Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Ken Dedes

Titisan Ken Dedes

“Rintihan Penerusku, Raden Damarwulan”

REP | 08 August 2011 | 18:08 Dibaca: 1593   Komentar: 13   5

13127832011844119072

Damarwulan

Satu lagi penerus Ken Dedes dan Ken Arok yang terkenal dan berjaya di tanah Jawa, penerus kerajaan besar Majapahit, Raden Damarwulan. Sayangnya ia harus mati dengan tragis karena ketidakadilan yang terdapat dalam kitab Pararaton dan dituliskan sebagai naskah drama terkenal oleh pengarang Indonesia Sanoesi Pane dalam karyanya SANDHYAKALA NING MAJAPAHIT.

…..”Dengarlah rintihan Raden Damarwulan, yang melihat tingkah polah para ksatria, prajurit dan birokrat Majapahit yang arogan, yang semena-mena menjungkir balik etika, menindas rakyatnya…”

….Indah rupa langit nilakandi

Disinari oleh Dewa Surya

Tertawa puspa di lereng

Gemilang puncak gunung

Mayapada indah sekali

Laksana Suryalaya

Tanah mulya sungguh

Jawa serta Nusantara

Jiwa sukma jantung Batari Pertiwi

Kekasih Sang Dewata.

Dewata, jikalau Paduka sungguh ada,

Limpahkanlah damai ke dalam hatiku,

Aku seperti pengembara, kakiku luka, badanku remuk,

Penderitaan manusia seperti berkumpul dalam hatiku.

Dewata-dewata

Jiwaku mati dalam tubuhku, aku tak dapat merasa lagi,

Inikah jalan ke Nirwana atau jalan keedanan?

Wisnu, o, Wisnu!

Dengarlah ratap tangis jiwaku

Bersama daku berkeluh kesah kemanusiaan

Wisnu, o, Wisnu.….


**Sandhyakala Ning Majapahit, Sanoesi Pane, Pustaka Jaya 1971**

Keterangan:

Akhir cerita drama Sandhyakala Ning Majapahit ini lain sekali dengan buku yang dijadikan dasar penulisan cerita itu, yakni Serat Damarwulan. Sanusi Pane mengatakan bahwa sebagai dasar penulisan drama Sandyakala Ning Majapahit adalah Serat Damarwulan dan cerita Raden Gajah yang terdapat dalam Pararaton.


Cerita Damar Wulan diakhiri dengan kebahagiaan. Keberhasilan Damar Wulan membawa kepala Menak Jingga ke Majapahit menyebabkan dia menduduki tahta kerajaan serta dinikahkan dengan sang ratu. Damar Wulan bergelar Prabu Brawijaya serta hidup dengan kejayaannya. Sebaliknya, Sandyakala Ning Majapahit diakhiri dengan peristiwa yang tragis. Di samping Damar Wulan tidak dinikahkan dengan Ratu Majapahit, dia juga dituduh sebagai pengkhianat. Tuduhan itu mengakibatkan Damar Wulan dihukum mati. Sepeninggal Damar Wulan, kerajaan Majapahit diporakporandakan balatentara dari Kerajaan Bintara.


…..ting nang…ting…nung…dug…dug…dug….

(dalang menutup layarnya)

-tamat deh-

- sumber tulisan dan gambar: mbah google dan facebook (keywords: Sanusi Pane, Damarwulan, Sandhyakala Ning Majapahit)


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Solusi Tepat untuk yang Galau dan Lapar …

Mega Sari | | 06 March 2015 | 14:02

Yang Harus Dipersiapkan Untuk Ujian Nasional …

Ahmad Imam Satriya | | 06 March 2015 | 23:09

Kompasiana, Kompasiana TV, dan Jurnalisme …

Harry Ramdhani | | 06 March 2015 | 20:44

Pencegahan Infeksi Sinusitis …

Doni Punyablog | | 06 March 2015 | 15:11

Kompasiana Drive&Ride: ”Be Youthful, …

Kompasiana | | 26 February 2015 | 22:29


TRENDING ARTICLES

Ahok Mengamuk …

Axtea 99 | 6 jam lalu

Mediasi Depdagri Gagal Karena Ahok Bringas ! …

Wan Aboed | 9 jam lalu

#SaveHajiLulung Mendunia …

Gunawan | 11 jam lalu

Ketika Gubernur Merasa Kurang Bertaji …

Erisman Yahya | 13 jam lalu

Ahok Memang Harus Een Beetje Koppigheid …

Bambang Setyawan | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: