Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Djadjas Djasepudin

Djasepudin, penulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Alumnus Program Studi Sastra Sunda Unpad

Darso, Calung, Nilai-nilai Kemanusiaan

OPINI | 15 September 2011 | 01:50 Dibaca: 602   Komentar: 6   2

Darso, Calung, Nilai-nilai Kemanusiaan

Oleh DJASEPUDIN

Dalam khazanah kebudayaan Sunda ada tarik-menarik yang cukup kencang dan ketat tentang wacana pemeliharaan dan pengembangan kesenian Sunda. Masing-masing mazhab memeluk teguh prinsip yang dianutnya.

Di satu pihak berpendapat, kesenian Sunda sebisa dapat tetap mengalami pemurnian. Seni yang asli. Setiap kesenian yang ada tidak boleh tercampuri atau dicampuri oleh unsur seni di luar dirinya. Bahkan kesenian di luar Sunda dianggap penghancur kesenian warisan karuhun. Memadukan kesenian lain dengan kesenian Sunda terbilang ngarempak tetekon alias melanggar aturan yang sudah jadi kebakuan secara turun temurun. Pada intinya, beragam jenis kesenian Sunda dari baheula, ayeuna dan masa akan datang sekuat mungkin tetap sama seperti aslinya.

Berbeda dengan kaum konservatif, golongan yang konon disebut seniman Sunda angkatan modern itu malah berpendapat dan berbuat sebaliknya. Pada golongan itu seni merupakan buah dari ekspresi dan kreasi yang terus menjadi. Seni tradisi dapat ditafsir sesuai dengan pengalaman, pengetahuan, dan perkembangan zaman. Bahkan, dalam beberapa hal, kesenian yang terbuka itu, terkadang, patuh dan memenuhi selera pasar. Dalam golongan ini seni itu tidak ada yang asli. Di antara unsur seni di dalam dan di luar dirinya ada keterkaitan yang tidak terelakan dan salingmenghidupkan.

Tegangan dua pendapat itu hingga kini tetap berjalan. Jika ada kebaruan dalam kesenian Sunda kontan hal itu menjadi perdebatan yang berkepanjangan. Celakanya, di antara penghayat akan kesenian yang diyakininya, terkadang masalah itu terbawa ke dalam urusan pribadi dalam dunia keseharian. Tidak hanya saling berbaeudan, tidak sedikit yang berusaha menggunakan cara-cara yang jauh dari nilai-nilai seni, di antaranya upaya pembunuhan karakter antarpraktisi dan pemikir seni.

Untuk menyebut beberapa kasus kesenian Sunda yang berujung polemik dan konflik, publik Sunda sempat gempar ketika Asep Sunandar Sunarya memasukkan para Punakawan baru lengkap dengan adegan yang terbilang anyar dan mahiwal: ‘para rakyat biasa’ dalam wayang Asep dipertontonkan bisa makan atau muntah; dalam seni tembang cianjuran, pada beberapa tahun belakang masih dan kerap diramaikan perdebatan tentang genre baru yang bernama sekar anyar, misalnya, yang mencuat ketika Pasanggiri Tembang Sunda Damas ke-19 yang berlangsung di Grha Sanusi Unpad Bandung, tahun 2010; pun demikian dalam kesenian calung, perkembangannya kerap mengundang perdebatan yang cukup panjang dan tidak bisa diterima oleh semua masyarakat Sunda.

Di antara para pemikir dan praktisi seni yang mengembangkan seni calung dan makin digandrungi masyarakat umum adalah Ekik Barkah, Oman Suparman, Ia Ruchiyat, Eppi K, Enip Sukanda, Edi, Zahir, Abdurohman, Tajudin Nirwan, Odo, Uko Hendarto, Adang Cengos, dan Hendarso.

Tanpa mengurangi setitikpun rasa hormat kepada para karuhun yang merintis dan mengembangkan kesenian calung, adalah nama terakhir di atas yang sangat populer dan menyebabkan calung makin dikenal hingga ke mancanegara.

Muhun, Hendarso atau Darso merupakan monumen agung dalam seni calung. Dengan dibantu lagu-lagu yang kebanyakan karya cipta Uko Hendarto, Darso sukses mengembangkan seni calung makin agung dan bergaung.

Salah satu sebab seni calung makin agung dan kaum muda jadi gandrung calung adalah Darso memadupadankan nilai-nilai seni tradisi dan seni modern. Dalam tataran ini Darso mengembangkan sikap jembar. Yaitu terbuka menerima seni dar luar Sunda. Malah teknologi dari luar negeri sekalipun demi kelangsungan kesenian Sunda di hadapan Darso hal itu dijadikan unsur yang sangat mendukung.

Ketidaklaziman itu makin mengemuka ketika di tahun 1960-an Darso dan Uko menjadikan calung sebagai waditra untuk mengiringi pelbagai judul lagu. Sebab, sebelum itu calung hanya didengarkan tabuhan irama bunyi dari bilah-bilah bambu saja. Nah, waktu itu Darso dengan diiringi waditra calung menyanyikan karya-karya Uko dan Mang Koko.

Bila kaum konservatif bauan atau antiteknologi, Darso malah sebaliknya. Beliau benar-benar gandrung panggung dan memberdayakan betul kecanggihan teknologi dan informasi. Hal itu, saya pikir, bukan gengsi gagah-gagahan. Namun salah satu cara agar dia dan kesenian yang dibawakannya makin dikenal masyarakat luas.

Berawal dari panggung ke panggung, siaran di radio, masuk ruang rekaman untuk membuat album, dan tampil di sejumlah televisi, semua dilakoni Darso dan berujung dengan kesuksesan. Sukses pribadi dan sukses seni calung.

Karakter Darso, terutama saat manggung, memang unik. Tidak hanya memberdayakan teknologi dan informasi, dalam berbusana dan cara menggerakkan tubuhnya dalam satu tarian memang memiliki ciri mandiri. Busana dan aksesoris yang digunakannya kerap memadupadankan nuansa kampung dan kota. Kesan norak dan trendi sengaja ditabrakkan.

Mari kita ingat-ingat lagi salah satu gambaran busana dan aksesoris Darso saat manggung dan dijadikan potret dalam album: Rambut gondrong ikal dibiarkan kaku acak-acakan hingga melebihin bahu, setengah dari kepala ditutupi kain berwarna gelap pekat, wajah tampak makin gagah dilengkapi dengan kacamata. Tubuh yang tinggi tapi tidak terlihat ringkih ditutupi dengan jas putih, di lehernya tergantung dasi bergaris merah, hitam dan putih. Celana panjang sewarna dengan baju dengan dua kantong di kanan dan kiri. Tentu saja menggunakan sepatu yang tak kalah oke dengan pasukan koboy sekalipun. Busana yang dikenakan Darso makin terlihat ngejréng dengan dikenakannya sarung biru yang dilipatkan dan diselendangkan di bahu kiri.

Busana yang ngejréng dan bertabrakan itu seolah mengamini dengan aksi panggung Darso. Gerakan tubuh patah-patah, geleng-geleng kepala secara spontan tapi tampak beraturan, dan maju-mundur geseran kaki kanan dan kiri ke depan dan ke samping, makin menandaskan banyak orang bahwa, kepopuleran Darso dalam menari dan berbusana bisa mengalahkan Michael Jackson sekalipun.

Memang, bagi umumnya orang Sunda, terutama di pedesaan, mereka lebih mengenal Darso ketimbang artis pop Indonesia lainnya. Kepopuleran itu tidak hanya karena kualitas vokal dan liukan tubuhnya yang banyak diikuti oleh Yayan jatnika dan Asep Darso, misalnya, tapi lebih karena Darso beusaha tampil membumi.

Dia diundang ke hajatan kampung dengan bayaran kecil pun, dengan catatan tidak bentrok, pasti akan mendatangi. Hal itu pernah terlihat ketika Darso datang ke hajat sunatan anak kecil di kawasan Jatinangor (Cikeruh). Padahal, saat itu tidak ada panggung atau satu level pun untuk Daros menyanyi. Tetapi, kehadirannya saja sudah membuat warga Jatinangor dibuat bangga.

Saat saya bekerja di Bandung TV, kebintangan Darso tidak membuat dia pertantang-pertenteng. Ketika menghadiri acara “Golémpang”, Darso mampu dan mau berkenalan dengan saya yang bukan apa-apa. Malah, dia tetap memberi senyum merekah dengan karyawan bagian office boy sekalipun.

Darso, engkau tidak hanya jembar dalam menyikapi kesenian tradisi. Engkau juga menyikapi teknologi dengan pelbagai strategi. Dan satu yang juga penting, sepengetahuan saya, meski jadi bintang benderang yang hingga usia tua juga tidak memudar, nilai-nilai kemanusiaan yang tetap dikedepankan.

Menutup tulisan pendek ini, saya kutip petikan lagu yang memberdayakan teknologi untuk kepentingan manusia. Sebuah lagu berjudul “Kabogoh Jauh” karya cipta Oon B yang populer dinyanyikan oleh maestro bernama Darso:

Jelema palinter

Dunya beuki maju

Najan urang pajauh

Bisa ngobrol unggal waktu

Ya, meski engkau telah pergi jauh, kami masih bisa merenungi renik-renik kehidupan dengan penuh kesyahduan melalui lagu-lagu yang pernah engkau populerkan. Semoga, di alam sana engkau mendapat tempat yang terhormat. Hatur nuhun, Kang.
Penulis, bergiat di Institut Nalar Jatinangor, alumnus Prodi Sastra Sunda Unpad.

tulisan di atas dimuat di koran Pikiran Rakyat, Rabu, 14 September 2011

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Tips Ibu Jepang Menyiasati Anak yang Susah …

Weedy Koshino | | 22 October 2014 | 08:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Ketika Rintik Hujan Itu Turun di Kampung …

Asep Rizal | | 21 October 2014 | 22:56

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 2 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 2 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 3 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 4 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | 7 jam lalu

Filosofi Kodok …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Mirip Penyambutan Raja yang Dicintai …

Dr. Nugroho, Msi Sb... | 7 jam lalu

Cara Wanita Cerdas Memilih Calon Suami …

Nelvianti Virgo | 7 jam lalu

Fenomena Rokok pada Anak Usia Dini …

Dian Wisnu Al Afdho... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: