Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Yustinus Sapto Hardjanto

Pekerja akar rumput, gemar menulis dan mendokumentasikan berbagai peristiwa dengan kamera video. Pembelajar di Universitas selengkapnya

Mahakam Hulu, Menahklukan Eforia “Riam” Pemekaran

REP | 29 May 2013 | 20:37 Dibaca: 1464   Komentar: 2   1

13698347431048377006

Hiasan Menandai Peresmian dan Perayaan Syukur Mahulu. Dok. Pri

Setelah menunggu kurang lebih 8 tahun, akhirnya Kabupaten Mahakam Hulu terbentuk dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pembentukan Kabupaten Mahakam Ulu di Provinsi Kalimantan Timur. Syukuran atas pembentukan dan peresmian Kabupaten Mahakam Hulu atau biasa disebut Mahulu dilaksanakan dari tanggal 18 s/d 20 Mei 2013. MS Ruslan ditunjuk sebagai Pjs. Bupati untuk kabupaten paling bungsu dari propinsi Kalimantan Timur ini.

Tanggal 24 Mei 2013 saya sempat singgah satu malam di Ujoh Bilang, kampung yang akan menjadi Ibukota Kabupaten Mahulu. Nama Ujoh Bilang tidak terlalu terkenal, sebelumnya orang lebih banyak menyebut nama Long Bagun yang adalah kecamatan yang beribu kota di Ujoh Bilang. Di kampung kecil yang terletak sebelah kiri sungai Mahakam ke arah mudik ini masa depan Kabupaten Mahulu diletakkan.

Belum ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kelak di kampung itu akan berdiri Ibukota Kabupaten Mahulu yang dirindukan oleh penduduknya selama bertahun-tahun. Yang terlihat hanyalah sisa-sisa keramaian, umbul-umbul berderet dari dermaga ke arah gapura kampung, panggung di lapangan yang belum di bongkar, puluhan baliho berisi ucapan selamat dan papan nama kumpulan SKPD yang disandarkan di dinding kecamatan.

13698349941327304078

Sudut Depan Kampung Ujoh Bilang. Dok. Pri

Perjalanan Kabupaten Mahulu memang dimulai dari titik nol, bangunan kantor pemerintah yang ada di Kecamatan Long Bagun tak akan cukup dan layak untuk ditempati menjadi perkantoran sebuah Kabupaten. Pun demikian juga dengan fasilitas-fasilitas lainnya, seperti jalan di dalam kawasan, antar kawasan, suplai energi, pusat ekonomi dan perdagangan, fasilitas kesehatan termasuk air bersih.

Akses utama ke Kabupaten Mahulu dari daerah terdekat yaitu Kabupaten Kutai Barat sebagai Kabupaten Induk adalah melalui jalan air atau sungai. Butuh waktu 3 – 4 jam untuk mencapai Long Bagun dari Tering dengan menumpang motor boat yang cepat. Perjalanan dari Tering hingga Long Bagun dengan speed boat bertarif Rp. 300.000. Perjalanan yang lebih murah bisa ditempuh dengan kapal kayu, kapal penumpang dan barang yang lebih besar tapi memakan waktu kurang lebih 10 sampai dengan 12 jam. Buat yang gemar berwisata, mahalnya ongkos itu akan terbayar dengan menyaksikan pemandangan yang disebut sebagai “Dinding Batu”. Dinding Batu adalah gunung batu putih (kapur) yang panjangnya kurang lebih 800 meter dan ketinggian yang bervariasi hingga 100 meteran. Bagian yang bersentuhan dengan sungai terkikis sehingga membentuk dinding panjang.

13698348241027819801

Batu Dinding. Dok. Pri

Kapal kayu yang besar juga hanya sampai ke Long Bagun, tak bisa meneruskan perjalanan ke kecamatan Kabupaten Mahulu yang lainnya yaitu Long Pahangai dan Long Apari. Perjalanan ke kedua kecamatan itu tak mungkin dilalui oleh perahu besar karena harus melewati puluhan riam yang ganas. Riam yang arusnya kencang, sempit dan dikitari oleh bebatuan.

Setelah menginap semalam di Ujoh Bilang besoknya saya meneruskan perjalanan menuju Long Pahangai. Harus menginap di Ujoh Bilang karena saat sampai Long Bagun sudah tidak ada speed atau long boat yang akan pergi ke Long Pahangai. Dalam sehari hanya ada satu atau dua trip ke Long Pahangai dan Long Apari sehingga kalau tertinggal maka mesti menginap.

Para pemilik atau operator speed biasanya mempunyai rumah apung sebagai dermaga atau terminal penumpang. Mereka yang tertinggal bisa memakai rumah ini sebagai tempat menginap untuk menunggu jadwal keberangkatan esok hari. Kalau tidak mau menginap di situ, para calon penumpang bisa menginap di penginapan sederhana yang ada tak jauh dari dermaga.

Sekitar jam 9 pagi speed boat berangkat, sebuah perjalanan yang saya tunggu-tunggu dengan harap-harap cemas. Menurut cerita ada sekitar 12 riam pada perjalanan antara Long Bagun dan Long Pahangai. Sayangnya ketika melewati riam, air agak tinggi karena hujan sehingga riam-riamnya tak terlalu kelihatan. Namun tetap saja terlihat pusaran dan gelombang air di sungai yang membuat motoris speed boat harus menghidupkan moda turbo pada mesin speed boatnya. Terdengar mesin meraung bekerja keras agar speed boat tetap berada dalam jalur yang benar dan tidak terantuk bebatuan.

13698348732019779544

Menembus Riam. Dok. Pri

Saat melewati riam badan speed boat terasa berguncang keras, mesin meraung disertai bunyi pukulan air pada badan speed boat. Air memancar deras dan sebagian memercik ke arah penumpang. Sebenarnya pemandangan di sisi kanan kiri riam sungguh indah, namun kebanyakan orang tak sempat untuk menikmatinya lantaran khusyuk berdoa agar bisa lewat riam dengan selamat.

Perjalan yang lebih berat akan dialami apabila memakai long boat. Badan perahu yang panjang dan tidak bisa mengikuti naik turunnya gelombang membuat kemungkinan besar air akan masuk ke badan long boat apabila menempuh perjalanan mudik. Beratnya badan long boat juga membuat perjalanan tidak mulus, terkadang harus mundur kembali untuk mengambil ancang-ancang. Pada musim kemarau saat riam tinggi, terkadang long boat harus berusaha sampai tujuh kali untuk bisa berhasil melewati riam.

Jika air tak terlalu tinggi sebagian penumpang terpaksa juga harus turun, naik ke bukit dan berjalan kaki hingga di tempat yang tidak sulit untuk dilalui oleh speed boat atau long boat. Long boat pengangkut barang misalnya mesti bolak balik beberapa kali untuk mencicil barang yang diangkutnya.

Andai saja tidak jauh dari mana-mana dan medannya tak sulit maka lokasi riam adalah lokasi yang potensial untuk menikmati keindahan alam. Banyak dinding batu di kanan kiri riam, di beberapa tempat juga ada air terjun bertingkat sehingga percikan airnya yang lembut membentuk gumpalan kabut putih yang segar bila terpercik ke wajah. Pemandangan akan semakin indah dengan kombinasi hamparan dan perbukitan yang masih hijau, ditumbuhi aneka pepohonan.

1369834923340849633

Air Terjun di Dinding Riam. Dok. Pri

Pengalaman menyusuri riam sungai Mahakam dalam perjalanan antara Long Bagun dan Long Pahangai membuat saya makin memahami cerita para tetua di beberapa desa yang dihuni masyarakat Dayak yang ada di Samarinda maupun Kutai Kartanegara. Mereka bercerita betapa dahulu untuk mendapatkan garam dan keperluan hidup lainnya mereka harus milir ke Long Bagun dan itu butuh waktu berbulan-bulan.

Seorang teman bergurau, bahwa yang milir dan malas kembali biasanya akan membuat pemukiman baru dan yang mudik lalu juga malas kembali maka akan hidup dan menikah di hulu. Seorang ibu yang bercerita dengan saya saat sarapan pagi, lahir dan besar di hulu riam, ternyata sampai sekarang masih menyimpan pertanyaan “Kok bisa-bisanya nenek moyang kami memilih hidup di tempat ini?”.

Pertanyaan itu sah-sah saja karena perjalanan melewati riam bahkan sampai sekarang perlu perjuangan, apalagi di jalan dahulu ketika perahu tak bermesin dan hanya mengandalkan tenaga manusia. Namun buat saya siapapun yang memutuskan dan berani tinggal disana adalah orang-orang yang kuat. Berani hidup meski berhadapan dengan banyak kesulitan yang tidak dialami oleh kebanyakan masyarakat lainnya. Mereka tidak mengeluh dan rewel meski harga bensin disana rata-rata 10 ribu rupiah per liternya. Dan bukan hanya itu, mereka membayar jauh lebih mahal berbagai barang kebutuhan lainnya.

Seluruh warga yang saya temui menyatakan kegembiraan atas pemekaran Mahakam Hulu. Semua mengatakan kenapa tidak datang saat syukuran lalu. Ada rona pancaran kegembiraan di wajah mereka saat menceritakan betapa ramai dan meriahnya acara syukuran itu. Saya hanya berharap agar antusiasme warga atas pemekaran daerahnya akan menjadi jalan bagi mereka untuk menikmati ‘buah buah’ pembangunan yang telah lama dinikmati masyarakat di tempat lainnya. Tantangan untuk melakukan percepatan pembangunan tentu bukan soal yang sulit untuk masyarakat Mahakam Hulu yang terbiasa menahklukan riam Mahakam yang ganas itu. Adalah tugas dari para pengambil kebijakan, pemimpin baru di Kabupaten Mahulu untuk tidak menghianati dan mengecewakan warganya dengan menggadaikan kekayaan dan sumberdaya alam daerah itu kepada investor.

Kini mulai terdengar investor yang masuk dan mengiming-imingi masyarakat dengan berbagai fasilitas asal bersedia menyerahkan tanahnya untuk dijadikan perkebunan besar dengan komoditas yang masih asing untuk masyarakat disana. Semoga datangnya investor dan pendatang yang memang diperlukan tidak membuat goncangan hebat yang merusak keseimbangan dan kedamaian hubungan antar warga serta harmonisasi antara masyarakat dengan alamnya.

Pondok Wiraguna, 29 Mei 2013

@yustinus_esha

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 10 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 12 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 13 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 14 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 11 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 11 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 11 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 12 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: