Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Iskandar Zulkarnain

coba berbagi pada sesama, pemilik blog http://iskandarzulkarnain.com/

Kurban dan Korban di Hari Raya Kurban

REP | 02 October 2013 | 22:09 Dibaca: 237   Komentar: 14   3

Dua kata yang hampir sama, walau obyeknya berbeda. Kurban, sebagaimana umumnya, adalah hewan yang dikorbankan, sebut saja, Kambing, Kerbau, Sapi atau Onta. Sementara korban, lebih pada suasana pshykis manusia. Bisa saja, karena kondisinya menyudutkan atau mereka tersudut karena kondisi yang diluar control mereka yang jadi korban.

Dua kosa kata, kurban dan korban, akan akrab ditelinga kita, terutama pada hari-hari menjelang idul Adha. Bagi mereka yang memiliki kelebihan harta, maka melekat pada diri mereka kewajiban untuk melakukan kurban, apakah itu Kambing, Sapi atau Kerbau. Ibadah yang akrab dengan masalah social ini, maksudnya, sebagai jembatan bagi yang beruntung dan yang kurang beruntung. Bagi yang beruntung, memberikan kurban, bagi yang kurang beruntung menerima kurban. Dengan pristiwa memberi-menerima, maka diharapkan timbul rasa kasih, peduli dan merasa satu, diantara dua komoditas yang terpisahkan dengan jarak kepemilikan harta benda.

Namun, bagaimana dengan korban? Mereka yang menjadi korban, apakah karena ketidak adilan, diskrimanasi ras, diskriminasi suku dan agama, tidak selalu mereka yang kekurangan dari segi pemilikan materi. Ada sebuah system yang tidak berjalan disana, apakah itu, disebabkan karena timpangnya informasi atau ada yang tidak sesuai dengan idealnya sebuah aturan.

1380725210847426871

untuk mencegah korban perasaan pada pemeluk agama lain, pada masanya, Sunan Kudus, menganjurkan memotong kurban Kerbau (dok. Pribadi)

Bagaimana, misalnya saudara kita Syiah di Madura, menjadi korban karena minimnya pengetahuan kita tentang Syi’ah, sehingga pihak yang minim pengetahuan itu, merasa paling benar dan menvonish syi’ah sesat, lalu berusaha dihancurkan. Atau persepsi opini dibuat sedemikian rupa, seakan Irak memiliki senjata kimia, lalu Irak dihancurkan, dan ironisnya, hingga kini tuduhan kepemilikian senjata kimia itu, tidak pernah terbukti.

Padahal, inti ajaran kurban adalah bagaimana kita menyembelih keakuan kita, seperti sifat sombong, merasa diri paling besar, paling benar, paling menentukan segalanya. Sehingga, ketika keakuan itu telah kita sembelih dan mati, maka diri kita yang terbebas dari keakuan itu, kita persembahkan untuk melayani masyarakat luas, agar tiada lagi korban-korban yang jatuh disebabkan sifat keakuan itu.

Jika saja, ketika menunaikan Sholat Idul Adha, dimana posisi kepala, sama tinggi dengan posisi kaki, menjadikan kita sadar, bahwa, kepala yang selama ini, menjadikan kita merasa paling pintar, tetapi pada pelaksanaan “peribadatan” sama tinggi dengan kaki. Artinya, untuk mencapaii ibadah tertinggi itu, manusia yang satu tidak boleh merasa lebih tinggi dari manusia yang lain, hatta dia berfungsi sebagai pemimpin sekalipun, yang dalam hal ini, diwakili dengan kepala.

Semoga, kita berharap idul Adha 1432 H tahun ini, akan ada jembatan dan yang menghubungkan mereka yang beruntung dan kurang beruntung, sekaligus meniadakan korban-korban yang kelak akan jatuh, disebabkan karena ke-aku-an manusia. Semoga.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 6 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 7 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 11 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: