Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Kid Van Dik

hanya mencari ridho-NYA

Hikmah Bencana

OPINI | 29 October 2010 | 00:01 Dibaca: 469   Komentar: 10   4

Sebelumnya saya ikut berbela sungkawa kepada saudara-saudara kita yang saat ini terkena bencana atau musibah yang membuat mereka menderita baik lahir maupun batin. Saya merasa sedih menyaksikan berbagai macam bencana yang melanda Negara kita tercinta ini. Lebih merasa sedih lagi karena saya tidak bisa membantu mereka dalam bentuk tenaga maupun dana yang melimpah.

(Tulisan ini saya tujukan kepada diri sendiri dan saudara-saudara kita yang tidak terkena bencana. Karena saudara-saudara kita yang terkena bencana sesungguhnya tidak butuh tulisan tapi butuh perhatian dan bantuan riil untuk menopang hidup mereka)

Kalau saya amati, sudah sejak tahun 2000 hingga tahun 2010 sekarang ini, Indonesia mengalami berbagai bencana yang tergolong bencana besar. Saya tidak ingat lagi berapa kali bencana besar menimpa negeri ini karena saking banyaknya, mulai dari kecelakaan pesawat, meluapnya lumpur Lapindo, gunung meletus, gempa bumi, tsunami, angin puting beliung, hujan badai, banjir, dan sebagainya. Saya tidak tahu apakah bencana-bencana itu sebagai azab atau justru ujian dari Allah SWT kepada kita. Yang jelas berbagai bencana itu nyata terjadi disini, di Negara yang katanya berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Berbicara masalah bencana pasti mengarah kepada satu pertanyaan yang biasanya menjadi sesuatu yang membuat kesalahpahaman yaitu apa yang menyebabkan terjadinya bencana-bencana yang menimpa manusia? Kalau boleh saya jawab, yang menyebabkan terjadinya bencana itu tidak lain dan tidak bukan adalah si manusia sendiri alias karena perbuatan dan kelakuan manusia sendiri.

(Sebelum saya teruskan, perlu dijelaskan disini bahwa tulisan ini tidak bermaksud mencari kambing hitam tapi kambing putih. Tulisan ini juga hanya sekedar berbagi, saling mengingatkan agar kita introspeksi diri dan saling nasehat-menasehati akan kebenaran sesuai perintah agama)

Menurut fitrahnya manusia adalah Khalifatul fil Ardh (khalifah di bumi) yang mengemban amanah dari Allah SWT untuk mengelola dan menjaga bumi sesuai kehendak-Nya. Dengan demikian manusia adalah ‘wakil’ Allah di muka bumi ini. Dalam sejarahnya sebelum manusia dijadikan Allah sebagai khalifatul fil-ardh, hal ini dipertanyakan oleh para Malaikat, mengapa Allah mau menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, sementara kelakuan mereka adalah selalu membuat kerusakan dan suka menumpahkan darah. Tapi Allah tetap pada pendirian-Nya. Demikianlah Allah menobatkan manusia sebagai khalifah-Nya di bumi dan manusia pun menyatakan sanggup memikul amanah yang begitu besar ini, sementara makhluk-makhluk yang lain tidak menyanggupinya.

Pada awalnya manusia berhasil menjaga amanah sebagai khalifatul fil-ardh yakni hidup di bumi sesuai yang dimaui-Nya atau dikehendaki-Nya, namun seiring berjalannya waktu dengan disertai perkembangan jumlah dan peradaban mereka, manusia mulai menyelewengkan amanah dari Tuhannya antara lain berlaku seperti binatang yaitu suka berkelai, saling menjatuhkan, bahkan sampai menumpahkan darah. Kemudian mereka juga berbuat kerusakan terhadap alam yang ada. Mereka juga mulai melupakan siapa yang menjadikan dirinya khalifatul fil-ardh, ya mereka mulai melupakan Tuhannya bahkan menjadikan tuhan-tuhan lain sebagai sesembahannya.

Demi menyaksikan kelakuan manusia yang seperti itu Allah SWT kemudian menurunkan seorang ‘utusan’ yang disebut Nabi atau Rasul dari golongan manusia juga untuk mengingatkan manusia agar kembali kepada fitrahnya yaitu sebagai khalifatul fil-ardh yang senantiasa beribadah kepada Allah, Tuhannya. Karena Allah tidak menciptakan manusia kecuali agar mereka beribadah (mengabdi) kepada-Nya. Peringatan Nabi atau Rasul itu dalam perkembangannya ada manusia yang mematuhinya dan ada pula yang menolak bahkan menentangnya mentah-mentah. Apabila jumlah manusia yang menentang itu jauh lebih besar daripada yang patuh (taat), maka Allah tidak segan-segan mendatangkan bencana yang bisa memusnahkan peradaban manusia yang ada di bumi.

Demikianlah seterusnya kehidupan di dunia ini, dijalani manusia dengan dua kubu yang berlawanan. Yang satu adalah kubu yang mengakui Tuhan dan senantiasa taat dan patuh (mengabdi) kepada-Nya, sedangkan kubu yang lainnya adalah kubu yang tidak mengakui Tuhan dan tidak mau mengabdi kepada-Nya. Yang satu adalah golongan pengikut Tuhan, sedangkan yang lainnya adalah golongan pengikut Iblis. Mengapa bisa terjadi dua kubu yang berlawanan? Itu ada kaitannya dengan sejarah penciptaan manusia.

Sekarang coba sejenak kita masuk ke masa lalu (15 abad yang lalu) yakni ke masa dimana segolongan manusia hidup dalam kehidupan yang damai sentosa dan sejahtera. Setiap orang berlaku jujur dalam segala hal, bersungguh-sungguh dalam menunaikan amanah dan tidak khianat. Mereka juga senantiasa berhati ikhlas dalam ilmu dan amal serta takut akan riya’. Sepanjang hidup mereka selalu bersyukur. Mereka selalu berusaha menjauhi maksiat dan meninggalkan segala bentuk kemunafikan. Lisan mereka senantiasa terjaga dari berkata kotor dan tidak suka ghibah. Telinga mereka terjaga dari mendengar berita yang belum tentu benar. Mereka sibuk dengan aib sendiri dan tidak sibuk dengan aib orang lain serta selalu menutupi aib orang lain. Tingkah laku mereka begitu sopan, rendah hati dan tidak sombong. Mereka menghormati orang lain walaupun berbeda agama. Mereka berhati lemah lembut dan senantiasa mengingat kematian dan kehidupan setelah mati serta takut terhadap akhir kehidupan yang jelek. Mereka begitu sibuk untuk berdzikir kepada Allah SWT, banyak taubat dan beristighfar. Mereka selalu menjunjung tinggi hak-hak Allah dan Rasul-Nya. Mereka senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ya, mereka mempunyai akhlaqul karimah yakni akhlaq yang begitu mulia sesuai yang dicontohkan teladan mereka, Rasulullah SAW. Dengan adanya akhlaqul karimah diantara mereka, maka terciptalah masyarakat yang baldatun tayyibatun warabbun ghafur, terciptalah suatu peradaban yang begitu indah. Itulah yang disebut sebagai masyarakat madani.

Namun sayang seribu sayang, keadaan masyarakat yang demikian indahnya ternyata hanya berlangsung selama 300 tahun (3 abad/kurun) saja. Mengapa? Karena mulai kurun ke-4 hingga kurun ke-15 (zaman sekarang) banyak manusia (orang Islam) yang sudah tidak lagi mengamalkan ajaran agamanya, ajaran Nabinya. Mereka tidak mengetahui lagi bagaimana cara menghubungkan dirinya dengan Allah SWT. Mereka tidak lagi mempunyai akhlaq sebagaimana yang ditunjukkan Rasul.

(Mohon maaf sebelum lanjut lagi, saya sebenarnya sedang menyikapi masalah bencana yang kerap terjadi akhir-akhir ini, tapi malah muter-muter dulu)

Saya sebenarnya tidak ingin mengaitkan masalah bencana dengan agama, tapi dalam kenyataannya tidak bisa, karena memang keduanya berkaitan. Apalagi saya berkeyakinan bahwa manusia diciptakan adalah agar mereka mengetahui (mengenal) Tuhannya, tentu bukan Tuhan jadi-jadian yang dibuat oleh pikiran manusia tapi Tuhan yang Haq yakni Allah SWT. Agar manusia bisa mengenal Tuhan yang Haq itu adalah melalui agama (Islam). Tanpa Islam, mustahil manusia mengenal Allah SWT. Mengenal Allah itulah tujuan awal dan tujuan akhir hidup manusia. Sehingga ada istilah, awal agama adalah mengenal Allah, dan akhir agama adalah mengenal Allah.

Kembali ke masalah bencana. Jadi terjadinya bencana dan musibah di muka bumi ini adalah akibat ulah manusia itu sendiri dengan kata lain akibat akhlaq manusia yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Allah tentunya menginginkan manusia itu berbuat baik (akhlaqul karimah) baik terhadap Tuhannya, terhadap dirinya maupun terhadap orang lain, baik terhadap alam di sekitarnya termasuk terhadap makhluk hidup lainnya. Tapi yang terjadi sekarang adalah kebanyakan manusia mempunyai akhlaq yang tidak baik (akhlaqul mazmumah).

Disini saya coba membagi akhlaqul mazmumah menjadi 2 macam (mudah-mudahan benar):

  1. Akhlaq jelek yang berasal dari hati antara lain sombong, berhati batu, tidak mau bersyukur, suka berbohong (tidak jujur), suka menipu, suka berbuat maksiat, menyelewengkan amanah, merasa paling benar sendiri (tidak menghormati orang lain), berpecah-belah, suka marah (mengumpat), suka aniaya (dzalim), suka menyebarkan aib orang lain (menggunjing), riya’, tamak, lupa akan Allah SWT, dan sebagainya.
  2. Akhlaq jelek yang berasal dari perilaku antara lain suka membuang sampah sembarangan, tidak mau mengantri, mengambil barang yang bukan haknya, merusak alam, menyakiti orang lain atau makhluk lain dan sebagainya.

Semua sifat/ akhlaq tersebut saya konversikan menjadi satu istilah ‘penganut hawa nafsu’. Bagaimana itu bisa terjadi? Adanya sifat (akhlaq) jelek pada no.1 saya rasa adalah karena hati manusia sudah tidak ada lagi ‘Tuhan’ di dalamnya. Yang ada hanyalah nafsu belaka. Adapun perilaku (akhlaq) jelek pada no.2 adalah karena manusia sudah tidak lagi mengenal agamanya, manusia sudah acuh tak acuh pada Nabinya (tidak meneladani Nabi). Sungguh ini adalah suatu keprihatinan yang sangat dalam. Akibat akhlaq jelek pada no.1 bisa menyebabkan azab berupa bencana atau musibah dari Allah. Sedangkan akhlaq jelek pada no.2 bisa menyebabkan bencana alam dari alam itu sendiri.

Kedua macam bencana yang menimpa manusia, baik dari Tuhan maupun dari alam ataupun dari manusia & makhluk lain sebenarnya bisa dicegah. Bagaimana caranya? Ya kembalilah kepada Tuhanmu (maksudnya bukan mati) yakni bertaubat kemudian mengingat Allah dalam hati. Ingat, hanya dengan mengingat Allah sajalah hati menjadi tenang. Apabila istiqamah mengingat-Nya, insya Allah sifat-sifat (akhlaq) yang jelek akan luntur dan berubah menjadi sifat (akhlaq) yang mulia. Namun jangan senang dulu, karena itu saja belum cukup. Kita juga harus memperbaiki perilaku kita yang jelek. Mengubah perilaku (akhlaq) ini tidaklah gampang, karena yang diubah ini bukan hanya perbuatan panca indera kita tapi sebenarnya adalah MIND SET kita. Mind set bisa diubah dengan cara berlatih atau mengikuti training bersama ahlinya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kurun 15 sekarang ini adalah kurun yang semrawut, zaman edan (kata pujangga), zaman krisis multi dimensional (kata negarawan), kurun jahannam (kata Guruku). Tarikh Nabi Ya’kub pun menunjukkan kepada kita bahwa zaman akhir kurun 15 adalah sangat jahannamnya. Saking jahannam-nya sampai-sampai seekor harimau yang didakwa memakan Nabi Yusuf tidak sanggup jika harus menjalani hukuman hidup dalam zaman sekarang ini. Jadi harimau itu menganggap hidup di akhir zaman ini sebagai hukuman yang seberat-beratnya. Dan memang demikianlah keadaannya, hidup di zaman sekarang ini adalah penuh dengan godaan-godaan, penuh dengan ujian dan tantangan yang membuat kita berpaling dari Tuhan. Tapi kita berharap semoga bencana ataupun musibah yang datang secara bertubi-tubi ke negeri ini bukanlah suatu azab dari-Nya melainkan hanyalah sebuah ujian agar kita menjadi manusia yang bijak yang tidak lupa akan Tuhannya. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini.

Akhirul kalam, saya mengajak kepada diri sendiri dan masyarakat Indonesia pada umumnya marilah kita tundukkan kepala dan hati kita di depan wajah-Nya, introspeksi diri, mengakui segala kesalahan dan dosa yang pernah kita perbuat di masa lalu, kemudian bertaubat dengan sebenarnya dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai pemilik alam jagat raya ini.

Wallahu a’lam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Kasus Florence Sihombing Mengingatkanku akan …

Bos Ringo | | 03 September 2014 | 06:01

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | | 03 September 2014 | 08:38


TRENDING ARTICLES

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 3 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 4 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 5 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 6 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Tur Eropa dan Blunder Lanjutan Timnas U-19 …

Mafruhin | 7 jam lalu

Catatan Perjalanan: +Nya Stasiun Kereta Api …

Idris Harta | 8 jam lalu

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 8 jam lalu

Orangtua yang Terobsesi Anaknya Menjadi …

Sam Edy | 8 jam lalu

Indo TrEC 2014 : Mengurai Kekusutan Lalu …

Wahyuni Susilowati | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: