Back to Kompasiana
Artikel

Regional

Ziah Muharam

ziah muharam 18 tahun, hanya seorang pengukir kata dalam imajinasi dan kesepian. Berharap bahwa tulisan dapat selengkapnya

Stop Pelecehan Seksual pada Wanita

OPINI | 11 September 2010 | 08:02 Dibaca: 529   Komentar: 5   1

Wanita lagi-lagi wanita. Yah mengapa harus wanita yang dijadikan korban keabnormalan lelaki jail yang melecehkan harga diri wanita secara sexual, ada apa dengan wanita sehingga wanita terus menjadi sasaran empuk lelaki yang tiak bertanggungjawab. Belakangan ini kasus pelecehan sexual terhadap wanita gencar diberitakan di beberapa media masa di Tanah Air. Wanita yang seharusnya mendapat posisi yang tinggi, yamg seharusnya dilindungi justru sering disakiti.

Menurut penilitian bahwa ada sekitar ratusan lelaki di Indonesia yang mengalami gangguan sex berlebih atau yang sering dikenal dengan Hypersexual, banyak penyebab yang mendasari mengapa lelaki cenderung memiliki gejala gangguan sexual seperti itu. Yang perlu diingat gangguan seperti itu berbeda dangan kelebihan libido, namun tulisan ini tentu tidak akan membahas mengapa kelainan ini bisa terjadi.

Entah orang gila atau orang yang seperti apa lelaki yang tega melakukan tindakan pelecehan sexual terhadap wanita. Mirisnya, tindakan ini sering terjadi pada wanita terhadap pasangannya atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Pacar. Hal yang sudah tidak tabu untuk kita dengar, tapi pahamilah ketika sex telah membumbui hubungan kita, secara tidaklangsung kita sebagai wanita adalah korban akibat ketololan diri kita sendiri. Cinta bukan sekedar sex yang membumbuinya, percaya atau tdak bahwa ketika anda sudah memulai sex di usia yang belum matang suatu saat nanti aka nada imbas yang negative dari dalam diri anda.

Masih jaman pacaran pake sex? Istilah cupang, cipokan, nyipong, coli bukanlah hal yang asing di kalangan lelaki. Sadar atau tidak sadar pada saat anda melakukan sex before married anda sedang menabung untuk penurunan harga diri anda sebagai manusia. Bukan maksud menjudge atau tidak, bahwa kembalilah buka mata hati bahwa umur kita bukan sekedar untuk sex di masa muda.

Perhatikan kasus video panas Luna-Ariel-Tari. Saat kedua wanita itu sudah sangat tegar dan besar hati mengakui bahwa itu dalah mereka, apa yang dilakukakn si lelaki? Lelakinya justru tidak mau mengakuinya. Jelas kalo sudah seperti ini siapa yang dirugukan? Ayo para wanita,buka mata hati kalian agar otak kalian mau berjalan, yang sejati itu adalah lelaki yang mau menerima kalian apa adanya, mau menjaga kalian bukan secara perlahan merusak diri kalian, dengan menjadaikan kalian alat pemuas nafsu mereka.

Jika dengan menutup aurat saja perempuan masih bisa dilecehkan maka bagaimana caranya? Ingat kucing tidak akan bertindak jika tidak dipancing, begitupula dengan lelaki. Bagi kalian yang belum menggunakan jilbab, hendaklah berpakaian sopan dan rapih. Saya teringat perkataan ayah saya bahwa beliau memang tidak mewajibkan saya menggunakan jilbab, karena jilbab butuh kesadaran dari dalam hati, yang beliau wajibkan adalah menutup lekukan tubuh yang dapat merangsang nafsu lelaki. Dimanapun kita berada, asal kita bisa menutup segala apa yang kita miliki yang biasa dijadikan obyek sex lelaki binal, Insya Allah kita bisa terhindari.

Untuk para lelaki, berpikirlah bahwa kalian memiliki seorang ibu yang juga memiliki naluri yang sama dengan semua wanita untuk menjaga kehormatannya. Memang keperjakaan kalian tidak bisa dilihat oleh semua orang, berbedada dengan wanita, tapi paling tidak pengakuan atas keperjakaan anda untuk diri sendiri jauh lebih baik.

Tulisan ini bukan untuk menyindir atau merasa saya benar, tapi tulisan ini karena saya ingin belajar menjadi orang yang benar, dan ingin mengajak semua wanita untuk berpikir cerdas bahwa sex bukan satu kunci utama dalam sebuah hubungan yang belum resmi, dan menyadarkan bahwa derajat wanita sangatlah tinggi, bukankah islam telah membela hak atas wanita untuk dimuliyakan? Lantas mengapa kita sendiri tidak ingin memuliakan diri kita ?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 5 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 6 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 6 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 12 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Definisi Administrasi dan Supervisi …

Sukasmo Kasmo | 8 jam lalu

Kabinet: Ujian Pertama Jokowi …

Hans Jait | 8 jam lalu

Kinerja Buruk PLN Suluttenggo …

Hendi Tungkagi | 8 jam lalu

Jokowi-JK Berantas Koruptor Sekaligus …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Luar Biasa, Indonesia Juara Matematika …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: