Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Imi Suryaputera™

Pria, orang kampung biasa, Pendidikan S-3 (Sekolah Serba Sedikit)

Sepeda Motor dan Mobil Surat Sebelah

REP | 19 February 2013 | 20:37 Dibaca: 1983   Komentar: 0   0

Seorang pernah menawari saya sebuah sepeda motor. Sebetulnya jika ditawari sepeda motor, bukanlah hal yang aneh. Namun akan menjadi hal yang mengherankan jika sebuah sepeda motor keluaran terbaru, beberapa bulan, tapi dijual seharga antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta.

Sangat murah, masih baru pula. Tapi menurut teman saya itu; sepeda motor itu memiliki “surat sebelah”.
Saya pun penasaran dengan istilah tersebut.
Sepeda motor surat sebelah, menurut teman saya itu merupakan sepeda motor yang dibeli secara angsuran atau kredit melalui lembaga pembiayaan maupun penjamin seperti Bussan Auto Finance (BAF), Adira, maupun FIF (Federal International Finance).

Disebut dengan surat sebelah, disebabkan sepeda motor tersebut belum lunas; cuma memiliki STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan), belum ada BPKB (Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor).
Oleh pemilik asalnya sepeda motor itu dipindah tangankan ke pihak lain alias dijual tanpa sepengetahuan pihak Dealer maupun lembaga penjamin kredit.
Modus yang biasa digunakan adalah; sepeda motor diberitakan maupun dinyatakan hilang oleh pemilik asalnya.

Sepeda motor surat sebelah tersebut biasanya dijual di tempat maupun lokasi yang jauh dari tempat dimana Dealer ataupun lembaga penjaminnya berada. Pihak pembelinya pun sebelumnya diberitahu bahwa sepeda motor itu tidak diperkenankan dibawa ke tempat dimana Dealer maupun lembaga penjaminnya berada. Kalaupun berani membawanya, diminta agar berhati-hati. Biasanya pihak Kepolisian dalam melakukan operasi lalulintas terkait kelengkapan sepeda motor; cuma menanyakan STNK saja, jadi masih aman.

Namun agar sepeda motor surat sebelah tetap aman dari pencarian pihak Dealer maupun lembaga penjaminnya, pihak penjualnya berkerjasama dengan oknum yang diperintahkan melakukan pencarian.
Kemungkinan praktik jual beli model begitu memiliki semacam jaringan yang berkejasama dengan oknum di pihak Dealer ataupun lembaga penjamin.

Ternyata model surat sebelah ini juga terjadi pada mobil. Saya pernah pula ditawari sebuah mobil dengan harga sangat miring, tapi ya itu tadi; cuma punya STNK. Jadi hati-hati, berani beli, salah-salah bisa hilang duit, dan berurusan dengan pihak Kepolisian pula.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Menjelajah Sejuk dan Hijaunya Tebing di …

Imam Hariyanto | 8 jam lalu

Indonesia Lebih Baik Berkat Internet …

Juli Simbolon | 8 jam lalu

Impian Dari Calon Petani Muda …

Eko Hartanto | 8 jam lalu

Apapun, Alfred Riedl Adalah Pelatih yang …

M Asif Rifki | 8 jam lalu

[Seandainya] Booth Kopi Gayo Hadir di …

Syukri Muhammad Syu... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: