Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Adit

belajar setia dengan apapun dan pasrah menerima sesuatu keadaan yang diluar kemampuan.

Tiket Kereta Kertajaya

OPINI | 10 February 2013 | 23:26 Dibaca: 3659   Komentar: 0   3

1360511174153314189

Sore pukul 16.00 Selasa 29 Januari 2013 aku berniat balik ke Jakarta pertanda jatah liburku telah usai. Sore itu turun hujan sangat deras di lingkungan kota Bojonegoro, sedang saya sendiri sudah berada di dalam area stasiun menunggu Kereta klasik Kertajaya yang akan mengantarkanku sampai stasiun Senen sebagai tujuan akhir, aku masih di peron pengantar, belum masuk di peron dalam penumpang. Aku masih menikmati segelas kopi yang sangat nikmat diminum di kala hujan sembari menghisap sebatang rokok kesukaanku. Ada larangan terpampang cukup jelas untuk tidak merokok. Tapi memang dasarnya aku orang yang bandel dan suka ikut-ikutan kebanyakan orang, maka akupun tak sungkan lagi menghisap racun mematikan itu, yang konon katanya racun yang bisa mematikkan penghisapnya secara pelan-pelan, tapi aku juga tidak mau mati cepat-cepat.

Aku juga melihat agak kejauhan dari tempatku berada seorang yang memakai seragam KAI sedang menghisap rokok kretek. Entahlah, apakah dia karyawan yang teladan atau memang karyawan yang sedang stres sehingga melanggar aturan perusahaan yang sedang memperkerjakan dia.

1360511511382153707

Setelah lama kulihat ternyata ada kegaduhan antara dia berserta 2 Polsuska dengan seorang pasangan suami istri yang sudah uzur usianya. Adu cekcok rupanya.

Aku berusaha mendekat supaya mengerti kejadian sebenarnya, si nenek memelas, ” sudah lah pak tolong kasihani, si bapak sama saya kesini sudah dari tadi jam 2 siang, mohonlah diperbolehkan masuk, rumah saya jauh pak di daerah Rengel ( tuban ) jika harus balik lagi pulang pasti sudah ketinggalan kereta ” gerutu si nenek sehat itu memelas.

Lantas akupun sebagai manusia juga punya rasa iba sekaligus ingin membantu, aku bertanya ” memangnya kenapa ibu? ” Tanyaku,
Ini lhoo mas, bapak’e lupa bawa ktp, pak masinis ini tidak bolehin bapak masuk stasiun ” jawab si nenek tadi dengan mimik yang sangat tegang.

Akupun mengeryitkan dahi, dalam hati aku berkata ” hmmm…. Kasihan juga yah jika mereka tak bisa naik kereta “

aku lalu berusaha membujuk Pak Karyawan KAI itu, ” Sudahlah pak, tak perlu diperpanjang lagi, biarlah bapak dan ibu ini masuk, aku kira mereka juga tidak membeli tiket dari calo kok, kan sudah jelas si bapak ktpnya ketinggalan, sedangkan beliau hanya membawa ft copy kartu keluarga dan cocok dengan nama yang tertera di dalam tiketnya “,

Adegan 3 lawan 3 ini cukup berimbang, si bapak dan ibu terus memohon, sedangkan aku juga terus memcoba membuat karyawan KAI dan 2 Polsuska tersebut mengijinkannya.

Dia masih kekeuh dengan pendiriannya, ” tidak bisa begitu mas ” !!, sergahnya,

Memang kenapa pak!, aku sedikit membentak melawannya,

” Ini KK kan tidak ada gambar foto bapaknya, jadi saya masih curiga bahwa tiket ini tidak sah, alias ini tiket dia beli dari calo, sekarang calo modelnya kayak gini mas “,

Dalam hatiku merasakan bahwa Karyawan KAI ini benar-benar bodoh sekali atau memang pura-pura bodoh demi ” uang suap “, aku lantas nyerocos menyerangnya lagi.

” Pak, bapak itu gimana sih, sudah jelas di KK tertera nama bapak dan sebagai penguatnya juga tertera nama istrinya, nah istrinya kan juga bersama bapak, dan istrinya bawa ktp, jadi KK ini sangat kuat, bukan KK-nya si Calo tiket yang Bapak tuduhkan!!! “”" Sentakku, mereka bertiga pun diam sejenak dan terkesan mulai binggung.

Akhirnya, diskusi debat itupun aku menangkan, si kakek nenek sudah boleh masuk dan berhak medapatkan stempel verifikasi di tiketnya sebagai tanda bukti bahwa tiketnya sudah di cek. ( Aku baru sadar, ternyata stempel ini sangat berarti, dan mengapa saat diatas kereta, masinis tidak pernah menanyakan identitas ktp lagi ).

Dan aku juga mendapat pelajaran bahwa para Calo, teknik penipuanya juga bisa lewat KK yang tanpa wajah tersebut biar lolos dari pemeriksaan. Logikanya memang benar, si Calo Beli tiket, lalu menjualnya kepada calon penumpang beserta ft copy KK-nya, jadi, tanpa ktp pun dikira bisa terverifikasi hanya dengan KK-nya. Namun beruntung saja si nenek tadi membawa ktp yang ternyata namanya tertera juga di KK nya kakek.

” Alhamduliilah suwun sangget yaa dek ” , kata kakek nenek tadi., inggih ibu bapak sama-sama. Heheeeee… ( Cukup lega bisa membantu mereka rupanya ).

Nah, kisah awal ini masih berlanjut, lalu aku ikut masuk, sebelumya menverifikasikan tiketku di Polsuska yang nyebelin tadi tanpa kendala apapun karena memang aku membawa ktp yang wajahnya tentu mirip denganku dan nama tiket yang sesuai dengan nama ktpku. ” Cetok!!! ” Bunyi stempelnya berwarna merah gelap bertuliskan TELAH DI PERIKSA BJ 2730.


13605115921765694009


Oh, iya. Aku membeli tiket kereta Jakarta-Bojonegoro dan juga sebaliknya Bojonegoro - Jakarta di indomaret, aku beli 2 tiket PP langsung, dan bisa di tukarkan di loket stasiun manapun yang menyediakan penukaran kupon. Jadi, bagi calon penumpang. Kita bisa kok seperti caraku beli tiket. Lebih simpel sih, cuma jika untuk dadakan mungkin tidak bisa, kuota tiket bisa saja habis, terutama tiket untuk kita balik laginya, kadang susah jika harus beli dari kampung.

Kereta Kertajaya datang terlambat sekitar 15 menit seharusnya tiba di stasiun jam 17:18 wib, mungkin keretanya tidak berani ngebut, wajar juga, karena hujan sebelumnya sangatlah deras sekali. Sehingga laju kereta diperlambat, takut terpesesat kali.. Heheeee,,,

Bunyi lagu yang khas stasiun berbunyi, tanda kereta sudah datang, aku segera berdiri meninggalkan peron, menyambut Kertajaya yang aku langgani sejak 5 tahun belakang. Ya, inilah kereta rakyat, moda tranportasi bersubsidi yang sangat membantu sekali bagi rakyat miskin. Cukup dengan biaya 43.500 saja kita bisa sampai ke Jakarta, bila aku naik Bis, bisa sampai 4 kali lipatnya. Namun sayangnya, jauh dekat retribusinya tetap saja 43.500, entahlah, mananjemennya sangat buruk sekali dalam kasus ini. Kita naik dari stasiun manapun Surabya, Lamongan, Bojonegoro, Cepu, Semarang, Tegal, Pemalang, bahkan Cirebon yang jaraknya terdekat dari Jakarta tetap saja ongkos naiknya 43.500 rupiah. Bagi aku, jelas ini pembodohan semata, atau memang pejabat KAI pada bodoh semua, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya fakta saja. Tidak ada teori dari mereka yang menjelaskan dan masuk akal, lagian jika difikir beulang-ulang, tetap saja ini tidaklah adil. Perjalanan 12 jam dengan perjalanan 10,6,3 bahkan 2 jam pun biayanya sama. Ah….. Memalukan sekali yaaa….. Ketum KAI yang konon katanya Lulusan Harvard itu seperti bisu dibagian ini. Walau memang banyak kebijakanya yang patut aku apresiasi sekali.

1360511669262923300


kereta tak berhenti lama, hanya 10 menit. Aku bergegas naik ke gerbong paling depan. yaa, aku mendapat bangku bertuliskan K3 - 1 / 24 E yang berarti Kereta urutan 3 dari rangkaian gerbong dan gerbong Ekonomi 1 Tempat duduk 24 Bagian E.

Di dalam gerbong ada 5 baris, A, B, C, D, dan E. Nah, A berada di pinggir jendela sebelah kanan, B ditengah, C dipinggir sebelah kanan, D dipinggir sebelah kiri dan E sendiri berada dipinggir jendela di sebelah kiri kereta. Maka itu aku sarankan bagi calon penumpang sebelum membeli tiket, alangkah baiknya kita meminta jatah sesuai huruf yang kita inginkan.

Lalu,

Tahukan Anda? Kereta Ketajaya memiliki satu gerbong Ekonomi AC yang harganya sekitar 180 ribu per orang. Di saat itu gerbong AC berada tepat dibelakang Lokomotif penarik. Sedang dibelakang gerbong AC terdapat gerbong bagian Dapur masak,kamar besar pembangkit listrik/AC? yang berisik, tempat istirahat Masinis, Polsuska, Dan tempat karyawan KA penjaja makanan, penyewa bantal beristirahat dan ngetemnya mereka. Sedangkam aku, tepat dibelakang gerbong mereka.

Aku segera naik setelah hitung-hitungan nomor biar tidak salah masuk, aku dari dulu aneh jika naik kereta, pada zaman dulu saat penumpang tak terbatas sehingga seperti ikan sarden pun aku masih membiasakan kelakuan anehku, hingga zaman tidak ada penumpang berdiri untuk saat ini, aku tetap aneh, lain daripada yang lain, aku tidak pernah melihat atau mengecek jatah tempat dudukku yang tertera, aku membiarkanya dan aku tenang duduk bersila atau jongkok di bordes gerbong/ditepi pintu. Aku memang sangat suka berada ditempat itu, tempat dimana nanti aku bisa membuka pintu gerbong jika kereta berhenti, bahkan jika berjalan pun aku tak sungkan-sungkan untuk membuka pintu walau sangat berbahaya bagi keselamatanku. Di bordes, kalau tidur, aku juga bisa bebas tanpa melipaatkan badan. Lusuh memang, tapi ini Great, pengalaman seru. Tapi jangan ditiru. Heeeee…..

13605117247432603751360511740178817896
Laju kereta sudah berjalan meninggalkan kota tercintaku, saat-saat inilah dimana aku merasakan suasana hati yang kacau. Binggung antara sedih atau senang, aku sedih harus meninggalkan kota kelahiranku untuk beberapa bulan kedepan, aku senang bisa bekerja lagi dan memulai petualangan baru di kota besar. Beruntung saja, saat itu aku tidak diantar oleh saudara-saudaraku, mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Aku hanya diantar sampai ditempat parkiran stasiun oleh sepupuku yang paling aku sayang. Aicha Arnika namanya. Wanita yang sudah sedari kecil bermain denganku sampai menginjak usia 23 tahun sekarang ini.


13605128571146857803


Kereta Kertajaya yang menempuh relasi cukup jauh Surabaya Pasar Turi - Jakarta Tanjung Priuk mulai menampakkan kekuatan sesunnguhnya, berjalan semakin cepat membelah dinginnya gerimis dikala senja itu. Heroik sekali memang. Aku masih berada di dalam bordes, berdiri sambil menghisap sebatang rokok, disini aku berdua dengan seorang anak muda yang juga memiliki tujuan sama, Jakarta dan menetap di bordes! Dia memperkenalkan diri bernama Teguh, seorang karyawan pabrik plastik di daerah Cengkareng Tangerang. Kami berdua terlibat adu pengalaman seru, saling berbagai dan saling memberi saran dan masukkan tentang indahnya dan susahnya menjadi perantau kelas bawah. Saking asyiknya mengobrol dengan sebatang rokok, aku tidak tahu ternyata ada petugas KAI yang menegurku,

” Mas, tolong jangan merokok di dalam kereta, atau tidak, mas turun saja di stasiun depan ” ujar sang Petugas dengan mantapnya.

Aku tidak membantah sepatah katapun, aku mematikan rokokku dan membuangnya di lubang sambungan gerbong. Petugas lalu ngeloyor pergi. Biasanya aku selalu sigap langsung mematikan rokokku jika nampak petugas dari jauh, asal tahu saja, sebenarnya, sikap menegur terhadap penumpang yang merokok hanya dilakukan oleh petugas saat perjalan kereta belum sampai stasiun poncol Semarang. Jika sudah melewati stasiun tersebut, maka penumpang kereta adalah raja, bebas semau gue, entah ngerokok, membuka pintu saat kereta berjalan itu boleh. Maksudnya dalam artian petugas cuek saja. Ada semacam seperti perjanjian tak tertulis antara kami penumpang dengan petugas, aku sering ditegur oleh pertugas berulang-ulang, yang terkadang mereka suka menambahkan kata, ” kalau sudah lewat Semarang tidak apa-apa mas ” yaa, begitulah kenyataannya. Fakta aturan di atas kereta terhadap rambu-rambu larangan. Hukum ini juga berlaku relasi jalur sebaliknya, bukan hanya dari arah Surabaya, dari arah Jakarta pun juga begitu, kalau menurutku, setelah lepas Semarang, penumpang sudah kebanyakan pada tidur, sudah sepi, hanya segelintir saja yang masih melek, aku termasuk yang masih melek. Heeeee…..

Perjalanan masih berlanjut walau terkadang suka berhenti untuk menunggu kereta lainnya lewat, namanya juga kereta Ekonomi, sudah barang tentu harus mengalah dengan kereta Eksekutif semacam Argo Bromo, Argo Lawu maupun Kereta Bisnis Gumarang. Ekonomi memang seru bagiku, dulu banyak sekali pedagang asongan, sekarang tinggal segelintir saja, karena kebijakan KAI baru yang memperketat ruang gerak mereka, pedagang menjajakan berbagai ” menu suguhan” yang berjualan hilir mudik kesana kemari di dalam kereta, mulai dari penjual kopi, nasi pecel, oleh-oleh, Koran bekas, bahkan ada juga yang menjual jimat! Luar biasa Ekonomi. Amazing! geliat kalangan bawah nampak jelas sekali, jika Anda menaiki kereta kelas Ekseskutif maupun bisnis, jelas akan sangat kontras. Yang anda lihat hanya mereka orang-orang yang bersih, berjas bagus, bergadget mahal, dan karyawan KAI beserta Polsuskanya yang gagah-gagah dan ramah bak tentara bayaran yang mengawal pejabat penting. Dan sudah pasti, di KA mereka, tidak ada suara-suara heboh penuh semangat tiada henti dari para pedagang asongan. Sedangkan Ekonomi, kita sudah biasa dengan suara indah pdagang, kita lusuh, bau badan, berpeluh, tidur sembarangan tempat, dan sudah biasa dengan angin malam yang dingin menerpa saat perjalanan.

Perjalan terus berlanjut, suara adzan sudah terdengar disurau-surau yang dilewati laju kereta, hati semakin hampa meninggalkan bahtera kampung halaman, namun semua demi kehidupan ini, kelangsungan hidupku yang tidak bisa ditebak oleh siapapun juga. Nyesek rasanya saat-saat senja paling dramatis ini, di iringi suara lokomotif yang menderu-deru dan meledak-ledak bak petir yang bersahutan. Suara klaksonnya melengkapi sudah perjalanan alam semesta dalam senja ini yang mulai menampakkan gelapnya malam.

Aku dan teguh masih berbincang-bincang hangat di bordes, orang-orang masih banyak yang berlalu lalang keluar masuk kamar mandi di sebelahku. 2 Polsuska masih terlihat berdiri tegap berdekatan denganku, berada di sambungan gerbongnya dengan gerbong Ekomoni 1.

1360511987453474572

1360512022830910151


Waktu berlalu sudah 4 jam lebih. Keadaan sudah mulai bosan, lesu, dan monoton, pokoknya boring banget. Ditambah lagi gadget blackbery ku sudah memperlihatkan tanda merah di bagian level baterai. Mebuatku makin gamang saja -_-

Apalagi tidak online di kanal bola kompasiana rasannya bagai hidup tidak makan, — halahhh… :D


13605120871997132727


Ah…. Aku tidak kehilangan akal, aku masih punya harapan mengisi baterai gadgetku.

Pasti pembaca penasaran, dimana aku akan mencharge nya ? Hmm….

Ini sebuah pertanyaan klasik dan masalah klasik pula bagi penumpang KA Ekonomi relasi manapun. Karena memang KAI tidak menyediakan colokkan. Berbeda jika kita naik KA eksekutif maupun bisnis dan Ekonomi AC, disana sudah tersedia colokkan listrik.

Orang mengatakan, ada uang ada barang, ada uang ada jasa. Begitulah dinamika hidup di zaman sekarang. Tak terkecuali di atas kereta Ekonomi ini. Aku memantapkan langkah menuju gerbong dapur. Aku masuk gerbong mereka, gerbong yang berisi karyawan KAI, pendamping perjalanan laju kereta, panitianya lah ibarat kata. Penguni gerbong pada lihat aku semua, tapi mereka cuek saja. Dikira aku adalah penumpang dari gerbong terdepan Ekonomi AC yang sedang berjalan-jalan. Namun mereka salah.

Aku telah sampai tepat di depan pintu dapur, terlihat 2 koki sedang memasak nasi goreng dengan wajan pengorengan yang super besar. Aku tanpa basa-basi langsung saja memantapkan berkata :

” bang, nge charge hp dong ” celetukku,
” Bawa charge nya nggak dek “, tanyanya dengan wajah antusias sekali,
” Bawa bang, ini ” sembari menyodorkan hp plus bb tercintaku,

” Yasudah dek, tunggu saja yah “
” Okee, saya tinggal saja bang, saya ada di gerbong Ekonomi 1, ntar saya kesini saja ” balasku, yang langsung membuat aku meninggalkan tempat yang panas tersebut.

Dalam kejadian ini, memang kebanyakan para penumpang KA ekonomi tidak ada yang tahu, mereka hanya pasrah saja jika baterai hpnya sudah habis. Padahal untuk menjalankan konspirasi ilegal seperti aku ini hanya membutuhkan ongkos lumayan murah, hanya Rp 5.000 saja, sebandinglah, jika diganti dengan online di universitas kompasiana tercinta ini. –halah lebay lagi :D

aku kembali ke tongkrongan bordes bersama teguh, berbicara masalah kerjaan, Jakarta, Kereta Kertajaya, Politik, Budaya, hingga masalah dunia syahdunya perpacaran. Cukup kocak dan nyambung sekali ngobrol dengannya, hingga kejadian malapetaka untuk dirinya datang.
– wuihh petaka …. Heeeee….

Benar, kejadian dimana saat masinis sedang memeriksa kelengkapan tiket bagi penumpang. Teguh menyodorkan tiketnya tanpa ktp, begitu juga denganku menyodorkan tiket tanpa ktp.

Lalu apa yang terjadi kemudian setelah aku dan Teguh menyodorkan tiket ? …

Teguh kena sobotase Masinis, di interogasi, tiketnya gagal dan terancam di turunkan di pemberhentian terdekat.

Sedang aku, bebas dari dakwaan dari Masinis. Padahal aku dan Teguh sama-sama menyodorkan tiket, dan sama-sama tidak menyertakan ktp atau identitas lainnya.

Lalu kenapa ?,

Apakah tiketnya palsu ? Tidak, tiketnya tidak palsu !! Jawab Pak Masinis,

” Lalu emang kenapa Pak dengan teman saya ? ” Tanya penasaranku kepada sang Masinis dengan perut buncitnya itu. ( Dalam hati sudah berperasaan kemana-mana, jangan-jangan si Teguh buronan, ! haduhhhh bahaya.. )

” Jadi begini mas, dia punya tiket tapi tidak terverifkasi di stasiun kebrangkatannya “, ” sudah, tiket ini saya bawa dulu ” !, sergahnya.

Lanjutnya, Masinis meminta ktpnya Teguh, dan ternyata si Teguh tak bisa menunjukkan identitas ktpnya, katanya ketinggalan, lupa tidak dibawa dari Jakarta. Si Masinis malah marah-marah, menyalahkan Teguh,

” Kamu ini bagaimana, ktp itu penting, apalagi jika perjalanan jauh seperti ini. Terlebih tiket Kereta mewajibkan penumpang memperlihatkan identitas dirinya ” bentak Masinis dengan berapi-api bak orasi di bundaran HI.

Masinis lalu mencurigaiku, dikira aku teman seperjuangan masuk kereta dengan Teguh,

” Kamu ktpnya mana dek, ! ” Bentaknya.

Aku langsung mengeluarkan ktp dibalik saku jaket kulitku yang memang sudah aku siapkan.

Dan, done. Cocok !! Nama ktp dan nama tiket benar. Dan bukti verifikasi sudah teruji 2 kali.

Si masinis lalu ngeloyor pergi meninggalkan gerbong Ekonomi 1 dengan membawa sepucuk tiket aspalnya Teguh, Masinis melanjutkan perjalanan ke gerbong selanjutnya masih tersisa 9 gerbong Ekomomi lagi yang akan menjalani pemeriksaannya, mengecek tiket penumpang sembari mancari mangsa baru. Dan katanya, nanti tiketnya Teguh akan dirembuk, disidang, tentang vonisnya. Hmm… Disidang? –Wuihhh………..

Seketika aku langsung tersadar dengan kejadian kakek nenek dengan petugas di awal keberangkatan di Stasiun Bojonegoro. Pikiranku pun langsung ke arah Calo. Ya, si Teguh pasti beli tiket itu kepada calo, kalau bukan kepada calo, lalu kenapa dia tidak memiliki stempel verifikasi di tiketnya?,

Namun, kejanggalanku tidak serta merta dijawab dengan jujur oleh Teguh, dia berbelit-belit. Akhirnya dia mengaku, katanya dia membeli menggunakan ktp bapaknya. Dia menyodorkan ft copy ktp berwajah orangtua, -walahhh…. Nambah binggung aku.

Dugaanku dia membeli dari calo semakin kuat, walau dia mengelak. Ah.. Aku nggak terlalu memikirkannya, aku hanya ingin tahu nanti sidangnya seperti apa!.

Waktu terus bergulir, kereta masih berjalan memecah kensunyian malam. Laju kereta semakin terasa penuh misteri, terasa sanggar di dengar bak suara harimau yang menguasai belantara hutan. Aku ketakutan melihat gelapnya jalur yang dilalui kereta, terbesit dalam hatiku, inikah jalur kereta yang dulu dibangun dengan beribu-ribu nyawa para pejuang Indonesia? Inikah jalur yang dibangun dari keringat para pekerja paksa dan romusha? Aku semakin merinding saja membayangkan mereka yang dibunuh gara-gara ketahuan mengobrol satu sama lain. Kolonial sangat kejam, kolonial biadab! Enyahlah kau dari bumi pertiwiku ini! Jika kamu kembali, aku ada dibarisan terdepan untuk menghadapimu!


1360512757274839152

Diatas kereta ini, entahlah….
Apakah para penumpang sesadar denganku dalam melihat kilas balik jalur mengerikan ini.

Apakah mereka bisa menghargai indahnya kemerdekaan yang dulunya seperti mimpi kosong bagi para pribumi. Rakyat hanya minta gratis, minta enak, sedangkan para pejabat pada sibuk berkolusi, nepotisme dan mengeruk uang korupsi.

Aku malu pada nenek moyang, aku minta maaf!

Dengan ke iklashsan hati, dan sedikit imanku di dalam Islam, aku berniat dalam hati, mengirimkan doa Al-Fatihah bagi leluhur yang mati dijalur yang aku lewati…

Al-Fatihah send… amin………..

__

13605126611142358248


Kurang lebih satu jam, Masinis sudah kembali melewatiku, tapi ternyata ada 2 orang yang sedang mengikutinya, waow…. Dalam hatiku, mangsa baru rupanya.

Dua duanya lelaki paruh baya, hampir sepantar dengan Bung Iskandar Zulkarnaen, tapi tidak setua Om Wijaya Kusuma, dua lelaki berpakaian dinamis, tidak terlalu resmi dan tidak terlalu santai. Necislah untuk berpergian.

Ternyata apa yang terjadi?

Mereka sama dengan Teguh, BEMASALAH dengan tiketnya,

Teguh pun dipanggil sang Polsuska demi menghadapi sidang dadakan dihadapan majelis hakim Masinis yang terhormat. Tempat pengadilannya di Gerbong mereka, Gerbong yang aku ceritakan tadi. Yang diantara gerbong Ekonomi AC dan Gerbong Ekonomi 1 yang aku tempati.

Aku mengintip mereka bertiga dari bordes gerbong Ekonomi 1, yang hanya terpisahkan dengan sambungan gerbong. Kulihat 2 terdakwah di jauhkan dulu dari Masinis dan 1 terdakwah yang sedang disidang. Adu cekcok, saling serang, adu argumentasi. Saling membela diri bahwa dia tidak bersalah. Suaranya cukup lantang sekali seperti orang yang sedang bertengkar.

Aku mendengar Masinis berkata ” saya bisa mendapatkan pernghargaan dari atasan jika saya membawa bukti tiket ini! Kamu itu salah, kamu sudah ketahuan bahwa kamu beli tiket pada calo ! ” Bentak Masinis. — idihh penghargaan.. Haaaa….

Singkat cerita, terdakwah itu merayu ” sudahlah pak ini saja, kita sama-sama, damai saja Pak, (sambil menyodorkan uang 50ribu selembar) jujur pak, saya baru kali ini naik kereta. Tolonglah pak, saya kasihan sama saudara saya yang saya ajak “, nah, pada saat dia mengeluarkan uang, aku sudah tak berani lagi mengintip langsung. Aku bersembunyi sembari nguping dengan seksama. Suaranya makin samar dan tak jelas, kalah dengan gemuruhnya kaki-kaki roda kereta, yasudahlah….

Aku pasrah saja, menanti mereka bertiga untuk jumpa pers denganku di bordes ini.

Benar saja, selang kira-kira setengah jam, mereka bertiga sudah nimbul di hadapanku, dan mereka bertiga serempak saling tanya jawab tentang kasus hukum yang sedang menimpa mereka, –kasus hukum…. Heeeeeee…. Lebay ah….

Akupun antusias sekali mendengarkan, menyimak dan sekaligus mencecar berbagai pertanyaan kepada mereka bertiga. Sambil kita berempat melirik ke arah gerbong masinis, takutnya mereka dengar kasak kusuk kita. Akhirnya masalah sudah cukup jelas, dan inilah uraiannya :

Kasus Pertama,

- Terdakwah Satu,

Saat pemeriksaan tiket, dia berada di gerbong Ekonomi 3 bersama 3 saudaranya yang masih abg SMP, saat pemeriksaan, mereka ber 4 sedang tidur, saat masinis meminta tiket kepada mereka, secara spontan mereka langsung menyodorkan tiketnya masing-masing. Fisik tiket asli, ada stempel verifikasinya, Namun. Mereka teledor. Mereka ketahuan beli tiket dari Calo gara-gara nama tiket menunjukkan nama lelaki, sedangkan 2 diantara saudaranya ada yang permpuan. Masinis curiga, lantas menanyakan kepada masing-masing pemengang tiket. Siapa nama yang tertera di tiket? Mereka tidak bisa menjawab. Akhirnya terkuaklah skandal 4 tiket dari calo tersebut. Dan berakhir dengan vonis denda 50 ribu perkepala tiket, yang berarti terdakwah satu ini harus mengeluarkan uang senilai 200 ribu. Pembayan uang suap itu ternyata dilakukan saat sidang ilegal diatas gerbong masinis tadi.

- Terdakwah Dua,

Dia seorang diri, duduk di gerbong 2, kesalahanya, dia tidak ada stempel verifikasinya, jadi indikasi dia salah sudah jelas, sama seperti Teguh. Saat masuk stasiun dia memilih jalan memutar, alias tidak masuk dipintu resmi. Dari pengakuannya. Dia hanya dikenakan biaya nyuap sebesar 20ribu rupiah saja. Mungkin rayuan dia sebagai orang miskin diterima oleh Masinis, — hadehhhh….. Yaiyalah diterima daripada rejeli ilang… Haaaaa….

- Terdakwah 3 alias Teguh,

Nah, yang ini benar-benar bonek alias Bondo Nekad ( Modal Berani ). Dia sangat gigih membantah, sangat gigih bersitegang dengan masinis, ngotot bahwa dia tidak mau disalahkan, dan tidak mau diturunkan. Katanya dari pengakuan dia, Masinis memintanya biaya suap sebesar 30 ribu sebagai ongkos tidak diturunkan. Namun, setelah tawar menawar, si Teguh hanya mengeluarkan biaya tutup mulut sebesar 10 ribu rupiah saja.. Wah… Teguh Menang!!!!… — aku tidak tahu, apakah Masinis merasa iba dengan pengakuan Teguh yang konon katanya hanya bersaku 20 ribu sehingga Masinis percaya saja dan tak tega menurunkan Teguh di stasiun.

Dan Alhasil, Teguh dan terdakwah 2 yang tiketnya tidak ada stempel verifikasi, akhirnya mendapat stempel resmi verifikasi.

Dan kesimpulan penghasilan ngobyeknya Masinis diantara 3 terdakwah tersebut adalah sebagai berikut perinciannya :

Terdakwah 1 4 tiket, masing-masing tiket 50 ribu,
Terdakwah 2 1 tiket, di denda 20 ribu,
Terdakwah 3 1 tiket, di denda 10 ribu,

Hasil malam itu senilai 230.000 rupiah.

Sebuah penghargaan bisa ditukar dengan uang senilai 230 ribu.

Entahlah.. Apa gara-gara uang atau gara-gara rasa perikemanusiaannya masinis yang tak tega jika harus menurunkan penumpang malam-malam. Semoga saja opsi kedua yang ada dipikiran sang Masinis.

Cerita diatas bukan rekayasa, semua benar-benar asli. Dan biarlah antara Masinis, aku dan ke tiga terdakwah yang menjadi saksi kunci kelak di akhirat.

Akhirnya perjalanan berlanjut, waktu sudah meperlihatkan pukul 2 malam, tanda Jakarta semakin dekat, penumpang sudah 80 % tidur semua dengan nyenyaknya, dan mataku sudah mengantuk, Kereta Kertajaya semakin gagah mengarungi malam. Semoga kau tetap setia bersama rakyat. Kertajaya, relasi perjalananmu sungguh mengesankan, aku takjub ketika engkau melewati pantai pesisir pelabuhan Semarang yang sangat Indah sekali, 30 menit kau hidangkan pemandangan laut eksotik di hadapanku, kau tak bergeming walau ombak laut sudah tepat dibawah bantalan rel keretamu.


1360512558882954250


Aku terlelap membujur kaku di dinginya malam, badanku terasa lelah, aku merebahkan dengan lunglai di lantai bordes, tak perduli ada kaki manusia yang melangkahiku, aku tidur. -sstt….


13605129771177713340

Yah, sudah pagi,! shubuh di daerah Cirebon, pertanda kurang lebih 4-3 jam lagi sampai pada tujuan akhirku, aku tertidur lagi, hingga laju kereta sampai pada stasiun Cikampek, aku terbangun, ngopi sejenak seharga 5.000 yang dijual oleh karyawan KAI, sembari menghisap rokok, aku menikmati pemandangan subuh pukul 5 pagi. Roda kehidupan dan hari baru sudah dimulai, Cikampek sudah ramai, hingga aku dan Kertajaya melalui dengan cepat di Kota Bekasi yang sudah Macet dipagi hari.

Great…. ! Inilah Jakarta, aku kembali !!!!


13605123906921772831360512703322316623

30 Januari 2013, tulisan ini saya tulis juga di blog pribadi http://oktaaditya.wapsite.me

Segala foto yang saya unggah adalah asli hasil dokumentasi, sebagian hasil jepretan kameramen Teguh.

Semua tulisan diatas bersumber dari pengetahuan penulis, tidak ada googling atau majalah dan buku rujukan, jika ada kesalahan penulisan dan penyebutan mohon dikoreksi.

Okta Aditya, Sang Boromania

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 13 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 15 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 16 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 17 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: