Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Erwin Alwazir

Ketika Kebencian "menggurita" di Kepala Seseorang, Maka Hilanglah Objektifitasnya

Resolusi PBB : China Abstain, Rusia Makin Terjepit

HL | 17 March 2014 | 01:32    Dibaca: 2425   Komentar: 17   11

Dewan Keamanan PBB (REUTERS/Keith Bedford)

Dewan Keamanan PBB (REUTERS/Keith Bedford)

Resolusi DK PBB yang menyangkut referendum sepihak di Krimea mentah di tengah jalan. Rusia dengan tegas menolak Resolusi yang disponsori AS dan sekutunya.  China yang menjadi sekutu Rusia dalam semua urusan menyatakan abstain. Alhasil keputusan China tersebut menjadi kemenangan moral bagi AS dan sekutunya yang menolak campur tangan Rusia terhadap urusan dalam negeri Ukraina. Dalam tubuh DK keamanan PBB, pilihan abstain sekutu suatu negara, adalah kemenangan moral bagi seteru mereka.

Keputusan China untuk abstain nampaknya sudah dipertimbangkan dengan sangat serius. China memaklumi keputusan itu dapat menyebabkan hubungannya dengan Rusia sedikit “terganggu”. Tetapi jika China mengikuti Rusia dengan memveto resolusi tersebut, sama saja China memberi peluang munculnya referendum sepihak lain dinegaranya mengikuti jejak krimea yang jelas-jelas merupakan bagian tak terpisahkan dari Ukraina.

Dikaitkan dengan keutuhan negaranya, Sikap China dari awal jelas tidak akan menyetujui resolusi DK PBB. Dalam hal ini China tak mungkin berterus-terang. Dukungan yang frontal mendorong pihak luar datang mengobok-obok kedaulatan China suatu hari nanti. Banyak kawasan di China yang siap “diledakkan” oleh AS dan sekutunya lewat jalur referendum atau pemberontakan. Hongkong yang menjadi bagian dari China dengan prinsip satu negara dua sistem dapat saja memaksakan referendum sepihak dengan bantuan Inggris dan sekutunya. Begitu juga dengan Tibet yang menuntut negara sendiri sejak beberapa dekade. Belum lagi kawasan  propinsi mayoritas muslim, Xinjiang, yang terus bergejolak menuntut kemerdekaan.

Bervariasinya “bom waktu” yang tersimpan tersebut, adalah wajar jika China tidak akan berpihak pada Rusia menyangkut kemelut di Krimea. Resikonya sangat besar. Sebesar resiko Australia jika berani memberikan dukungan pada separatis di Papua. Balasannya bisa saja pemerintah kita mendukung perjuangan rakyat Aborigin untuk memiliki negara sendiri di atas tanah moyang  mereka.

Dengan abstainnya China, AS selaku musuh ideologis Rusia nampaknya akan memainkan kartu lain. Termasuk memelihara wacana yang didengungkan oleh sekutunya untuk mengeluarkan Rusia dari keanggotaan G8. Sebaliknya Putin bisa saja memainkan isu Suriah. Dukungan AS terhadap kelompok perlawanan akan dijadikan dalih bahwa sebuah negara berhak intervensi apabila kepentingan negaranya terganggu. Dengan memainkan isu Suriah dan kawasan bergejolak lainnya yang ditandai dengan kehadiran AS, Rusia berusaha melepaskan diri dari jepitan AS dan NATO pasca menduanya sikap China.

Bacaan : Antaranews.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Syifa Annisa, Mahasiswi Penderita Glukoma …

Pepih Nugraha | | 29 May 2015 | 18:48

Noken yang Mendunia …

Ignas Ona | | 29 May 2015 | 14:30

Warga Tanakeke Mencoba Berdaya di Tangan …

Mustam Arif | | 29 May 2015 | 16:01

Padang Mangateh, New Zealand-nya Ranah …

Akbarmuhibar | | 30 May 2015 | 02:17

“Jempolan!” Siswa SMK Yayasan …

Asep Rizal | | 29 May 2015 | 22:25


TRENDING ARTICLES

Gagal Jadi Mualaf …

Yo | 17 jam lalu

Managerial Meeting Berlangsung Alot, Timnas …

Af Yanda | 19 jam lalu

Nasib Pelapor Beras Plastik …

Pical Gadi | 19 jam lalu

Petral Ternyata Tidak Berdosa, Bukan Sarang …

Asaaro Lahagu | 19 jam lalu

Gambar Cibiran terhadap FIFA Meramaikan …

Ardiansyah | 20 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: