Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Slamet Bowo Santoso

Menyukai tak mesti selamanya memuji, sekali-sekali boleh juga mengkritik. Karena cinta dari hati tanpa perlu selengkapnya

Chavez dan Soekarno Itu Bapak Bangsa

OPINI | 09 March 2013 | 18:01 Dibaca: 955   Komentar: 0   0

1362826578915055304

Presiden Hugo Chavez ketika masih hidupnya Sumber foto: httplouminatti.blogspot.com

Kematian Presiden Venezuela Hugo Chavez Selasa 5 Maret 2013 lalu meninggalkan duka mendalam masyarakat negeri di wilayah Amerika Latin tersebut. Pasalnya, selama ini Chavez dikenal sebagai bapak bangsa, yang berpihak kepada masyarakat miskin dalam menjalankan tugasnya sebagai presiden.

Meskipun dalam memimpin negaranya, Chavez dikenal banyak bertentangan dengan negara- negara besar di dunia khususnya Amerika Serikat (AS). Namun penghormatan rakyat Venezuela tidak pernah luntur, bahkan kematianya bukan hanya ditangisi warga Venezuela, banyak pemimpin dunia turut berduka cita atas kematian tersebut.

Sebelumnya ia merupakan ketua partai politik Gerakan Republik Kelima sejak didirikan tahun 1997 sampai 2007. Partai tersebut bergabung dengan beberapa partai lain dan membentuk Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV) yang ia pimpin sampai meninggal dunia. Karena memiliki paham politik Bolivarianisme dan “sosialisme abad ke-21″, ia fokus menerapkan reformasi sosialis di negara ini sebagai bagian dari proyek sosial bernama Revolusi Bolivarian.

Sepanjang masa kepemimpinannya, ia telah menerapkan konstitusi baru, mendirikan dewan demokrasi partisipasi, menasionalisasi sejumlah industri penting, meningkatkan anggaran kesehatan dan pendidikan, dan mengurangi tingkat kemiskinan secara besar-besaran.

Datang dari keluarga kelas pekerja di Sabaneta, Barinas, Chávez sempat menjadi seorang perwira militer, dan setelah merasa tidak puas dengan sistem politik Venezuela, ia mendirikan organisasi rahasia Revolutionary Bolivarian Movement-200 (MBR-200) pada awal 1980-an yang bertujuan menggulingkan pemerintahan. Chávez memimpin MBR-200 dalam aksi kudeta pemerintahan Presiden Carlos Andrés Pérez dari Partai Aksi Demokrasi pada tahun 1992, sayangnya gagal dan ia dipenjara.

Setelah bebas dari kurungan selama 2 tahun, ia mendirikan partai politik demokrasi sosial bernama Gerakan Republik Kelima. Ia kemudian terpilih sebagai presiden Venezuela tahun 1998. Chávez langsung memperkenalkana konstitusi baru yang menambah hak-hak kaum terpinggirkan dan mengubah struktur pemerintahan Venezuela. Ia terpilih lagi tahun 2000.

Pada masa pemerintahannya yang kedua, ia memperkenalkan sistem Misi Bolivarian, Dewan Komunal, koperasi pekerja, dan program reformasi tanah, sambil menasionalisasikan sejumlah industri penting di Venezuela. Ia terpilih lagi tahun 2006 dengan jumlah suara 60%. Pada 7 Oktober 2012, Chávez memenangkan pemilu presiden untuk keempat kalinya, mengalahkan Henrique Capriles, dan terpilih untuk masa jabatan selama enam tahun.

Chávez bergabung dengan pemerintahan Komunis Fidel dan Raúl Castro di Kuba dan pemerintahan Sosialis Evo Morales di Bolivia, Rafael Correa di Ekuador, dan Daniel Ortega di Nikaragua. Masa pemerintahannya dipandang sebagai bagian dari “gelombang merah jambu” sosialis yang menyapu seluruh Amerika Latin.

Bersama mereka, Chávez menyatakan kebijakan-kebijakannya bersifat anti-imperialis, menjadi musuh utama kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dan pengkritik lantang neoliberalisme dan kapitalisme laissez-faire yang didukung A.S.

Ia mendukung kerja sama Amerika Latin dan Karibia dan memainkan peran penting dalam pendirian Persatuan Bangsa-Bangsa Amerika Selatan, Aliansi Bolivarian untuk Amerika, Bank Selatan, dan jaringan televisi regional TeleSur. Akan tetapi, Chavez memiliki sejumlah permasalahan dengan Kolombia, termasuk dukungannya terhadap pemberontak di Kolombia dan Ekuador. Chávez adalah sosok yang sangat kontroversial baik di dalam maupun luar negeri. Ia semapt mencerca beberapa pemimpin dunia dan membanding-bandingkan presiden Amerika Serikat George W. Bush dengan seekor keledai dan iblis.

1362826757126286018

Sumber foto: mahasiswavoice.wordpress.com

Dari sejarah singkat tersebut, penulis menyimpulkan banyak persamaan antara Presiden Hugo Chaves dan Ir Soekarno Presiden pertama Indonesia. Saat memimpin, Soekarno terkenal memiliki aliran politik yang sangat tegas. Bahkan terhadap dunia barat sekalipun, Soekarno kerap menyampaikan kritik pedas.

Namun, sikap tegas tersebut justru mendapatkan apresiasi di banyak negara. Tidak sedikit negara yang kemudian mengenang jasa Soekarno selama menjadi Presiden karena kedekatanya. Seperti Mesir, Palestina dan masih banyak negara lain. Soekarno juga termasuk presiden yang menolak neoliberalisme yang didengungkan negara barat.

Itu sebabnya, Soekarno sempat menyerukan “Ganyang Malaysia”, karena negeri jiran tersebut berada di bawah kekuasaan Inggris. Hal ini pula yang menyebabkan Malaysia merasa marah hingga kini dengan Soekarno dan pola pikirnya.

Hanya saja, memang banyak hal yang membedakan antara Soekarno dan Hugo Chavez ketika keduanya sama-sama menghadap Allah SWT. Hugo Chavez dipuji layaknya seorang bapak bangsa oleh rakyatnya. Sehingga pemerintah berniat mengawetkan jenazahnya agar bisa dilihat masyarakat setiap saat. Sementara Soekarno yang jelas-jelas menjadi pencetus berdirinya NKRI, justru seperti terabaikan.

Apa yang dilakukan oleh pemerintahan Indonesia tersebut memang sungguh mengherankan, mengingat jasa-jasa Soekarno memang sangat besar. Bahkan untuk urusan mengenang jasanya pun, bangsa ini cenderung mengabaikan. Terbukti, baru pada 2012 nama Soekarno dan Hatta dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Tak cukup di situ, ternyata di Indonesia hingga kini juga belum ada nama jalan yang menggunakan nama Jalan Soekarno maupun Jalan Muhammad Hatta.

Penulis pun tidak bisa menerka, seberapa dalam kebencian rezim Soeharto yang memimpin selama 32 tahun terhadap Soekarno. Mengingat, penulis hanya beberapa tahun bisa merasakan secara langsung kepemimpinan jaman yang kerap disebut orde baru tersebut.

Terlepas dari itu semua, penulis berharap kita semua rakyat Indonesia belajar dari duka mendalam yang sedang dialami warga Venezuela. Bahwa menghormati pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan luar biasa harus dilakukan. Tapi tentu bukan pemimpin yang justru bersikap otoriter dan tidak memiliki ketegasan yang dipuji, karena hanya akan membawa kemunduran bangsa ini. SEMOGA!!!!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: