Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Hidayat Doe

Lahir di Kamaru, Buton. Alumnus Ilmu Hubungan Internasional Unhas.Bolimo Karo Sumanamo Lipu (Indonesia).

“Perang Dingin” Jepang-China

OPINI | 20 January 2013 | 06:13 Dibaca: 2469   Komentar: 0   0

Tesis kaum globalis ataupun hiper globalis yang mengklaim bahwa tatanan dunia akan diwarnai kerjasama ekonomi dan isu militer akan tenggelam karenanya tampaknya tidak berlaku di kawasan Asia Timur. Isu militer rupanya masih sangat kencang di kawasan itu. Meskipun diakui, ekonomi adalah sektor yang paling maju di wilayah tersebut. Tetapi isu militerisme semakin panas di Asia Timur.

Kalau melihat peta politik kawasan, hampir semua negara di Asia Timur mengalami ketegangan dengan tetangganya, Korea Utara versus Korea Selatan, Jepang versus China. Keempat Negara masing-masing sedang dibayangi konflik.

Yang saat ini sedang bergejolak adalah Jepang dan China. Konflik China dan Jepang memang bukan baru belakangan ini terjadi, setelah sengketa kepulauan Senkaku (disebut oleh Jepang), Diaoyu (oleh China) terjadi. Jauh sebelum itu jika diurut ke belakang pada masa Perang Dunia Kedua, hubungan Jepang dan China pernah mengalami masa suram.

Bagi China, masa lalu itu amat menyakitkan. Ratusan ribu orang di China dibantai habis-habisan oleh tentara militer Jepang. Kekejaman militer Jepang kala itu memang sangat menyakitkan orang China. Sejarah kelam inilah yang rupanya masih tersimpan di memori kolektik pemerintahan komunis China sekarang.

China seolah masih menyimpan dendam sejarah pada Jepang. Buktinya, setiap ada seorang perdana menteri Jepang yang hendak berkunjung ke kuil Yasukuni, tempat abu prajurit Jepang yang gugur dalam Perang Dunia II, China baik pemerintah maupun orang-orang China sendiri mengecam tindakan tersebut. Fenomena anti-jepang rupanya masih sangat mengakar di China.

Hubungan Jepang dan China kembali memanas dan mendapatkan momentumnya ketika kepulauan Senkaku/Diaoyu dipertentangkan oleh keduanya. Baik Jepang maupun China mengklaim status kepemilikan pulau tersebut sebagai wilayah kedaulatannya. Sengketa ini memicu ketegangan militer diantara keduanya.

Pada pekan lalu, misalnya, Jepang-China sempat sama-sama mengirimkan pesawat tempurnya ke wilayah sengketa. Tindakan tersebut makin memperkuat hubungan konflik keduanya. Situasi ini mirip dengan “Perang Dingin.” Perang yang tidak digelar secara langsung (nyata) tetapi menghantui hubungan kedua negara.

Untuk mengantisipasi sikap agresivitas dan kekuatan militer China, Jepang mulai mengembangkan kekuatan militernya. Jepang yang dulunya tertutup soal militer karena terikat dengan konstitusi agar tidak membangun kekuatan militer, mulai menunjukkan diri ke permukaan.

Pada hari Selasa lalu (15/1), Jepang dan Amerika menggelar latihan perang udara di perairan Pasifik lepas pantai Pulau Shikoku. Latihan tersebut melibatkan empat pesawat tempur F-4 Jepang dan enam pesawat tempur F/A-18 milik Amerika. Latihan militer ini juga melibatkan 90 personel militer Amerika.

Selain berlatih militer dengan AS, Jepang juga menggelar latihan sendiri oleh Pasukan Bela Diri Darat Jepang di pangkalan Garnisun Narashino dekat Tokyo, pada hari sebelum menggelar latihan bersama dengan AS. Pasukan tersebut menggelar latihan dengan skenario “merebut kembali sebuah pulau yang diinvasi oleh pasukan musuh”. Latihan ini melibatkan 300 tentara, 20 pesawat tempur, dan lebih dari 30 kendaraan tempur.

Latihan tembak-menembak tersebut dengan jelas menunjukkan pada dunia bahwa Jepang sedang mempersenjatai diri (defensif) dalam rangka menghadapi agresivitas China. Bagi Jepang, keamanan dan pertahanan nasional tidak bisa selamanya digantungkan pada AS. Jepang sudah saatnya memiliki system keamanan dan pertahanan nasional sendiri, yang selama beberapa dekade paska Perang Dunia II dibawah kekuatan pertahanan militer AS.

Langkah peningkatan kekuatan militer Jepang kian jelas setelah PM Shinzo Abe yang baru saja melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada Jumat kemarin (18/1), berencana menambah alokasi anggaran militernya sebesar 210 miliar yen. Penambahan anggaran pertahanan itu merupakan kali yang pertama selama satu dekade ini.

Hanya saja bagi beberapa kalangan peningkatan kemampuan militer Jepang dipandang semacam sinyal menuju jalan militerisme Jepang. Tuduhan atau spekulasi seperti itu tampaknya tidak mungkin dan tidak berdasar. Jepang pasca Perang Dunia II bukanlah Negara yang seagresif dulu yang militeristik. Sikap Jepang sesungguhnya hanya merespon tantangan kawasan yang kian mengkhawatirkan. Baik China maupun Korea Utara yang sama-sama menjadi ancaman sudah berkali-kali menggelar latihan perang atau parade militer. Situasi itu tentu membuat gregetan. Sehingga peningkatan kemampuan militer adalah langkah yang rasional.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 5 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 8 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 8 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: