Back to Kompasiana
Artikel

Unik

Alia Noor Anoviar Via

Saya merupakan staff penerbitan di BOE FE-UI, sebelumnya saya aktif dalam Ekstrakuler Jurnalistik di SMA selengkapnya

Sosok Lelaki Sempurna : Saat Kesempurnaan Diukur dari Sudut Pandang Berbeda

OPINI | 29 July 2010 | 07:39 Dibaca: 262   Komentar: 5   2

Biasanya sosok lelaki maupun wanita sempurna digambarkan dengan paras yang rupawan, pakaian mewah, tas bermerek internasional, elegan, dan sebagainya. Dan percaya atau tidak itu sebenarnya hanya ada di sinetron karena tidak ada manusia yang tercipta tanpa kekurangan atau tanpa kelebihan. Memang selama ini sosok-sosok yang seperti itu membuat banyak orang terobsesi untuk menjadi sempurna versi sinetron, tapi dalam tulisan ini saya akan mencoba menampilkan sosok ‘sempurna’ lainnya. Seseorang yang sempurna bukan karena kekayaannya tetapi karena hidup sederhananya, seseorang yang bisa dibilang tak pernah memakai baju mahal tetapi selalu terlihat ‘elegan’ diberbagai kesempatan, dan juga bukan orang yang suka mengoleksi barang barang mahal bermerek internasional.

Saya akan menceritakan masa kecilnya. Ayahnya adalah seorang penjudi dan orangtuanya berdagang sebagai penjual daging sapi di sebuah desa di Jawa Timur. Dia bukan anak yang pintar, sekitar dua kali tidak naik kelas, tetapi bukan karena bodoh. Hal itu terjadi karena dia harus membantu orangtuanya bekerja. Dia dalah anak ketiga dari tujuh bersaudara, satu-satunya anak lelaki dalam keluarga tersebut. Sampai akhirnya dia menyelesaikan masa STM Pertanian di Solo. Dia diberi makan sebagai imbalan menjahit dan membantu empu-nya rumah. Meskipun sebenarnya empu-nya rumah baik dan tidak menyuruhnya melakukan semua itu, tetapi kesadaran karena menumpang menjadikannya berbuat semua dengan ikhlas.

Tak lama kemudian, dia diterima sebagai sales di sebuah perusahaan swasta. Dia pun menjadi sosok dewasa yang matang, meskipun hanya sebagai sales yang seringkali dipandang sebelah mata oleh banyak pihak. Dari hasil kerjanya, dia bisa membeli beberapa petak tanah. Dia pun akhirnya dijodohkan dengan seorang gadis. Bukan karena cinta, tetapi untuk menebus hutang judi ayahnya. Entah apa dia pernah melakukan sesuatu yang benar-benar membuatnya bahagia. Tapi sekali lagi atas nama keikhlasan, dia benar-benar mencintai gadis itu dan mendeklarasikan bahwa gadis itu adalah cinta pertama baginya. Gadis itu memang cantik, seorang kembang desa, penari di beberapa pentas, dan pintar dengan IQ 125.

Setelah gadis itu menyelesaikan semester satu di sebuah universitas di Solo, mereka pun menikah. Lelaki itu menikah dengan si gadis dengan satu permintaan kepada Ayahnya untuk tidak berjudi lagi. Hidup mereka pun bisa dibilang tidak mulus, bayangkan saja sesuatu yang tidak didasari dengan cinta harus menjadi satu dalam altar pernikahan. Penderitaan lelaki itu tak berhenti, dan sekali lagi dengan dalih keikhlasan, dia menanggung kuliah beberapa adiknya di tk universitas, dia juga menyekolahkan gadis yang kini telah berstatus sebagai istrinya, dan dia pun pernah membayar hutang saudara iparnya yang terkena kasus penggelapan uang. Pulang dan pergi ke kantor dengan bergelayut di bus agar tidak membayar, itulah pengorbanan seorang kakak, suami, dan saudara.

Pernikahan mereka tak juga diberkahi anak. Tiga tahun setelah pernikahan, sang istri keguguran. Keluarga pun mulai bersuara, memerintahkan lelaki itu menceraikan istrinya. Tetapi dengan tegas dia menolah, “Dulu kalian menyuruh saya menikahinya, sekarang kalian menyuruh saya menceraikannya. Tetapi kali ini saya tidak akan mengikuti apa mau kalian.” Kata orang, rejeki tidak akan kemana, setahun kemudian sang istri hamil kembali lalu melahirnkan seorang bayi perempuan di Surabaya. Bayi itu pun di sayang-sayang, dijadikan anak emas. Bayi yang putih, suci, dan bersih telah hadir untuk mengagalkan rencana busuk dari pihak lelaki.

Mereka pun menuju sebuah kota bernama Jember, bayi itu dibawa kesana. Ternyata si lelaki belum memiliki rumah, jadilah mereka bertiga tinggal di kantor. Dua hari kemudian, seseorang menawarkan rumah dan mereka membelinya dengan cicilan. Sungguh sebuah perjuangan yang mengesankan… Ternyata bayi mungil itu tidak dalam keadaan sehat, sampai berusia dua tahun dia harus menjalani pengobatan rutin di spesialis dokter anak. Suatu saat lelaki yang kini bisa disebut dengan Bapak, merasa iba dengan bayinya, dia pun tidak memberikan obat. Tak disangka, perbuatannya itu mengakibatkan balita-nya harus mengulang pengobatan dari awal. Perbuatan yang dilandasi kasih sayang ternyata tak selamanya benar.

Penyakit menahun judi yang akut pada Ayah si lelaki kembali terulang, kali ini dalam angka puluhan juta. Sebagai hormat seorang anak pada Ayahnya, dia mengambil uang perusahaan untuk membayar hutang tersebut. Dia pun nyaris dipenjara, tetapi karena dedikasinya selama ini, perusahaan membiarkannya untuk mencicil penggelapan itu. Sang istri mulai gelisah melihat tingkah laku suaminya. Baik memang, tapi menurutnya tidak pernah berpikir tentang keluarga. Lambat laun, satu per satu harta terkuras. Bukan untuk sesuatu yang menghasilkan, tetapi untuk menalangi berbagai kepentingan dari keluarga lelaki itu.

Tahun demi tahun berlalu, kini suami – istri tersebut telah memiliki seorang anak perempuan dan laki-laki. Usia mereka 11 tahun dan 9 tahun. Dan kembali sebuah peristiwa tragis terjadi, tiba-tiba lelaki itu terkena sebuah penyakit berbahaya (tak perlu disebutkan apa penyakitnya). Seperti kerubuhan bunga bangkai (maksudnya pertanda jelek T.T), datang surat cerai dari pengadilan. Sang istri akhirnya menyerah, mencoba mengakhiri segalanya. Tetapi si lelaki dengan kekuatan yang tersisa mencoba bertahan, bertahun-tahun atau tepatnya hampir dua tahun kasus itu bergelantungan tak jelas. Lelaki itu, suami yang mengaku masih sangat mencintai istrinya dan tidak ingin melihat anak-anaknya menderita. Atas desakan anak perempuannya akhirnya bapak itu pun menandatangani akta perceraian di depan mata anaknya.

Beberapa bulan selanjutnya terungkap bahwa si istri telah menikah kembali tiga bulan pasca perceraian. Dan pasti anda semua tau artinya??? Percaya atau tidak, masih ada cinta di hati lelaki itu, mantan suami. Dia tetap berusaha mengejar cintanya. Dia tak mengejar cinta yang lain. Dia dibilang BANCI karena tak mau menikah lagi, tetapi dia tak pernah peduli. Dia menunjukkan pengorbanannya sebagai seorang Bapak, merawat dua anaknya hingga tumbuh dewasa. Saat ada seorang tetangga yang menanyakan kenapa dia tidak menikah lagi, sebuah jawaban diplomatis keluar dari mulut seorang sales, “Ibunya saja tidak mau menjaga anak-anaknya, bagaimana dengan ibu tiri mbak? Iya kalau mereka bisa sayang sama anak-anak saya. Nggak wis mbak. Kalau iya, itu ya sama ibunya anak-anak lagi, kalau nggak, nggak sekalian.”

Anak-anak hasil perceraian yang menurut orang adalah anak-anak yang buruk ternyata tidak demikian. Anak perempuannya berprestasi, hingga ke tingkat nasional, sejak SMA bahkan Bapaknya tidak perlu menyediakan biaya sekolah, kuliah semua telah ada yang menanggungnya. Anak lelakinya juga seperti itu, anak yang dengan setia menjaga Bapaknya yang telah tua, dan saat keluar dari SMA setahun lagi, dia pun tidak perlu lagi membebani orangtua dengan biaya. Lalu mana sisi buruk dari mereka sebagai bekas anak keluarga berantakan? Dari sini bisa kita simpulkan bahwa jangan pernah menyamaratakan orang. Bahkan mungkin anak-anak yang hasil broken home itu menjadi buruk karena stigma negatif yang ada selama ini.

Dan dimana si ibu? Dia telah memiliki seorang anak lagi. Tetapi ibu itu telah berubah kini. Dia menyesali perbuatannya. Dia mulai memperhatikan kembali anak-anaknya. Dia menyesal… Sesuatu yang besar kembali terungkap, bila di jaman modern ini kalian masih percaya dan kalaupun kalian tidak percaya hal itu benar-benar terjadi, dia bercerai karena kekuatan gelap, dia pun menikah lagi karena kekuatan setan. Semua yang dilakukannya tanpa kesadaran.

Lelaki sempurna : mantan suami yang masih mencintai mantan istrinya, seorang Bapak yang selama ini siap merangkap sebagai ibu, sekaligus seorang anak yang sangat menyayangi orangtuanya… Dalam satu kesempatan dia kembali mengeluarkan kalimat tak terduga, “Kalau ibunya anak-anak masih mau menerima saya, saya juga akan menerima anaknya sebagai anak saya, kita bisa pergi ke tempat yang jauh. Desa sekalipun… Agar tak seorang pun mencela perbuatannya lagi. Saya mau…”

* Saya bisa menceritakan semua ini dengan detail karena saya sangat dekat dengan beliau. Beliau di mata saya benar-benar sosok lelaki sempurna dari sudut pandang berbeda dengan kesempurnaan yang selama ini didengungkan oleh mereka diluar sana.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 3 jam lalu

(Saatnya) Menghukum Media Penipu …

Wiwid Santoso | 3 jam lalu

Setelah Kalah, Terus Apa? …

Hendra Budiman | 4 jam lalu

Jokowi Raih Suara, Ahok Menang Pilpres …

Syukri Muhammad Syu... | 5 jam lalu

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: