Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Iskandar Zulkarnain

coba berbagi pada sesama, pemilik blog http://iskandarzulkarnain.com/

Kurban dan Korban di Hari Raya Kurban

REP | 02 October 2013 | 22:09 Dibaca: 239   Komentar: 14   3

Dua kata yang hampir sama, walau obyeknya berbeda. Kurban, sebagaimana umumnya, adalah hewan yang dikorbankan, sebut saja, Kambing, Kerbau, Sapi atau Onta. Sementara korban, lebih pada suasana pshykis manusia. Bisa saja, karena kondisinya menyudutkan atau mereka tersudut karena kondisi yang diluar control mereka yang jadi korban.

Dua kosa kata, kurban dan korban, akan akrab ditelinga kita, terutama pada hari-hari menjelang idul Adha. Bagi mereka yang memiliki kelebihan harta, maka melekat pada diri mereka kewajiban untuk melakukan kurban, apakah itu Kambing, Sapi atau Kerbau. Ibadah yang akrab dengan masalah social ini, maksudnya, sebagai jembatan bagi yang beruntung dan yang kurang beruntung. Bagi yang beruntung, memberikan kurban, bagi yang kurang beruntung menerima kurban. Dengan pristiwa memberi-menerima, maka diharapkan timbul rasa kasih, peduli dan merasa satu, diantara dua komoditas yang terpisahkan dengan jarak kepemilikan harta benda.

Namun, bagaimana dengan korban? Mereka yang menjadi korban, apakah karena ketidak adilan, diskrimanasi ras, diskriminasi suku dan agama, tidak selalu mereka yang kekurangan dari segi pemilikan materi. Ada sebuah system yang tidak berjalan disana, apakah itu, disebabkan karena timpangnya informasi atau ada yang tidak sesuai dengan idealnya sebuah aturan.

1380725210847426871

untuk mencegah korban perasaan pada pemeluk agama lain, pada masanya, Sunan Kudus, menganjurkan memotong kurban Kerbau (dok. Pribadi)

Bagaimana, misalnya saudara kita Syiah di Madura, menjadi korban karena minimnya pengetahuan kita tentang Syi’ah, sehingga pihak yang minim pengetahuan itu, merasa paling benar dan menvonish syi’ah sesat, lalu berusaha dihancurkan. Atau persepsi opini dibuat sedemikian rupa, seakan Irak memiliki senjata kimia, lalu Irak dihancurkan, dan ironisnya, hingga kini tuduhan kepemilikian senjata kimia itu, tidak pernah terbukti.

Padahal, inti ajaran kurban adalah bagaimana kita menyembelih keakuan kita, seperti sifat sombong, merasa diri paling besar, paling benar, paling menentukan segalanya. Sehingga, ketika keakuan itu telah kita sembelih dan mati, maka diri kita yang terbebas dari keakuan itu, kita persembahkan untuk melayani masyarakat luas, agar tiada lagi korban-korban yang jatuh disebabkan sifat keakuan itu.

Jika saja, ketika menunaikan Sholat Idul Adha, dimana posisi kepala, sama tinggi dengan posisi kaki, menjadikan kita sadar, bahwa, kepala yang selama ini, menjadikan kita merasa paling pintar, tetapi pada pelaksanaan “peribadatan” sama tinggi dengan kaki. Artinya, untuk mencapaii ibadah tertinggi itu, manusia yang satu tidak boleh merasa lebih tinggi dari manusia yang lain, hatta dia berfungsi sebagai pemimpin sekalipun, yang dalam hal ini, diwakili dengan kepala.

Semoga, kita berharap idul Adha 1432 H tahun ini, akan ada jembatan dan yang menghubungkan mereka yang beruntung dan kurang beruntung, sekaligus meniadakan korban-korban yang kelak akan jatuh, disebabkan karena ke-aku-an manusia. Semoga.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 2 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 8 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 12 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 12 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Tetap Semangat Saat Melakukan Perjalanan …

Vikram - | 7 jam lalu

Cas, Cis, Cus Inggris-Ria, Pedagang Asong di …

Imam Muhayat | 7 jam lalu

Libatkan KPK Strategi Jokowi Tolak Titipan …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Aku dan Siswaku …

Triniel Hapsari | 8 jam lalu

Menulis Puisi Cinta untuk …

Dewi Pagi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: