Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Otoko Mae

Seorang pemuda yang menatap masa depan bangsa

Saya Orang Biasa yang Pernah ke Jepang

OPINI | 27 February 2012 | 23:38 Dibaca: 1591   Komentar: 37   3

1330397996336261467

Saya manusia biasa, orang Indonesia kebanyakan. Tidak begitu pintar, tidak hebat dan tidak menonjol dibandingkan dengan teman-teman lainnya di sini.

Semasa kecil, saya bersekolah di SD Muhammadiyah. Muridnya hanya 18 orang, tidak begitu banyak murid dibanding sekolah dasar negeri lain di Palembang. Setelah lulus, lanjut ke SMP Negeri bukan Favorit, tapi lumayan NEM dan rayon sekolah mendukung untuk saya bisa bersekolah di SMP Negeri.

Setelah lulus, lanjut ke Sekolah menengah atas umum. Lulus SMP dengan NEM kecil, membuat saya tidak bisa diterima di SMU negeri. Kebetulan, didekat rumah ada sekolah SMU Muhammadiyah, jadilah saya bersekolah disana. Karena dekat, saya tidak perlu biaya tranportasi lagi untuk menunjang pendidikan di swasta yang mahal. Uang Transportasi saya tabung untuk menambah biaya SPP yang diberikan Ortu.

Lulus SMU, saya ditawari orang tua untuk jadi Polisi. Karena badan saya menunjang untuk bisa diterima di Koprs berbaju coklat tersebut, orang tua yang saat itu ada kenalan “orang dalam”, menyuruh saya mengikut tes kepolisian. Tapi saya tolak, karena saat itu saya takut (pernah mendengar cerita teman, kalau pendidikannya sangat keras di barak). Oleh karena itu, saya meminta berkuliah saja kepada Orang tua.

Sebelum UMPTN Untuk bisa berkuliah di UNSRI saya lalui dengan mengikuti Bimbel. Tapi tetap saja, persaingan yang ketat membuat saya gagal berkuliah di UNSRI. Tidak patah arang untuk berkuliah di Negeri, Tes ujian masuk Politeknik pun saya ikuti, dan berhasil, saya dapat berkuliah di Jurusan Teknik Mesin Diploma III.

Dengan perjuangan yang berat, saya dapat menyelesaikan kuliah. Walaupun sempat hampir DO (Droup Out) karena kekurangan biaya dan OD (Over Dosis), karena pertengahan kuliah bergaul dengan Narkoba bersama teman. saya lulus dengan perjuangan berat pada tahun 2001 dengan hati bersih dan bebas narkoba.

Perjuangan hidup dimulai, melamar pekerjaan di segala tempat. Jawaban lebih condong di tolak. Hati saya bingung, kemudian teman mengajak bisnis kecil-kecilan dengan ber-calo HP. Karena kecil, hasilnya pun kecil, habis dijalan saja, tidak sempat untuk ditabung.

Hati yang galau, melamar kesana kemari tidak dapat kerjaan, akhirnya saya ikut kursus BLKI. Di sana saya menemukan sebuah program yang membuat saya bersemangat untuk mengikuti. Diiming-imingi juga oleh senior yang telah sukses membawa uang banyak (Halal). Konsentrasi saya hanya kepada program itu. Sebuah program yang mengubah hidup saya, yaitu program pemagangan ke Jepang.

Tes yang sulit, tes matematika, Cek tubuh, lari 3 KM dalam waktu 15 menit, Psikotes, wawancara dengan orang Jepang, membuat saya berlatih terus sebelum hari tes. Tiap pagi, selesai sholat shubuh, saya berlatih mengelilingi stadion bumi Sriwijaya. Siangnya, saya membuka buku psikotes dan mempelajari sedikit huruf-huruf Jepang. Kebugaran tubuh saya jaga dengan minum susu dan makanan bergizi. Hal itu saya lakukan kira-kira selama 6 bulan sebelum tes berlangsung. Ketika hari H, saya menyakini diri ini supaya bisa melalui semua Tes. Dengan semangat untuk bisa menginjakkan kaki ke negeri Sakura saya lalui semua tahapan tes dengan sukses.

Semua itu (akhirnya bisa ke Jepang) saya lalui tanpa biaya sogokan. Mereka (ketika sudah berada di Jepang, teman banyak bercerita telah menghabiskan puluhan juta untuk menyogok panitia tes di daerahnya masing-masing), kalau bekerja, banyak menuntut lembur segala macam kepada perusahaan, Untuk mengembalikan uang yang keluar (sogokan) tadi. Kalau tidak dipenuhi, mereka ini akan “kabur” dari perusahaan, (otomatis keluar dari program magang). Mereka yang kabur akan menjadi ilegal. Mereka ini bisa saja bekerja di perusahaan di lain tempat, dan ditampung oleh organisasi ilegal di Jepang (Yakuza).

Saya orang biasa, yang tidak bermacam-macam. Saya hanya menjalani hidup yang lurus-lurus saja. Walau pun pernah bengkok semasa kuliah, itu dulu, merupakan bagian dari masa lalu.

Masa lalu juga yang membuat Jepang menjajah Indonesia. Masa lalu juga yang membuat rakyat Indonesia tersiksa oleh paham penjajahan Jepang. Namun, apakah masa lalu tersebut membuat kita harus dendam?, apakah hati kita harus selalu diliputi rasa benci kepada Orang Jepang?.

Saya rasa, buanglah segala perasaan (yang membuat hati diliputi kebencian tiada akhir, yang nanti akan menimbulkan penyakit pada diri) itu. Toh, masa lalu tersebut sudah terjadi, tidak bisa diulangi lagi untuk kita perbaiki. Jepang juga sudah banyak membantu Indonesia dalam segala bidang. Dalam hal merekrut anak Indonesia untuk Magang ke negara mereka, merupakan wujud bantuan negara Jepang untuk negara berkembang di ASEAN khususnya Indonesia.

Sekarang, saya hanyalah orang biasa yang merasakan pernah magang, menabung dan pulang dengan membawa uang ratusan juta dari Jepang. Sebelum kepulangan dari Jepang, Sacho (pemilik perusahaan) berpesan kepada saya: “Jadilah Manusia yang mengubah orang di sekelilingmu menjadi baik”.

Ohaiyou Gozaimasu,

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Ina Craft Apakah Mampu Membantu dan …

Een Irawan Putra | | 23 April 2014 | 06:01

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Benarkah Anak Kecil Itu Jujur? …

Majawati Oen | | 23 April 2014 | 11:10

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 3 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 5 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 5 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 6 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: