Back to Kompasiana
Artikel

Sosok

Agus Hasanudin

Hidup harus dengan Niat

Potret Pembuat Anyaman Topi Bambu

REP | 07 July 2011 | 23:07 Dibaca: 565   Komentar: 0   0

Sebuah desa sebelah barat Kab. Tangerang yang dikenal banyaknya kerajinan dari Bambu yaitu TopiBambu dimana sudah terkenal sejak nenek moyang tahun 1913 dan saat ini masih tersisa penerus anyaman TopiBambu yang tidak tersentuh oleh lingkungan Megapolitan yang menjadi penyangga Ibukota Jakarta

Rancakelapa, Kab. Tangerang sebuah desa yanag asri tumbuh subur baik perkebunan, pertanian dan dikelilingi oleh pohon bambu. Banyaknya pohon bambu di lingkungan masyarakat di sekitar Rancakelapa dimanfaatkan untuk membuat produk mulai dari Tempat sampah, Kukusan, Piring Bambu, Kursi dan Meja dari bambu, Kap Lampu semuanya masih sedikit dihasilkan karena kurangnya SDM dan ilmu untuk hal tersebut.

Potret Pengrajin Anyaman

Yang paling langka saat ini adalah terdapat adik dan kakak yang masih setia dalam melestarikan anyaman TopiBambu. Ibu Asnah adiknya dari Ibu Asmah tinggal di sebuah Desa Rancakelapa dimana waktu masih mudanya ikut mewarisi untuk membuat anyaman TopiBambu. Ibu Asnah berumur sudah 70 tahun dan Ibu Asmah kakaknya berumur sudah 80 tahun .

Ibu Asnah dan Ibu Asmah Penganyam

Ibu Asnah dan Ibu Asmah Penganyam

Kehidupan kedua Ibu tersebut sehari-hari membuat anyaman dari bambu atau biasa disebut ilaban (TopiBambu yang belum jadi) saat ini masih setia dilakukan karena sudah senja dan hanya bisa melakukan pembuatan ilaban dan sudah tidak sanggup lagi pergi berkebun bertani dan sebagainya. Kehidupan kedua ibu tersebut tidak mengadalkan anaknya namun terbiasa hidup mandiri sejak dulu.

Kondisi Rumah Penganyam

Kondisi Rumah Penganyam

Ruangan Penganyam Ibu Asmah

Ruangan Penganyam Ibu Asmah


Realita Ekonomi Pengrajin Anyaman TopiBambu

Kedua Ibu tadi  dalam sehari yang dikerjakan mulai permulaan pengirisan atau mimitian agar Bambu tersebut dibuat sehelai kertas dan selebar lidi untuk siap di anyam. Hasil anyaman kedua ibu tersebut dalam sehari dapat menyelesaikan 1 buah ilaban bahkan sampai 2 ilaban sesuai ukuran ilaban tersebut. Kebutuhan ekonomi saat ini untuk membeli beras saja 1 Liter kurang lebih Rp.5.000 – Rp. 7.000 sedangkan kedua ibu tersebut terkadang hanya membeli singkong atau umbi-umbian karena hasil nya belum cukup untuk membeli beras. Adapun setelah terkumpul banyak hasil anyaman ilaban tadi dan biasanya 1 minggu sekali akan datang ketua kelompok untuk mengambil dari penganyam dan dapat ditukarkan dengan uang atau bahan kebutuhan sehari-hari.Bahkan yang sangat ironisnya 10 ilaban tadi hanya dapat di tukar sebanyak 3 kg beras .

Semoga potret ini baik pembaca dan pemerintahan setempat dapat menciptakan pangsa pasar dan iklim agar dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat pengrajin anyaman dari Bambu yang sudah muali terlupakan bahkan mulai punah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 8 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 9 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 11 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sikap Pabowo Terhadap Ahok & Bu Mega …

Kwee Minglie | 7 jam lalu

GP Singarpura, Hamilton Luar Biasa Rosberg …

Hery | 7 jam lalu

Menguak Misteri Gua Jepang di Malang …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Bahaya Bateri Bekas …

Pan Bhiandra | 8 jam lalu

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: