Back to Kompasiana
Artikel

Metro

Mania Telo

Mengamati kondisi sosial,politik & sejarah dari sejak tahun 1991

Kebijakan Jokowi: KJS & KJP

OPINI | 10 March 2013 | 17:36 Dibaca: 1207   Komentar: 0   3

KJS dan KJP yang kepanjangannya masing-2 adalah Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar adalah dua produk yang diluncurkan pada era pemerintahan Jokowi & Ahok di DKI Jakarta. Sayang akhir-akhir ini berita tentang KJS lebih banyak berita negatip daripada berita positipnya. Diberitakan bahwa KJS tidak mampu menolong warga Jakarta yang datang berobat di sebuah Rumah Sakit dan bahkan pasien atau keluarga yang mengantar pasien merasa “tertolak” oleh pihak Rumah Sakit ; Bahkan diberitakan para pasien yang “ditolak” tersebut akhirnya tidak tertolong lagi jiwanya.

Masyarakat awam dan politikus yang berseberangan dengan Jokowi-Ahok sejak awal kemudian menjadikan berita negatip itu sebagai sebuah senjata untuk menghakimi seolah-olah apa yang dilakukan oleh Jokowi-Ahok tidak ada gunanya atau belum menghasilkan manfaat yang besar bagi warga DKI Jakarta. Mungkin saja nanti bila ada seorang siswa yang menerima bantuan KJP “tertangkap tangan” melakukan penyelewengan dengan membelikan barang-2 konsumtif dengan uang KJP,maka dianggap KJP juga tidak bermanfaat.

Inilah resiko sebuah produk kebijakan umum yang “menggoncang” publik ,karena biasanya selalu disorot bila ada hal-2 negatip muncul akibat dampak lain dari kebijakan itu.

Seharusnya masyarakat melihat bahwa KJS itu jauh lebih besar manfaatnya daripada tidak ada KJS…! Lihat saja bagaimana akhirnya warga miskin yang sakit sekarang rajin ke dokter/rumah sakit. Lonjakan jumlah warga miskin yang berobat membuktikan bahwa kondisi kesehatan rakyat kelas bawah selama ini kurang diperhatikan oleh pemerintah. Mereka tidak bisa berobat karena tidak punya uang atau penghasilannya tidak mencukupi untuk berobat; Akhirnya kalau mereka sakit tentu saja hanya bisa pasrah atau mengobati dirinya sendiri dengan membeli obat-2an bebas yang dianggap mereka bisa menyembuhkan penyakitnya.

Kalau ada pasien yang akhirnya tidak tertolong atau meninggal dunia,sebaiknya tidak menyalahkan KJS. Sebab bisa saja memang penyakitnya sudah parah dan kondisinya tidak mungkin bisa tertolong lagi. Bukankah hal itu juga umum terjadi pada kebanyakan orang yang berduit,dimana walau dirinya kaya raya dan bisa membeli “waktu” dokter untuk mendapatkan pelayanan prioritas dan menggunakan fasilitas serta sarana peralatan kedokteran modern pun kalau memang penyakitnya tidak tertolong lagi juga akan meninggal dunia…? Janganlah suka menghakimi sebuah sistem yang baik bila yang kronis dan tidak mungkin tertolong itu karena masalah yang lain.

Justru kekurangan yang ada di KJS seperti sarana dan prasarana Rumah Sakit yang masih belum memadai dalam melayani warga miskin untuk berobat harus menjadi tantangan Pemprov DKI dan Departemen Kesehatan untuk memperbaiki dan menambah fasilitas untuk warga miskin. Biarkan saja orang kaya berobat di Rumah Sakit untuk khusus orang kaya atau di luar negeri,karena memang mereka mampu untuk itu. Bukankah pajak yang diperoleh oleh Negara seharusnya dipakai untuk mengatasi kesenjangan sosial dan memajukan rakyat Indonesia…? Pun kalau ada dokter yang mengkritik kebijakan KJS,maka bisa saja mereka merasa “terpojok” akibat kebijakan terrsebut. Sebab para dokter sekarang dibuat sibuk dengan semakin banyaknya orang miskin yang berobat,dan tentu saja kalau pasien tidak sembuh-2 bahkan tidak tertolong jiwanya akhirnya dokter / paramedisnya yang disalahkan. Semua harus berpatokan,bahwa jiwa yang tidak tertolong bukan berarti KJS tidak mampu menolong warga miskin yang sakit parah. Orang kaya pun juga tidak akan tertolong jiwanya bila sudah sakit parah. Nyawa manusia memang ditangan Tuhan,tidak peduli miskin atau kaya…!

Demikian pula dengan kebijakan KJP,sistem yang sudah dibangun oleh Jokowi-Ahok dalam menerapkan kesejahteraan anak-anak kurang mampu untuk belajar menuntut ilmu untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan patut didukung semua pihak. Kalau Indonesia mau maju di masa depan,maka SDM nya harus dipersiapkan sejak dini. Bukan sekedar wajib belajar sampai kelas 12 dengan bersekolah gratis,tetapi kesejahteraan mereka harus diperhatikan. Sekolah gratis bukanlah hal yang sulit,tetapi membuat anak-anak kurang mampu menjadi sejahtera adalah mempersiapkan mental ke arah masa depan yang lebih baik. Lihat saja pelaku-2 teror di Indonesia ,kehidupan masa lalunya dikisahkan tidak sejahtera …Mereka dulunya juga “hanya” sekolah gratis ,tetapi sayangnya kehidupan mereka kurang sejahtera.

Banyak calon Gubernur atau Gubernur di Indonesia bangga bisa membuat anak-2 mereka di daerahnya bisa sekolah gratis atau menjanjikan sekolah gratis hingga kelas 12. Tetapi mereka lupa bahwa masa depan seorang anak bukan bagaimana mereka bisa sekolah gratis saja,tetapi bagaimana mereka bisa merasakan kesejahteraan. Langkah Jokowi dengan KJP adalah langkah terobosan yang mengembalikan uang rakyat kepada rakyat….! Kalau kemudian ada seorang siswa yang mendapatkan KJP akhirnya menjadi pelaku kriminal,maka bukan berarti KJP nya yang salah,tetapi memang oknum itu bermoral bejad walau dirinya sejahtera di masa lalunya. Bukankah banyak juga orang-2 kaya yang bermoral bejad dan kriminal,walau dirinya sudah sejahtera…? Persoalan itu akhirnya kembali kepada persoalan “hitam-putih” manusia di dunia.

Oleh karena itu,mari kita tetap optimis dengan KJS dan KJP untuk mensejahterakan warga miskin di ibukota RI. Semboyannya “Siapa menabur banyak,maka dia akan menuai banyak….” dan Jokowi-Ahok diharapkan akan menuai hasilnya di kemudian hari….! Tetap semangat…!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Sebenarnya, Berapa Sih Jumlah Caleg Gagal di …

Politik 14 | | 23 April 2014 | 14:46

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Salah Kasih Uang, Teller Bank Menangis di …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Hotman Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 20 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 22 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 22 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: