Back to Kompasiana
Artikel

Luar Negeri

Andika

hanya orang biasa, bukan siapa siapa juga

Harga Jual Bensin 95 di Malaysia Cuma Rp.4.995,00

HL | 16 December 2010 | 22:59 Dibaca: 787   Komentar: 18   1

Ramai ramai harga jual bensin akan naik di tanah air dan penghapusan subsidi BBM menambah kehawatiran saya nanti waktu akan balik ke Jakarta. Sudah macet dimana mana harga bensin naik. Lewat Jalan Kalimalang macet panjang, lewat tol padat dari rumah di Jatiwaringin ketempat kerja disekitar Monas.

12925514801507453172

Ilustrasi/Admin (shutterstock)

Sudah merasakan lancarnya jalan lebih dari 3 tahun ini di Kuala Lumpur, walaupun Kuala Lumpur dari tahun 2007 sampai sekarang sudah beda jauh, macetnya sudah kemana mana juga. Sebentar lagi mungkin akan sama masalahnya dengan Jakarta.

Harga jual bensin di Brunei sudah saya share di sini, juga harga jual bensin di ArabSaudi yang sangat murah sekali, dengan uang 20 real bisa bulak balik Mekkah - Jeddah dengan mobil besar, kata Mas Maryono sopir pribadi orang arab di Jeddah. Murah sekali.

Bagaimana dengan harga jual bensin di Malaysia?

Di Malaysia harga bahan api orang sini menyebut BBM, sejak 16 Juli 2010 lalu dinaikkan pemerintah sebanyak 5 sen sahaja, untuk mengurangi subsidi jelas Perdana Menteri Najib Razak waktu itu, harga jual bensin 95 dari RM.1,80 menjadi RM.1.85 sedangkan harga jual bensin 97 diapungkan mengikuti harga pasar, naik ikut naik-turun ikut turun.

Jika 1 ringgit malaysia sekarang bisa ditukar menjadi Rp.2700 (kurang lebihnya), maka harga jual bensin 95 di Malaysia akan menjadi RM.1.85 x Rp.2.700 adalah Rp. 4.995,00 pak, kata anak saya sewaktu saya minta dia menghitungnya, hanya kurang lebih 5000 rupiah-lah seliternya. Cuma kadarnya kan 95.

Saya lupa harga jual bensin di Indonesia sekarang berapa, infonya nanti tahun depan yang sebentar lagi, sudah tidak ada subsidi atau kendaraan plat hitam tidak boleh lagi menggunakan bensin bersubsidi…….salah saya ya?

Wah bagaimana ini pulang nanti ke Jakarta, bakalan repot setengah mati ni, sudah macetnya dimana mana ditambah bensin mahal, pembaca ada saran enggak ne untuk saya, karena rencananya tahun depan saya akan pulang ke Jakarta, habis masa kontraknya.

Ditunggu masukannya ya dan terimakasih sebelum memberikan masukan.

Salam

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 4 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 5 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 10 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 11 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: