Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Huzer Apriansyah

www.kibas-ilalang.blogspot.com

Catatan Si Roy

OPINI | 22 January 2013 | 07:35 Dibaca: 377   Komentar: 0   1

“Catatan Si Boy”. Generasi era 80an tentu tak asing dengan film besutan Nasri Chepy yang rilis pertama pada 1987. Film yang mungkin bagi generasi sekarang bisa dibilang lebay ini jadi idola muda-mudi pada masa itu, bagaimana tidak 4 sekuel film itu hadir. Tulisan ini tak hendak mengulas film tersebut, toh sekarang ini zamannya si Roy, beberapa waktu lalu si Roy dilantik presiden menjadi menteri pemuda dan olahraga.

Memang tak ada hubungan langsung antara Roy Suryo dan Catatan si Boy, meski mungkin Pak Roy pernah menonton si Boy pada eranya. Kalau melihat hobi Pak Roy yang gemar koleksi mobil tua, rasa-rasanya sedikit sama dengan hobi si Boy, tokoh dalam film yang gemar wara wiri dengan mobil sport. Bisa jadi juga mobil-mobil dalam film ini juga telah dikoleksi Pak Roy.

Kalau si Boy punya 1001 perempuan maka Pak Roy punya 1001 kepakaran, mulai dari pakar telematika, pakar mobil antik, pakar tentang Jogja, pakar dalam politik dan berbagai kepakaran lainnya. Tentu hal ini jika digunakan secara tepat, bisa menjadi potensi yang luar biasa dari dunia kepemudaan dan olahraga di Indonesia. Tapi salah-salah bisa membuat Pak Roy tak fokus juga. Karenanya Pak Roy harus selalu kita kawal, seperti dulu pak Roy mengawal kasus Ariel-Luna.

Nusantara menyambut kehadiran Pak Roy menjadi Menpora dengan gegap gempita, nuansa utamanya tentu saja cibiran dan sindiran. Mungkin dalam sejarah kabinet di tanah air, baru kali ini kehadiran seorang menteri disambut segegap gempita ini. Forum di internet berhari-hari membicarakannya, blog-blog disesaki artikel tentangnya, media massapun tak ketinggalan “menguliti” Pak Roy dari berbagai sisi. Gegap gempita ini tak berbeda jauh tiap kali teman-teman si Boy menyambut kedatangan si Boy yang memang ganteng, macho dan kaya raya. Si boy selalu disambut hangat, begitupun Pak Roy.

Sayangnya gegap gempita sambutan terhadap Pak Roy, hanya berumur singkat, usai Pak Roy dilantik dan dikawal oleh puluhan mobil antic menuju Senayan gegap gempitapun hilang. Setelah seminggu Roy dilantik, pemberitaan dan sorak sorai tentang Pak Roy mulai hilang. Padahal pada fase awal ini krusial untuk selalu mengawasi Pak Roy, agar ia sadar bahwa rakyat mengamati tiap gerak geriknya. Seminggu tentu belum waktu yang cukup untuk melahirkan terobosan. Tapi paling tidak sebuah masterplan untuk dunia olahraga kita sudah bisa diumumkan ke publik. Kita tunggu saja dalam waktu dekat, akankah ada.

Pak Roy bukanlah si Boy yang bisa memikat hati banyak orang dalam sekejap, meski modal kegantengan mereka sebelas dua belas saja, tapi tentu tetap berbeda. Boy terlalu sempurna dalam hidupnya, sedangkan Pak Roy terlalu tidak sempurna untuk posisinya sekarang. Ini bisa bermakna negatif sekaligus juga positif. Negatif menandakan bahwa pemuda dan olahraga seebenarnya bukan bidang keahliannnya tapi bisa positif jika Pak Roy mau belajar dengan cepat dan memahami tiap jengkal permasalahan secara mendalam. Pak Roy belum memiliki “luka sejarah” dalam dunia olahraga dan kepemudaan, hal ini bisa membuatnya lebih obyektif dalam memandang permasalahan.

Dunia olahraga dan kepemudaan memang bukan departemen seksi yang tiap kebijakannya bisa menyangkut hidup matinya negeri ini. Tapi bidang ini akan menentukan kegairahan sebuah negeri. Lihat saja bagaimana olahraga bisa menghentikan konflik di Argentina, bagaimana di Brazil harkat mereka sebagai bangsa terangkat oleh sepakbola. Di Afrika Selatan Rugby bisa mempersatukan bangsa mereka, di Ethiopia, Atletik menjadi alat kejayaan Negara, dan banyak contoh lainnya. Akankah di nusantara olahraga bisa menjadi alat pemersatu sekaligus pengangkat harkat bangsa. Kita akan lihat kerja keras Pak Roy, mudah-mudahan bisa setangguh kinerja Chysler Imperial, mobil yang mengantarkan Pak Roy ke kantornya usai dilantik presiden 15 januari lalu.

Chysler Imperial pula yang pernah ditumpangi Bung Karno dan Jenderal Soedirman di masa lalu. Semoga spirit dua orang besar tersebut bisa diadopsi oleh Pak Roy. Bukan sekedar ­gegayaan Pak Roy agar disebut beda, seperti yang kerap dilakukan si Boy agar mendapat pengakuan dari teman-temannya terutama dari para wanita.

Konflik sepakbola nasional, redupnya prestasi bulutangkis, dan makin loyonya prestasi olahraga kita secara umum adalah pekerjaan rumah yang harus dijawab dengan kerja nyata bukan dengan pamer mobil mewah. Nusantara sudah terlalu rindu melihat kejayaan sepakbola kita, kalau Pak Roy bisa menemukan solusi atas kisruh sepakbola kita bisa jadi Pak Roy akan melegenda seperti si Boy. Mudah-mudahan tak dikerumuni para wanita seksi, ya pak !!

Semoga peminat masalah olahraga dan kepemudaan tidak lelah mengawal kinerja Pak Roy, jangan sampai kita heboh di awal tapi layu kemudian…!

13588148731302491729

Sumber photo : Koran Jakarta

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 5 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 7 jam lalu

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 16 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Autokritik untuk Kompasianival 2014 …

Muslihudin El Hasan... | 7 jam lalu

Kangen Monopoli? “Let’s Get …

Ariyani Na | 7 jam lalu

Catatan Kecil Kompasianival 2014 …

Sutiono | 7 jam lalu

Ini Sumber Dana Rp 700 T untuk Membeli Mimpi …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Disambut Pelangi Halmahera Utara …

Joko Ade Nursiyono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: