Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Piter Randan B

www.Belajarterus.blog.com 'Penulis Buku Berkaca Pada Kepemimpinan Ahok, & The Ahok Way

Takut Polisi Siska Tak Terselamatkan

OPINI | 17 August 2013 | 08:45 Dibaca: 1548   Komentar: 44   4

Kematian Siska perempuan cantik berumur 34 tahun meninggalkan teka teki dan cerita yang memilukan. Siska menghembuskan nafasnya setelah dua jam berbaring dipinggir jalan tanpa pertolongan (Kompas.com 16/8/2013).  Siska disinyalir meninggal karena kehabisan darah karena lambat mendapatkan pertolongan. Masyarakat yang melihat tak berani menyentuhnya untuk memberikan pertolongan karena  takut disalahkan polisi. ‘Selama kurang dari dua jam itu darah dari kepalanya terus-menerus mengalir semakin banyak. Warga berkerumun pada saat itu. Namun, warga tidak berani menyentuh korban karena takut bermasalah dengan polisi.
“Ya kan, kami di sini nunggu polisi, polisi datangnya telat. Kami tidak berani menyentuh korban karena takut kena sidik jari sama polisi. Kami cuma tutupi saja badan korban pakai kain karena celananya juga kan lepas,” ujar AT yang melihat kejadian itu.

Entah apa yang salah dengan polisi di negeri ini dalam banyak kasus khususnya kecelakaan di jalan raya masyarakat tak berani menolong korban karena takut berurusan dengan polisi. Akibatnya banyak korban dibiarkan saja tanpa pertolongan hingga merenggang nyawa. Ironi memang tetapi itulah yang terjadi nurani masyarakat kita menebal dan tak mau tahu gara-gara alasan tak mau berurusan dengan polisi.

Sikap sebagian masyarakat ini bertolak belakang dengan sikap yang seharusnya. Polisi yang memiliki motto ‘kami siap melindungi anda/pelindung masyarakat’ seharusnya menjadi sahabat bukannya ditakuti.

Namun sikap masyarakat ini bukan tanpa alasan. Moral dan sikap oknum polisi yang cenderung arogan dan berjiwa ‘pemeras’ membuat masyarakat tak mau berurusan dengannya. Seorang teman yang juga adalah seorang polisi berucap, ‘anda benar atau pun salah usahakan jangan berurusan dengan polisi karena anda akan tetap diperas’.

Dalam kasus Siska mungkin saja nyawanya akan tertolong kalau nurani masyarakat sudah tak menebal gara-gara takut polisi. Lalu apakah masyarakat kita akan terus berkubang dalam sikap seperti itu? Rasanya memang ya, kalau polisi tidak mengubah sikapnya.

Tetapi bagi masyarakat yang mencintai nilai-nilai kemanusiaan seharusnya mengabaikan apapun untuk menolong sesamanya termasuk ‘tragisme’ berurusan dengan polisi. Biarkanlah oknum polisi berjalan menurut jalannya itu dan biarkan kemanusiaan kita berjalan di jalannya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan apa pun resikonya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: