Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Gatot Swandito

Yang kutahu, aku tidak tahu apa-apa

Terpojok, Solmed Tuding BMI Hong Kong Antek Komunis

OPINI | 17 August 2013 | 11:48 Dibaca: 8898   Komentar: 138   39

Lewat akun twiternya, https://twitter.com/SholehMahmoed, Solmed menuding BMI Hong Kong yang mengundangnya merupakan bagian dari gerakan komunis yang hendak mengadu-domba bangsa Indonesia.

Inilah kicauan Ust. Solmed yang ditayangkan pada 15 Agustus 2013:

mulai saat ini saya tidak akan menanggapi lagi debat soal Hongkong,terlalu banyak madhorot. hati2 dengan gerakan adu domba

kita tidak tahu siapa dibalik ” mereka” , berhati-hatilah saudara2 ku,mereka disana tepuk tangan sementara disini kita tepuk jidat

soal hongkong semua sudah saya anggap clear,terserah mereka mau mencaci dan memfitnah saya. hasbunallah wa ni’mal wakiil

anda tahu komunis?tdk tahu dimana mereka berada,kita tdk tahu dlm kedok apa mereka skrng.buat mereka yg penting kita pecah

Lihat saja apa yg mereka lakukan?mereka kirimkan video provokatif kpd masyarakat Indonesia,Tokoh Indonesia,Ustadz Indonesia.biar kita pecah

Rentetan kicauan itu dilontarkan Solmed pasca Khalifah selaku pimpinan majelis Thoriqul Jannah yang mengundangnya ceramah di Hong Kong membeberkan kronologi yang berolak belakang dengan yang disampaikan Solmed sebelumnnya.

Dilihat dari bunyi kiauannya, nampak sekali Solmed bermuka dua, di satu sisi ingin menyudahi perseteruannya, namun di sisi lain ia melemparkan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal. Solmed menuduh Thoriqul Jannah sebagai organisasi berhaluan komunis dengan kedok gerakan keagamaan. yang tengah mengadu domba bangsa Indonesia.

Solmed yang menggelari dirinya ustadz ini seharusnya sadar tudingan komunis yang dialamatkannya itu bisa berdampak buruk bagi korbannya. Stigma komunis bagi bangsa Indonesia lebih kejam ketimbang vonis mati. Melabeli seseorang komunis sama saja menghancurkan kehidupannya beserta keluarganya. Karenanya tudingan Solmed ini harus ditanggapi secara seruis.

Jika dicermati ocehan Solmed itu sama sekali tidak mengandung pembelaan dirinya atas pernyataan Khalifah yang menyebut permintaan-permintaan Solmed yang tidak mungkin dipenuhi.

Khalifah membongkar permintaan-permintaan Solmed ke publik dalam bentuk video yang diunggahnya ke Youtube pada Kamis 15 Agustus 2013.

“Dari awal memang dia tidak minta bayaran tapi seikhlasnya, akhirnya pihak kami panitia sepakat akan memberi HK$ 6000 (hampir 8 juta), kami sepakat di situ. Setelah itu, kita udah deal, setelah semuanya sudah siap dia minta dikabari, setelah ada brosur gedung semua kami coba menghubungi namun ternyata pas dihubungi kembali ada perubahan permintaan dari yang awalnya seihklasnya yakni HK$ 6000 ustad Solmed berubah pikiran dengan menaikkan tarif HK$ 10 Juta dan awalnya dua tiket lalu minta empat tiket pesawat,” beber Khalifah.

Sebelumnya Solmed mengutarakan alasan pembatalan ceramahnya di Hong Kong tersebut karena tidak ingin dakwahnya itu dikomersialisasikan oleh Thoriqul Jannah dengan memunguti dana dari BMI yang bekerja di negara itu.

“Anda bayangkan, kita dakwah ikhlas, tahu-tahu sampai di lokasi, itu jamaah disuruh bayar, saya hitung-hitung itu bisa sampai dapat Rp 150 juta rupiah. Begitu yang kedua kali. Saya bilang ‘catatannya’ saya mau ceramah asal Anda gratisin, Anda nggak usah bayar saya, saya akan dakwah’ ternyata mereka nggak mau. Itu bisnis mereka. Nggak mau saya, saya batalin,” urainya.

Dengan alasan seperti itu tentu saja, Solmed menjadi orang pertama yang melakukan penolakan atas undangan berceramah di Hong Kong, mengingat sebelumnya sudah ada ratusan ustadz/ustadzah yang berceramah dihadapan BMI Hong Kong, dan belum seorang pun, atau tidak seorang pun yang mengungkapkan adanya praktek komersialisasi. Pertanyaannya, kenapa baru Solmed yang melakukannya.

Dihumpunnya uang sejumlah 150 juta dari tiket yang dibeli jamaah pun dengan mudah dibantah. Dengan asumsi harga tiket $ HK 40 (rata-rata harga tiket pengajian di Hong Kong), dan kapasitas gedung 1000 orang, maka penitia mendapatkan $ HK 40.000. Atau sekitar Rp 52.000.000 (dengan asumsi $ HK 1 = Rp. 1.300). Hampir sepertiga dari hitungan Solmed!. Solmed harusnya menghitung berapa pengeluaran yang dibutuhkan untuk mendatangkannya ke Hong Kong, dan berapa besar pengeluaran yang ditanggung sponsor.

Solmed mengatakan penyelanggara tidak perlu membayarnya. Meski tidak dibayar pun Somed mengaku tetap akan datang. Pernyatan ini pun sangat disangkal, menginggat penyelenggara apapun dan di mana pun pastinya akan merasa senang bila pihak yang diundang tidak meminta bayaran, bukannya malah membatalkannya.

Melihat dari lemahnya logika yang diungkapkan Somed, maka ocehannya lewat akun twitter-nya hanyalah bentuk dari kemarahannya sebagai ungkapan rasa malu yang ditanggungnya. Ada dua reaksi seorang yang merasa malu, atau dipermalukan, pertama akan menutup diri dan menjauhkan dirinya dari lingkungan, kedua dengan melampiaskannya dalam bentuk kemarahan. Kemarahan seseorang yang dipermalukan biasanya akan menyasar pihak yang membuatnya malu dengan serangan-serangan membabi buta. Tudingan Solmed kepada Thoriqul Jannah sebagai gerakan komunisme yang tanpa didasari alasan jelas merupakan bukti bila Solmed merasa dipermalukan pasca beredarnya video pengakuan Khalifah di Youtube.

Sebutan sebagai antek komunis kepada Thoriqul Jannah bisa dimaknai merupakan bentuk upaya Solmed untuk mencari dukungan dari elemen-elemen bangsa Indonesia yang anti Komunisme.

Namun, tanpa disadari lewat kicauannya itu, Solmed sendirilah yang sesungguhnya mengadu domba antara Thoriqul Jannah beserta BMI Hong Kong yang menjadi jamaahnya dengan anak bangsa lainnya, terutama yang anti komunis. Tidak hanya, itu alasan pembatalan undangan sebagai bentuk penolakannya terhadap komersialisasi secara tidak langsung telah menuding ulama yang pernah berceramah di Hong kong sebagai puhak yang membiarkan komersialisasi syiar Islam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 7 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 12 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 13 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 15 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Preman …

Bhre | 7 jam lalu

Bercanda, Berfilsafat! …

Wahyudi Kaha | 8 jam lalu

Persipura Punya 5 Kandidat Pelatih Baru …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Hujan …

Gusranil Fitri | 8 jam lalu

Renungan Malam Tahun Baru 1436H: Ketika Doa …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: