Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Agus Hasanudin

Hidup harus dengan Niat

Potret Pembuat Anyaman Topi Bambu

REP | 07 July 2011 | 23:07 Dibaca: 583   Komentar: 0   0

Sebuah desa sebelah barat Kab. Tangerang yang dikenal banyaknya kerajinan dari Bambu yaitu TopiBambu dimana sudah terkenal sejak nenek moyang tahun 1913 dan saat ini masih tersisa penerus anyaman TopiBambu yang tidak tersentuh oleh lingkungan Megapolitan yang menjadi penyangga Ibukota Jakarta

Rancakelapa, Kab. Tangerang sebuah desa yanag asri tumbuh subur baik perkebunan, pertanian dan dikelilingi oleh pohon bambu. Banyaknya pohon bambu di lingkungan masyarakat di sekitar Rancakelapa dimanfaatkan untuk membuat produk mulai dari Tempat sampah, Kukusan, Piring Bambu, Kursi dan Meja dari bambu, Kap Lampu semuanya masih sedikit dihasilkan karena kurangnya SDM dan ilmu untuk hal tersebut.

Potret Pengrajin Anyaman

Yang paling langka saat ini adalah terdapat adik dan kakak yang masih setia dalam melestarikan anyaman TopiBambu. Ibu Asnah adiknya dari Ibu Asmah tinggal di sebuah Desa Rancakelapa dimana waktu masih mudanya ikut mewarisi untuk membuat anyaman TopiBambu. Ibu Asnah berumur sudah 70 tahun dan Ibu Asmah kakaknya berumur sudah 80 tahun .

Ibu Asnah dan Ibu Asmah Penganyam

Ibu Asnah dan Ibu Asmah Penganyam

Kehidupan kedua Ibu tersebut sehari-hari membuat anyaman dari bambu atau biasa disebut ilaban (TopiBambu yang belum jadi) saat ini masih setia dilakukan karena sudah senja dan hanya bisa melakukan pembuatan ilaban dan sudah tidak sanggup lagi pergi berkebun bertani dan sebagainya. Kehidupan kedua ibu tersebut tidak mengadalkan anaknya namun terbiasa hidup mandiri sejak dulu.

Kondisi Rumah Penganyam

Kondisi Rumah Penganyam

Ruangan Penganyam Ibu Asmah

Ruangan Penganyam Ibu Asmah


Realita Ekonomi Pengrajin Anyaman TopiBambu

Kedua Ibu tadi  dalam sehari yang dikerjakan mulai permulaan pengirisan atau mimitian agar Bambu tersebut dibuat sehelai kertas dan selebar lidi untuk siap di anyam. Hasil anyaman kedua ibu tersebut dalam sehari dapat menyelesaikan 1 buah ilaban bahkan sampai 2 ilaban sesuai ukuran ilaban tersebut. Kebutuhan ekonomi saat ini untuk membeli beras saja 1 Liter kurang lebih Rp.5.000 – Rp. 7.000 sedangkan kedua ibu tersebut terkadang hanya membeli singkong atau umbi-umbian karena hasil nya belum cukup untuk membeli beras. Adapun setelah terkumpul banyak hasil anyaman ilaban tadi dan biasanya 1 minggu sekali akan datang ketua kelompok untuk mengambil dari penganyam dan dapat ditukarkan dengan uang atau bahan kebutuhan sehari-hari.Bahkan yang sangat ironisnya 10 ilaban tadi hanya dapat di tukar sebanyak 3 kg beras .

Semoga potret ini baik pembaca dan pemerintahan setempat dapat menciptakan pangsa pasar dan iklim agar dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat pengrajin anyaman dari Bambu yang sudah muali terlupakan bahkan mulai punah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

Gratifikasi Natal dan Tahun Baru …

Mas Ukik | | 21 December 2014 | 10:01

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 9 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 10 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 19 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: