Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Yustinus Sapto Hardjanto

Pekerja akar rumput, gemar menulis dan mendokumentasikan berbagai peristiwa dengan kamera video. Pembelajar di Universitas selengkapnya

Romo Driyarkara, Ahli Filsafat dari Kedunggubah

OPINI | 03 March 2013 | 10:44 Dibaca: 1543   Komentar: 0   8

Bagi sebagian besar kaum cerdik cendekian nama Driyarkara pasti bukanlah sesuatu yang asing di telinga. Driyarkara adalah nama Sekolah Tinggi Filsafat yang ternama di Jakarta, yang oleh beberapa kelompok tertentu disalahartikan sebagai dipunyai oleh Frans Magnis Suseno, moralis yang dikenal karena menulis buku Etika Jawa. Tapi siapa sesungguhnya Prof. DR. Nicolaus Driyarkara yang namanya dikenang sebagai nama Sekolah Tinggi Filsafat itu tak banyak yang kini mengenalnya.

Saya mengenal nama Driyarkara dari cerita bapak yang adalah mahasiswanya di IKIP Sanata Dharma Yogyakarta. Romo Driyarkara adalah pendiri dan rektor pertama dari IKIP Sanata Dharma yang sekarang sudah berubah menjadi Universitas. Namun bapak tidak pernah menceritakan kalo Romo Driyarkara berasal dari Kedunggubah, desa yang kurang lebih berjarak 8 km di sebelah timur tempat tinggal saya.

Bahwa Romo Driyarkara lahir di Kedunggubah, Purworejo saya dengar dari Romo Paroki St. Perawan Maria Purworejo. Semua itu berawal dari kegemaran saya sewaktu menjadi Misdinar atau Putra Altar. Setelah misa di Gereja Paroki, saya tidak langsung pulang melainkan ikut Romo yang berkunjung ke Stasi. Dan Kedunggubah adalah salah satu stasi kecil dari Gereja Paroki St. Perawan Maria.

Saya suka ikut Romo ke stasi-stasi karena perjalanan ke sana berkendara dengan mobil, rasanya asyik sekali naik mobil yang saat itu belum banyak dimiliki oleh masyarakat. Dengan kendaraan Kijang Kaleng generasi pertama Romo dan saya serta beberapa teman Misdinar lain menyusuri jalan yang sempit dari Purworejo ke arah Kaligesing. Jalan ke Kedunggubah saat itu masih berupa batu-batu, sempit dan ada beberapa tanjakan yang terjal. Kedunggubah memang terletak di barisan pegunungan Menoreh.

Sesampai di Gereja Kecil, ada pemandangan yang menarik. Di depan gereja itu ada patung yang lain dari biasanya. Bukan patung dari salah satu orang-orang kudus yang saya kenal. Saya menyimpan tanya itu. Baru setelah selesai ibadah, saya bertanya pada Romo perihal patung yang ada di depan gereja Stasi Kedunggubah itu. Romo mengatakan kalau itu adalah patung dari Romo Nicolaus Driyarkara SJ yang adalah putra asal Kedunggubah Purworejo. Suprise sekali untuk saya, ternyata orang hebat itu berasal dari tetangga desa saya.

Romo Driyarkara terlahir dengan Soehirman putra dari pasangan bapak-ibu Atmasendjaja dan oleh tetangga serta sanak saudara dipanggil dengan nama Hirman atau Jenthu. Dari catatan-catatan yang saya baca ternyata Hirman menempuh pendidikan sekolah dasarnya di Cangkrep, desa tempat tinggal saya. Maka jangan-jangan SD Induk Cangkrep tempat saya menempuh pendidikan dasar adalah kelanjutan dari sekolah dasar dari Romo Driyarkara dulu. Lalu dari situ Hirman atau Romo Driyarkara menempuh pendidikan di IHS Bruderan Purworejo, yang sekali lagi kalau kemudian benar bahwa IHS Bruderan kemudian berubah menjadi SMP Bruderan Purworejo maka lagi-lagi itu adalah sekolah tempat saya menempuh pelajaran menengah pertama. Tapi ya entahlah karena selama sekolah di SD dan SMP tak ada satupun guru yang menceritakan sejarah itu.

Dari Purworejo, Romo Driyarkara kemudian menempuh pendidikan di Kolese Muntilan dan melanjutkan ke Seminari Yogyakarta lalu ke negeri Belanda untuk mendalami pendidikan theologia. Tanggal 6 Januari 1947, Romo Driyarkara ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Soegijopranoto, uskup pribumi pertama yang memimpin keuskupan Semarang. Tak lama setelah ditahbiskan Romo Driyarkara melanjutkan masa tersiat di Drongen Belgia dan kemudian menempuh pendidikan doktoral dalam bidang filsafat di Universitas Gregoriana Roma. Gelar Doktor dalam bidang filsafat diraih pada tahun 1952 dalam disertasi mengenai Nicolas Malebranche, dengan predikat Magna Cum Laude. Sepulangnya ke Indonesia kemudian mengajar di Kolese Ignatius Yogyakarta dan kemudian ikut mendirikan serta sekaligus menjadi rektor dari IKIP Sanata Darma Yogyakarta.

Melihat perjalanan hidup dari Romo Driyarkara tak ada kesan lain bahwa Romo sangat mencintai dunia pendidikan. Hidupnya didedikasikan untuk membagikan ilmu dan melahirkan tunas-tunas bangsa yang terdidik. Antara tahun 1961 – 1967, Romo Driyarkara tercatat mengabdi sebagai Guru Besar di Universitas Indonesia, Jakarta dan Universitas Hassanudin, Makassar. Di jaman pemerintahan presiden Sukarno, Romo Driyarkara juga pernah duduk sebagai anggota MPRS dan Anggota Dewan Pertimbangan Agung.

Sebagai pemikir Romo Driyarkara menyebarkan gagasan-gagasan melalui esai-esai yang ditulisnya. Refleksi filsafatnya mengekplorasi sisi dan dimensi fundamental kemanusiaan. Romo Driyarkara mengulas perjalanan kesejarahan manusia dalam berbagai aspeknya selalu mempunyai ruang untuk menjadikan manusia semakin manusiawi, menjadi manusia baru. Catatan-catatan Romo Driyarkara ini sekarang bisa ditemukan dalam buku yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, Kanisus dan Gramedia Pustaka.

Selain itu Romo Driyarkara juga gemar menulis dalam bahasa Jawa. Tulisannya diterbitkan melalui majalan PRABA, majalah mingguan berbahasa Jawa. Sewaktu saya pulang ke Purworejo, saya masih menemukan majalah itu yang jadi langganan bapak sejak dahulu tapi dengan wajah yang berbeda dari yang saya temukan sewaktu masih kecil dahulu, dan sepertinya bukan lagi menjadi majalah mingguan melainkan bulanan. Dulu, katanya disela kesibukan studi di Roma, secara reguler Romo Driyarkara menulis kolom “Serat Saking Rome” (surat dari Roma) untuk majalah PRABA, dan sekembalinya dari sana, kolom dirubah menjadi “warung pojok”. Romo Driyarkara menulis dengan memakai nama pena Pak Nala.

Kisah perjalanan “Cah Ndeso” dalam memperjuangkan dunia pendidikan dan permenungan filsafat manusia harus terhenti. Karena kesehatannya yang terus menurun akhirnya dalam usia yang masih terhitung belum uzur, Romo Driyarkara dipanggil oleh Allah Bapa Yang Maha Kuasa. Tahun 1967 Romo Driyarkara meninggal saat menjalani perawatan di RS. St. Carolus Jakarta.

Ada sebuah ayat yang menyebutkan “Nabi tak dihargai di tanahnya sendiri”, mungkin ayat itu memang tepat untuk mengambarkan sosok(Alm) Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara SJ yang tidak terlalu dikenal dan dikenang di Purworejo, tanah kelahirannya. Namanya justru harum jauh disana, beratus kilo dari tanah kelahirannya sebagai sebuah nama Sekolah Tinggi Filsafat yang banyak melahirkan pemikir-pemikir di negeri ini.

Pondok Wiraguna, 3 Maret 2013

@yustinus_esha

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Apakah Pedofili Patut Dihukum? …

Suzy Yusna Dewi | | 19 April 2014 | 09:33

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Perlukah Aturan dalam Rumah Tangga? …

Cahyadi Takariawan | | 19 April 2014 | 09:02

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 4 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 11 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 12 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu

Timnas U 19: Jangan Takut Timur Tengah, …

Topik Irawan | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: