di wilayahku tidak ada yang berinisiatif melakukan hal seperti ini?”.  Saya dapat merasakan kesedihan yang menggumpal dalam perasaan anak-anak tersebut. Janganlah karena alasan puasa, lalu keinginan anak-anak untuk mengekspresikan kegembiraannya dalam perayaan 17-an setahun sekali lantas diabaikan.

18 Agustus 2011.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 9 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 11 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 13 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: