Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Imi Suryaputera

Pria, orang kampung biasa, Pendidikan S-3 (Sekolah Serba Sedikit), Etnis : Banjar, Islam (Mu'tazilah). Contact : - selengkapnya

Sepeda Motor dan Mobil Surat Sebelah

REP | 19 February 2013 | 20:37 Dibaca: 1817   Komentar: 0   0

Seorang pernah menawari saya sebuah sepeda motor. Sebetulnya jika ditawari sepeda motor, bukanlah hal yang aneh. Namun akan menjadi hal yang mengherankan jika sebuah sepeda motor keluaran terbaru, beberapa bulan, tapi dijual seharga antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta.

Sangat murah, masih baru pula. Tapi menurut teman saya itu; sepeda motor itu memiliki “surat sebelah”.
Saya pun penasaran dengan istilah tersebut.
Sepeda motor surat sebelah, menurut teman saya itu merupakan sepeda motor yang dibeli secara angsuran atau kredit melalui lembaga pembiayaan maupun penjamin seperti Bussan Auto Finance (BAF), Adira, maupun FIF (Federal International Finance).

Disebut dengan surat sebelah, disebabkan sepeda motor tersebut belum lunas; cuma memiliki STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan), belum ada BPKB (Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor).
Oleh pemilik asalnya sepeda motor itu dipindah tangankan ke pihak lain alias dijual tanpa sepengetahuan pihak Dealer maupun lembaga penjamin kredit.
Modus yang biasa digunakan adalah; sepeda motor diberitakan maupun dinyatakan hilang oleh pemilik asalnya.

Sepeda motor surat sebelah tersebut biasanya dijual di tempat maupun lokasi yang jauh dari tempat dimana Dealer ataupun lembaga penjaminnya berada. Pihak pembelinya pun sebelumnya diberitahu bahwa sepeda motor itu tidak diperkenankan dibawa ke tempat dimana Dealer maupun lembaga penjaminnya berada. Kalaupun berani membawanya, diminta agar berhati-hati. Biasanya pihak Kepolisian dalam melakukan operasi lalulintas terkait kelengkapan sepeda motor; cuma menanyakan STNK saja, jadi masih aman.

Namun agar sepeda motor surat sebelah tetap aman dari pencarian pihak Dealer maupun lembaga penjaminnya, pihak penjualnya berkerjasama dengan oknum yang diperintahkan melakukan pencarian.
Kemungkinan praktik jual beli model begitu memiliki semacam jaringan yang berkejasama dengan oknum di pihak Dealer ataupun lembaga penjamin.

Ternyata model surat sebelah ini juga terjadi pada mobil. Saya pernah pula ditawari sebuah mobil dengan harga sangat miring, tapi ya itu tadi; cuma punya STNK. Jadi hati-hati, berani beli, salah-salah bisa hilang duit, dan berurusan dengan pihak Kepolisian pula.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 22 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 23 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: