Back to Kompasiana
Artikel

Metro

Rumitnya Urusan Menambah Nama di Paspor untuk Umroh

HL | 06 December 2012 | 21:39 Dibaca: 5909   Komentar: 0   3

1354817437595844690

Ilustrasi/ Admin (shutterstock)

Peraturan baru untuk jamaah indonesia yang akan pergi umroh ke Mekah Arab Saudi (saya tidak tahu apakah berlaku juga untuk urusan haji dan lainnya) mengenai keharusan mempunyai nama dengan “tiga suku kata” menjadi masalah tersendiri bagi umat islam. Mertua saya berencana untuk berangkat umroh bulan ini. Beliau sudah memiliki paspor namun namanya masih satu suku kata, sebutlah “Khadijah”, oleh karenanya beliau harus menambahkan nama ayah beliau atau suami dibelakang nama beliau.

Sebelumnya dengan ditemani adik ipar saya yang bungsu beliau pergi mengurusnya ke kantor Imigrasi Tanjung Pinang. Setelah melakukan pendaftaran untuk penambahan nama, satu setengah jam menunggu tibalah giliran beliau dipanggil. Rupanya ada masalah dengan nama ayah beliau, dimana nama ayah di surat nikah berbeda dengan di Kartu Keluarga. Mertua saya baru tahu itu karena beliau menikah pada tahun 1965, dikartu nikah beliau ternyata  di kolom nama ayah  adalah nama paman beliau karena paman beliau yang menikahkan. Sedang di Kartu Keluarga di kolom ayah adalah nama ayah beliau sendiri.

Pegawai Migrasi menolak pengajuan penambahan nama beliau dengan menggunakan nama ayah beliau. Beliau diharuskan mengganti nama ayah di Kartu Keluarga sesuai dengan di surat nikah. Ketika diurus ke kecamatan ternyata proses perubahan tersebut sangat lama bisa lebih dari sebulan. Kemudian diuruslah ke Kantor Urusan Agama (KUA) setempat agar memberikan surat keterangan bahwasanya nama ayah beliau adalah sesuai dengan yaang tertera di Kartu Keluarga (KK).

Beliau yang sudah berusia 60-an pergilah menyewa taksi  ke kantor Imigrasi karena jaraknya lumayan jauh dari rumah ditemani adik ipar bungsu saya. Ternyata pegawai imigrasinya tetap menolak pengajuan penambahan nama tersebut walau sudah berbekal surat keterangan dari KUA.  Pegawai Migrasipun tidak ada memberikan solusi apa-apa mengenai jalan keluarnya. Tetap kukuh harus ganti nama di KK  dan disesuaikan dengan di surat nikah walau itu bukan nama ayah beliau.

Beliaupun menangis, kecewa terancam gagal umroh. Apalagi sudah capek dua kali bolak balik ke  kantor Imigrasi. Sewa taksi saja sudah habis Rp. 500.000,- selama dua kali bolak balik. Beliaupun sudah mencoba meminta bantu calo, tapi tidak ada yang mau karena sudah beliau sudah mengurusnya sendiri sedari awal.

Akhirnya beliau menghubungi kami. Kami sedikit kesal kenapa tidak memberitahu dari awal, memang kami pun tidak ada menanyakan perihal umroh beliau karena beliau sudah punya paspor. Kami kira semua aman-aman saja. Alasan beliau karena takut menganggu saya apalagi istri baru saja melahirkan, juga kan ada adik ipar. Akhirnya kamipun pergi lah bersama-sama ke kantor imigrasi kembali.

Di kantor Imigrasi saya tanyakan permasalahannya. Setelah dijelaskan oleh pegawainya, saya pun memberi saran bagaimana kalau penambahan namanya menggunakan nama suami beliau saja sesuai dengan dikartu nikah karena setelah saya telpon teman yang pernah mengurus penambahan nama orangtuanya  bisa seperti itu. Namun pegawainya tetap saja bersikukuh bilang tidak bisa.

Tidak puas dengan jawaban tersebut. Sayapun berinisiatif  menghadap langsung ke kepala kantor imigrasinya dan menjelaskan duduk perkaranya serta memohon bantuan beliau atas dasar kemanusiaan dan kelancaran  ibadah orangtua kami. Kepala kantor imigrasinya ternyata tidak mempersoalkan dan bisa menggunakan nama suami dari mertua yang kebetulan ada dua kata “Muhammad Ilham”, jadilah nama beliau “Khadijah Muhammad Ilham”. Kepala kantor  Migrasi tersebut  juga meminta maaf atas kekurangnyamanan pelayanan dari pegawai beliau. Beliau mengatakan bahwa Tiga hari lagi sudah bisa paspor nya diambil, beliau juga menjelaskan bahwa nantinya hanya ada penambahan selembar kertas dengan nama baru tersebut nantinya di paspor lama mertua.

Kami pun lega. Cuma satu yang saya kecewakan mengapa pegawai migrasi mempersulit urusan orang yang jelas tujuannya untuk pergi umroh beribadah. Padahal diaturannya setelah search di google jelas bahwa penambahan nama boleh menggunakan nama ayah atau suami. Kepala kantornya pun mengatakan hal yang sama. Lalu apa mereka (pegawai migrasinya) tidak tahu itu? Padahal jelas itu adalah bidang kerja mereka. Jadi apa tujuan mereka sebenarnya?  Hmm….

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 17 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 17 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 18 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

MEA 2015; Bahaya Besar bagi Indonesia …

Choerunnisa Rumaria | 8 jam lalu

Bersenang-Senang dengan Buku …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Depok …

Syaiful W. Harahap | 9 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: