Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Darmadi Durianto: “Mari Tanamkan Moral untuk Tidak Korupsi”

REP | 22 July 2013 | 23:25 Dibaca: 373   Komentar: 0   0

13745092021142072021

Darmadi Durianto, SE, MBA, Ph.D, Caleg DPR RI PDI-P No.2 Dapil DKI JKT III (Jakbar, Jakut & Kep.Seribu)

“Saya sependapat jika tindak pidana korupsi itu sudah menjadi budaya di negeri yang kita cintai ini. Karena sudah merupakan ektra ordinary crime, maka penanggulangannya pun harus ektra. Selain tugas lembaga penegak hukum, mari kita tanamkan moral dalam diri kita sendiri untuk tidak korupsi.”

Jakarta - Korupsi merupakan kejahatan luar biasa (ektra ordinary crime). Pasalnya, akibat korupsi semua lini bangsa ini sangat dirugikan. Korupsi menggerogoti sendi-sendi pembangunan bangsa, membuat bangsa bukan saja statis, bahkan mengalami suatu kemunduran yang sangat signifikan. Sehingga terciptanya suatu masyarakat yang adil dan sejahtera sangat jauh dari harapan.

Itulah fakta tak terbantahkan korupsi di Indonesia. Dimana korupsi sudah begitu mengakar dari mulai eksekutif, legislatif, dan yudikatif, bahkan terjadi dikalangan masyarakat sendiri.

Kendati demikian, memberantas korupsi tidaklah semudah seperti membalikan telapak tangan. Tidak hanya sebatas wacana atau jargon-jargon semata demi pencitraan belaka. Antara perilaku dan perbuatan haruslah seiring sejalan. Untuk itu dibutuhkan komitmen yang kuat dari semua komponen bangsa  untuk memberantasnya.

Demikian diungkapkan Darmadi Durianto, SE, MBA, Ph.D, Caleg DPR RI dari PDI-Perjuangan, Nomor urut 2, Dapil DKI Jakarta III, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kep.Seribu.

“Saya sependapat jika tindak pidana korupsi itu sudah menjadi budaya di negeri yang kita cintai ini. Karena sudah merupakan ektra ordinary crime, maka penanggulangannya pun harus ektra. Selain tugas lembaga penegak hukum, mari kita tanamkan moral dalam diri kita sendiri untuk tidak korupsi,” ujar Putra Kalbar yang menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan DPP PDI-Perjuangan ini di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Dosen Program Pasca Sarjana Kwik Kian Gie School Of Business ini, ada 4 (empat) tipe ketika seseorang saat dirinya mendapat amanah atau kepercayaan, baik di eksekutif, legislatif, yudikatif, atau pun lembaga swasta sekalipun.

Pertama, memang karakter dan moralnya sudah bobrok, begitu dirinya mendapat mandat, maka semakin menjadi-jadi. Kedua, awalnya baik, namun karena cara mendapatkan jabatannya melalui money politic (politik uang). Alhasil, ia pun terjerat beban hutang yang menggunung atau istilah populernya, lebih besar pasak daripada tiang. Sehingga dengan berbagai cara, ia pun berusaha mengembalikan uangnya dengan cara korupsi. Ketiga, awalnya dia orang yang bersih, namun karena terpengaruh lingkungan sehingga berubah menjadi pelaku korupsi karena merasa nyaman, bahkan aman. Keempat, dia orang bersih, dan senantiasa berpegang teguh kepada komitmennya untuk tidak terpengaruh hal-hal negatif yang menjerumuskan dirinya. Orang tersebut bisa dikatakan “malaikat” yang sejak dini selalu tertanam dalam dirinya untuk tidak berbuat yang melanggar norma-norma agama, dan berdampak dalam perilakunya di kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Berbekal niat yang tulus untuk mengabdi kepada negeri melalui partai yang berazaskan Pancasila dan bercirikan Kebangsaan, Kerakyatan serta Keadilan Sosial, maka saya mempunyai komitmen pada tahun 2014 untuk maju sebagai calon anggota DPR RI. Saya pun siap untuk menandatangani fakta integritas tidak akan korupsi, bahkan melawannya, bila mendapat kepercayaan rakyat pada Pemilu Legislatif tahun 2014 ,” ucap pria kelahiran Sungai Ambawang, Kabupaten Pontianak, Kalbar 46 tahun lalu yang dikenal tegas, namun bersahaja ini.

Megawati dan KPK

13745100322146221754

Dikatakan Dewan Pakar Megawati Institute ini, terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya, keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dibentuk saat Ketua Umum PDI-Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menjabat sebagai Presiden RI ini, kini telah menjadi lembaga anti korupsi yang begitu ditakuti. Keberadaan lembaga super body ini telah sukses menjadi shock terapi bagi para pelaku korupsi seantero negeri.

“Semuanya sepakat, jika Ibu Megawati telah sukses melahirkan sebuah lembaga pemberantasan korupsi, yakni KPK. Keberadaannya KPK, paling tidak telah membuat seseorang berpikir seribu kali untuk korupsi, terlepas dari dugaan berbagai intrik politik yang banyak dipersepsikan publik,” tandas Dosen Fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya Jakarta ini.

Namun, lanjut Darmadi, yang namanya iblis tetap tak bisa tinggal diam untuk terus mencari cara sehingga bangsa ini kian carut marut. Iblis bisa berada dimana saja dan kapan saja saat ada kesempatan itu datang. “Saya juga sepakat jika memang sudah ada payung hukum untuk menghukum pelaku korupsi yang terbukti secara hukum dengan hukuman maksimal seperti di RRC, yakni hukuman mati. Jika ada payung hukumnya untuk menepis HAM atau faktor lainnya, saya setuju jika koruptor dihukum mati,” tegas pakar pemasaran yang merampungkan MBA nya di Philipina dan Ph.D nya di Amerika Serkat ini.

Terkait persepsi publik yang begitu menyorot tajam parlemen, khususnya di Senayan, sebagai tempat kongkalikong yang syarat praktik-praktik korupsi, terlebih marak oknum yang tertangkap KPK. Darmadi berpendapat, sebaiknya tidak mengeneralisir lembaga DPR RI hanya lantaran ulah segelintir oknumnya yang korup. Sebab, masih banyak wakil rakyat berkomitmen tiggi untuk mengabdi bagi rakyat yang menghantarkan dirinya duduk di Senayan .

“Namun, yang namanya persepsi kita tidak bisa salahkan juga karena zaman sekarang semua bebas untuk bicara terlepas dari benar atau salahnya. Seperti release ICW terkait anggota DPR RI yang tidak layak untuk dipillih karena diragukan komitmennya kepada pemberantasan korupsi. Sikap ICW itu sah-sah saja jika didukung bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, asal jangan menimbulkan fitnah,” ungkap Dewan Pembina Perkumpulan Peduli Rakyat Kalimantan (PERAK) ini.

Komitmen Tidak Korupsi

Lebih lanjut pria yang dikenal ramah, dan santun ini menambahkan, meski dirinya bukan berlatar belakang ilmu hukum, jika dirinya terpilih menjadi wakil rakyat pada tahun 2014 akan senantiasa mendukung penuh para penegak hukum, termasuk KPK untuk terus berupaya memberantas korupsi di negeri ini. Sebagai pribadi, ia akan senantiasa menjunjung tinggi komitmennya untuk tidak korupsi sekecil apapun. Sebab, yang namanya korupsi tolak ukurnnya bukanlah dari nilai. Mencuri ayam dan mencuri mobil, sama-sama mencuri menurut hukum, hanya kesempatannya saja yang berbeda.

“ Ada dua faktor, yakni faktor X dan Y. Faktor X, pada dasarnya mentalnya memang korup, sehingga dibutuhkan pengawasan ekstra untuk mencegahnya dan harus diberikan funisment supaya ada efek jera. Sedangkan faktor Y, pada dasarnya memang bersih, namun karena factor lingkungan jadi berubah. Bagi faktor Y ini, cukup diberikan edukasi pasti takut karena sejak awal memang dirinya bersih,” terangnya.

Dia kembali menegaskan, dirinya maju sebagai Caleg DPR RI dengan nomor urut 2, Dapil Jakarta III, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kep.Seribu, tanpa beban atau kepentingan apa pun. Sebab, selain mendapat tugas dari PDI-Perjuangan yang mempunyai roh kedaulatan rakyat, dirinya bertekad untuk mensejahterakan rakyat melalui parlemen di Senayan.

“Menurut saya suara rakyat itu tidak bisa kita beli dengan uang, sebab uang bukan segala. Politik itu sifatnya sukarela, untuk itu saya menentang keras money politic. Saya bukanlah penabur uang yang bisa dengan sesuka hati membeli apapun yang saya mau, termasuk suara rakyat. Saya maju bukan dengan politik uang, tapi politik ideology. Politics don’t talk about the money, but the talk of volunteers. Sehingga saat terpilih nanti saya tanpa beban, nothing to lose,” pungkasnya. YL

BIOGRAFI

Nama : Darmadi Durianto, SE, MBA, Ph.D

Riwayat Organisasi :

-Wakil Ketua Badan Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan DPP PDIPerjuangan (2009 – 2013)

-Ketua Departemen Hubungan Internasional DPP PDI-Perjuangan (2009 – 2014)

-Dewan Pakar Megawati Institute (2003- 2014)

-Dosen Pasca Sarjana Kwik Kian Gie School Of Business

-Dosen Fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya Jakarta

-Dewan Pembina Perkumpulan Peduli Rakyat Kalimantan (PERAK)

-Pembicara New Marketing Insight PAS FM Radio Bisnis Jakarta

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Soal Pem-bully Jokowi, Patutkah Dibela? …

Sahroha Lumbanraja | | 30 October 2014 | 20:35

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Hanya Kemendagri dan Kemenpu yang Memberi …

Rooy Salamony | | 31 October 2014 | 11:03

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 5 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 9 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Revolusi Mental, Mental Siapa yang Harus …

Kawar Brahmana | 7 jam lalu

Sedia Payung Sebelum Hujan dengan Asuransi …

Khairunisa Maslichu... | 7 jam lalu

Siap-siap Saja 5 atau 10 atau 15 Tahun Lagi …

Mawalu | 7 jam lalu

Kereta Api Indonesia Kian Aman dan Nyaman …

Sugeng Bralink | 7 jam lalu

Upaya Promotif dan Preventif Anak Tiri JKN …

Ninda Putriyanti Pa... | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: