Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Muhammad Akrom

enjoy, free, and netral or independent. http://mochacom.wordpress.com/

Poligami, (Kenapa) Tidak

REP | 14 November 2010 | 12:20 Dibaca: 417   Komentar: 5   1

Krapyak (11/11/10). Senja baru saja kehilangan warna merahnya. Sedikit namun pasti, langit mulai menunjukkan hitam gelapnya. Bulan dan bintang gemintang pun enggan menyapa lewat keindahan pancaran cahayanya. Dan yang terdengar sangat jelas adalah lantunan sholawat nabi yang dibaca hampir oleh semua santri diseluruh komplek yang ada di PP. AL-Munawwir Krapyak, tak terkecuali di Madrasah Huffadh II (MH2).

Pada Kamis malam Jum’at, 11 November 2010, usai sholat maghrib seluruh santri MH2 berkumpul di Aula. Tidak seperti biasanya, kali ini lantunan sholawat nabi terdengar begitu singkat. Tak lama setelah lantunan sholawat berhenti, Muhammad Maknun membuka acara diskusi. Berangkat dari surat An-Nisa ayat 3, tema diskusi yang dinahkodai oleh Kementrian Pendidikan MH2 mengambil tema “Poligami Dalam Pandangan Islam”, dengan moderator Muqtadir.

Sebagai pembuka acara diskusi, selaku koordinator Kementrian Pendidikan, Muhammad Makmun menyampaikan gagasannya perihal poligami. Menurutnya, Islam tidak melarang poligami. Rasulallah Saw sendiri beristri sembilan, begitu pula para sahabat yang rata-rata mempunyai istri lebih dari satu, katanya.

Diskusi tersebut menghadirkan dan mempertemukan santri-santri yang pro dan kontra poligami. Dari kubu yang pro, hampir semua santri MH2 sepakat dibolehkannya poligami. Sebab semua sumber hukum Islam, baik al-Qur’an maupun hadis membolehkannya.

Sa’dullah Asvy, santri yang mengidolakan tokoh JIL (Ulil Absar Abdala) ini berpandangan lain. Menurutnya, meskipun sumber hukum Islam membolehkan poligami, namun harus ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu adil. Dan mustahil laki-laki sekarang mampu untuk itu (Adil, red). Ia pun mengambil dalil dalam surat an-Nisa ayat 129: “Dan kamu sekali-kali tidak bisa berlaku adil terhadap isteri-isterimu…”.

Ia juga mengatakan, adil tidak sekedar adil materi, tetapi juga menyangkut semuanya. Baik fisik maupun jiwa, dhohir maupun bathin. Adakah diantara teman-teman yang berani menjamin hatinya dapat berlaku adil? Dan apakah teman-teman mampu menguasai hati kita sendiri?, katanya dihadapan para peserta diskusi.

Lebih lanjut ia juga mengatakan bahwa, Nabi Muhammad pernah bersabda, “Ya Allah, saya berpoligami, tapi inilah yang mampu saya lakukan (fisik, materi, dan giliran), akan tetapi hati saya lebih senang pada Aisyah dari pada yang lain, dan kepada Siti Khadijah meskipun ia sudah meninggal. Dan semua ini diluar kemampuan saya”.

Berbeda dengan pernyataan kedua santri diatas, Habib Zailani, salah seorang santri yang kuliah di Hukum Keluarga (al-Ahwal as-Syakhsiyah) UIN Sunan Kalijaga menyatakan, “Boleh berpoligami, asal sudah memenuhi dan sesuai syarat yang telah ditentukan oleh Hukum Islam, dalam hal ini Hukum Islam yang berlaku di Indonesia (KHI, red).

1289737176887814563

berdua, satu saja cukup

Akhirnya, terucaplah sebuah kisah dari mulut seorang santri sudah malang melintang belajar agama di berbagai pondok pesantren. Kang Ngajiyo, demikian teman-teman santri MH2 memanggilnya. Ia bertutur, pada masa kekuasaan dinasti Abbasiyah, ada seorang istri pejabat yang tidak suka pada suaminya yang baru kawin lagi. Ia pun mengadukannya pada Khalifah Abu Mansyur. Lalu Khalifah pun mengundang keduanya (suami dan istri) untuk dipertemukan dengan Imam Abu Hanafi, dan akhirnya ketiga orang itu berdiskusi.

Sang suami pun bertanya kepada Sang Imam, “Berapa banyak laki-laki diperkenankan untuk mengawini perempuan?”. Jawab Sang Imam, “Empat orang istri”. Suami tadi pun melirik istrinya sambil berkata, “Saiki wis ngerti toh?”. Sang istri pun menjawab, “Ya, enyong wis ngerti”, dan bertanya pada Sang Imam, “Bolehkah istri merasa keberatan jika suaminya kawin lagi?”. Sang Imam menjawab, “Tidak boleh, karena itu sudah ketetapan Tuhan”. Sang suami pun kembali melirik istrinya sambil berkata,”Wis krungu dewek toh”.

Namun tidak berhenti disitu, Sang Imam kemudian melanjutkan pandangannya dan berkata, “Akan tetapi wahai para suami, Allah menetapkan harus adil dan bagi yang tidak mampu adil sebaiknya mengikuti tuntunan Allah juga, yakni satu saja”. Kali ini gantian istrinya yang melirik suaminya sambil berkata,”Kang mas wis krungu dewek toh”.

Selesai diskusi, Sang istri mengirim hadiah pada Imam Hanafi. “Terima kasih, engkau telah menasehati suamiku”, katanya. Namun Sang Imam menolak hadiah itu dan berkata, “Saya tidak basa-basi menyampaikan hal itu, dan saya hanya menyampaikan pandangan saya tentang poligami yang saya pahami dari al-Quran”. Menurutmu?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 9 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 11 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 13 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: