Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Joko Purnomo

Ungkapkan gagasanmu demi kemajuan bangsa dan negara

Daur Ulang Sampah:Belajar dari Negeri Sakura

REP | 27 February 2011 | 03:41 Dibaca: 735   Komentar: 0   0

129855731518461528112985571763261777081298557620402739931

Selama ini, kita mengenal sampah hanya sebagai barang akhir yang tidak berguna. Sampah juga bisa menjadi persolan tersendiri bagi beberapa kota besar di Indonesia, bahkan masalah sampah ini telah menjadi salah satu persolan penting bagi Pemda DKI Jakarta. Sampai sekarang, sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Jakarta hanya dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di wilayah Bantar Gebang. Padahal, dengan kedisiplinan yang tinggi dan bantuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), sampah bisa diolah lebih lanjut menjadi barang yang berguna.

Salah satu kota di Jepang yang telah sukses mendaur ulang sampah adalah Kota Yokohama, 29 kilo meter selatan Tokyo. Dengan penduduk mencapai 3,67 juta jiwa, masalah sampah juga menjadi salah satu persoalan penting bagi kota ini. Kota pelabuhan yang bertetangga dengan Tokyo ini memiliki 5 tempat pengolahan sampah: Kanazawa, Tsurumi, Asahi, Hokubu dan Hodogaya. Tetapi saat ini hanya 4 tempat saja yang aktif, karena salah satu tempat pengolahan yang terletak di wilayah Hodogaya, telah ditutup dikarenakan volume sampah yang harus diolah oleh TPA di Yokohama telah menurun, pertanda bahwa penduduk pun telah ikut mengurangi volume sampah berdasarkan kesadaran mereka sendiri.

Tahun 2003, pada saat walikota Yokohama dijabat oleh Hiroshi Nakada, yang bersangkutan mencanangkan “Yokohama G30”, yaitu program untuk menekan volume sampah sebesar 30% pada tahun 2010. Untuk menyukseskan program penanganan sampah tersebut, pemerintah kota Yokohama melakukan beberapa kegiatan seperti: memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pemilahan jenis sampah, memberikan sanksi yang tegas dari peringatan sampai dengan denda, pemilahan yang teliti sebelum daur ulang serta mengangkat seorang “duta sampah” yang bertugas untuk mempromosikan demi suksesnya program Yokohama G30.

Penyuluhan kepada segenap lapisan masyarakat ini tidak sekedar dilakukan dalam forum formal antara pemerintah kota dengan beberapa kelompok msayarakat semata, tetapi . juga diikuti aksi nyata di mana saat masyarakat membuang sampah di pagi hari, para petugas penyuluh ikut mendampingi dan memberikan contoh pemilahan sampah.                                                               Hampir semua kota di Jepang sudah mengatur bahwa membuang sampah paling lambat jam 8 pagi, sehingga setelah sampah sudah diangkut oleh truk, warga tidak diperkenankan untuk membuang sampah. Selain itu sampah dipilah-pilah menjadi beberapa kategori. Pemerintah Yokohama sendiri, memilah sampah menjadi 10 kategori yang dimulai dari sampah dapur, sampah kaleng botol plastik yang dapat didaur ulang (yang ditandai dengan tulisan PET), botol kaca, kaleng, dll. Selain itu, dalam membuang sampah, warga diharuskan menggunakan kantong plastik transparan agar terlihat jenis sampahnya.

Tidak semua sampah diangkut setiap hari. Ada hari-hari tertentu di mana sampah jenis tertentu diangkut oleh truk sampah. Sampah tersebut seperti barang-barang elektronik bekas, kardus atau sampah kertas. Apabila warga tetap membuang sampah bukan pada hari yang ditentukan, maka sampah tersebut tidak akan diangkut dan warga tersebut akan diberikan peringatan. Jika hal ini dilakukan berulang-ulang maka warga yang bersangkutan akan dikenakan denda sebesar Y 2,000(setara dengan Rp 200.000 dengan kurs 1 Y~Rp 100). Denda ini berlaku juga untuk warga yang tidak memilah sampahnya, dan setelah diberikan peringatan tetap tidak mengindahkannya.

Selain aksi tersebut diatas, pemerintah Yokohama juga mengangkat seorang duta yang bertugas untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah. Duta sampah ini memberikan penyuluhan kepada warga dengan tampil di tempat-tempat umum serta beberapa ajang pertemuan antara warga dan pemerintah Yokohama. Dengan aksi nyata yang terpadu serta terus-menerus diharapkan target pengurangan sampah sebesar 30% dapat dicapai di tahun 2010. Dengan kerja keras tersebut, ternyata pada tahun 2009 pemerintah Yokohama telah berhasil menekan volume sampah menjadi sebesar 42%, jauh melampaui target semula 30%.  Selain itu, sampah yang dihasilkan oleh warga Yokohama bisa didaur ulang dan menjadi barang-barang yang berguna seperti: kertas daur ulang, botol daur ulang baik plastic ataupun kaca, dll. Selain itu, hasil daur ulang lainnya antara lain material yang menyerupai aspal yang bisa dipergunakan untuk pelapisan jalan, serta abu hasil pembakaran yang bisa dipergunakan untuk pengurugan lahan ataupun reklamasi pantai.

Salah satu pabrik pengolahan sampah di daerah Kanazawa, Yokohama, mampu mengolah sampah dengan volume 400 ton per hari. Pabrik yang terletak di kawasan industri ini, dibangun pada tahun 1995 dan baru selesai pada tahun 2001 ini memiliki luas areal sebesar 7 hektar. Total biaya pembangunan pabrik ini mencapai Y 62,6 milliar (setara dengan 6 triliun dengan kurs Rp 100/yen). Hampir semua proses penanganan sampah dilakukan oleh robot dan sudah terkomputerisasi, sehingga petugas hanya berada di ruang kendali dan mengawasi melalui layar monitor. Untuk bagian awal penyortiran sampah, tenaga manusia masih diperlukan untuk memilah jenis sampah dengan benar, sebelum diproses lebih lanjut.

Dengan pengalaman dan kesuksesan kota Yokohama dalam menangani sampah, ada baiknya jika Pemda DKI khususnya dan pemerintah daerah lainnya di Indonesia dapat mengambil beberapa poin penting untuk penanganan sampah. Sudah saatnya pemerintah daerah menyerukan kepada warga masyarakat untuk memilah sampah sesuai dengan kategori yang ditetapkan pemda. Selain itu pabrik pengolahan sampah yang dahulu sempat dibangun dan menjadi masalah, segera dicarikan solusinya dengan menampung aspirasi warga sekitar yang masih keberatan dengan keberadaan pabrik tersebut. Jika titik temu sudah didapat, maka pemda akan dapat menangani smpah dengan lebih baik, walaupun dengan pabrik yang tidak semodern yang dimiliki pemerintah Jepang. Bahkan dengan disiplin, kemauan yang keras serta teknologi sampah yang tidak ada artinya bisa kita olah menjadi sesuatu yang berguna.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59



Subscribe and Follow Kompasiana: