Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Asrul

Penggiat lingkungan hidup dan persampahan. Menginisiasi Pengolahan Sampah (Kab/Kota) di Indonesia by NGO Posko Hijau selengkapnya

Solusi Sehat Pemilukada

OPINI | 08 October 2010 | 13:17 Dibaca: 132   Komentar: 2   0

Ricuh Pilkada_dok.asrul

Ricuh Pilkada_dok.asrul

Premanisme politik atau demo protes pemilukada menjadi asesori di etalase pemberitaan Indonesia dewasa ini, hampir setiap hari terjadi di seantero nusantara. Kapan ini berakhir? Sepanjang system tidak dibenahi dan berjalan sebagaimana mestinya, terkhusus moalitas pelaksananya. Yakinlah akan menuai hasil yang akan merugikan bangsa Indonesia sendiri.

Biasanya premanisme hanya tumbuh di Ibukota provinsi atau Negara, tapi sekarang, premanisme juga hijrah ke daerah mengikuti perkembangan system pemerintahan yang desentralisasi. Kita belum siap berdemokasi, memaknai demokrasi itu sebagai kebebasan yang tanpa batas. Masih harus belajar banyak, namun terkendala, karena panutan-panutan di Indonesia sepertinya ikut medramatisir proses pelaksanaan sebuah aturan yang seakan sengaja ikut disamarkan.

Dalam meminimalisir keluhan-keluhan terhadap penanganan pelanggaran pidana dan administrasi atau pelanggaran lainnya, misalnya dugaan terhadap mark-up suara, money politic pada pesta demokrasi yang bernama pemilukada. Mungkin perlu dipikirkan dan dipertimbangkan untuk membentuk pengadilan khusus pemilu (bersifat adhoc), ini sangat beralasan, karena hamper setiap hari di Indoensia terlaksana pemilukada, dan semua ujung-ujungnya bermasalah dan berakhir anarkis.

Berdasarkan aturan, hal hukum pemilu yang disebut dalam UU Pemilu, pelanggaran administrasi yang diselesaikan KPU berdasarkan tingkatannya, pelanggaran pidana (Bawaslu-Panwaslu-Polisi-Jaksa dan Pengadilan). Sengketa pemilu melalui Mahkamah Konstitusi (MK). Kecenderungan yang terjadi selama ini, untuk pelanggaran administrasi, KPU kadang mengabaikan dan menganggap tidak penting. Panwas merekomendasi untuk diselesaikan tapi sering KPU menyimpannya dalam laci.

Seperti pula halnya, demo pemilukada yang berakhir anarkis, atau sangat banyak menelan korban yang tidak berdosa. Perlu dicermati dan dibuatkan aturan yang sangat tegas dan dilaksanakan tanpa pandang bulu. Misalnya, setiap anarkis pemilukada yang terjadi, yang menjadi penanggungjawab utama adalah kandidat dan pemimpin tim sukses yang bersangkutan. Jangan tangkap yang berdemo, rakyat yang ikut anarkis itu, bisa jadi mereka dikatakan preman, tapi semua itu ada perintah. Mereka sebagai simpatisan itu, ikut karena sesuap nasi atau sepeser uang, yang hampir pasti tidak mengerti aturan hukum yang berlaku. Jadi polisi bila member izin demo, penanggungjawabnya adalah kandidat dan ketua tim sukses yang tercata di KPU, saat pendaftaran calon bupati/walikota atau gubernur termasuk presiden pada saat pilpres. Begitu pula pemilu untuk legislative, penanggung jawabnya adalah calon anggota legislative. Tidak ada izin demo keluar dari polri tanpa ada penanggungjawab dari komponen yang disebutkan diatas.

Harus tegas, inilah resiko pembelajaran dalam berdemokrasi yang bebas bertanggungjawab. Beri hukuman yang sangat maksimal bila mereka bersalah (harus ini, karena Indonesia belum cerdas berdemokrasi), ini merupakan salah satu solusi pembelajaran diantara sekian banyak solusi bila kita ingin menginginkan Indonesia berdemokrasi dengan sehat dan cerdas. Termasuk dalam pendaftaran calon (kandidat) bupati/walikota/gubernur, buatkan dan tandatangani fakta integritas untuk mengantisipasi premanisme yang melahirkan anakis. Ini salah satu upaya mempertahankan citra “damai” Indonesia dan mempertahankan kedaulatan NKRI.

Postingan terkait : Bersama Perangi Premanisme

asrulhoeseinBROTHER

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | | 30 August 2014 | 16:19

Makna Perjalanan Adalah Menambah Sahabat …

Ita Dk | | 30 August 2014 | 13:06

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 10 jam lalu

Masalah Sepele Tidak Sampai 2 Menit, Jogja …

Rudy Rdian | 11 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 13 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Peranku bagi Indonesia …

Wiranota Hesti | 8 jam lalu

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | 8 jam lalu

Penampilan Wadyabala Kanjuruhan dan …

Mas Ukik | 8 jam lalu

Florence Penghina Jogja Akhirnya Ditahan …

Ifani | 8 jam lalu

Kuliner Vietnam Kala Itu… …

Fillia Damai R | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: